Seorang ibu memeluk anaknya (additudemag.com)
Emosi dapat terjadi dalam split second dan penyesalannya seumur hidup. Jadi, bagaimana cara mengaturnya? Fathya memberikan empat langkah berikut:
- Mengatur napas dengan teknik 4-7-8 (ambil napas 4 detik, tahan 7 detik, buang 8 detik)
- Minum air putih
- Mengubah posisi (dari berdiri ke duduk atau sebaliknya) agar ada pengalihan di otak
- Mengambil jeda waktu untuk mengenali emosi yang beragam
- Mencium wewangian yang menenangkan untuk memberikan sinyal relaksasi ke otak, seperti essential oil murni untuk:
- Relaksasi: Lavender dan chamomile
- Penambah semangat: Jeruk, lemon, dan jahe
- Melegakan pernapasan: Eukaliptus, kayu putih, dan tea tree
Perlu dicatat, langkah-langkah ini ditujukan untuk mengatur emosi secara cepat dalam jangka pendek. Fathya menambahkan kalau latihan dan perawatan diri (self-care) amat penting dalam jangka panjang.
Ibu memeluk putrinya. (unicef.org)
Jadi, ambil waktu sejenak dan jangan respons emosi anak saat itu juga! Selain itu, Fathya juga mengutip riset bahwa di masa pandemi ini, orangtua pun jadi lebih cepat stres akibat pandemi COVID-19 dan WFH. Oleh karena itu, pengendalian diri pun lebih ditantang. Jika orangtua bisa mengontrol emosi, maka akan "tertular" pada sang anak.
Namun, bagaimana jika sudah keburu meluapkan emosi? Sering kali emosi yang diluapkan dengan tidak bijak dapat melukai hati sang anak. Apakah ada cara terbaik untuk rekonsiliasi? Ada, dong!
Fathya mengibaratkan membesarkan anak seperti membesarkan orang dewasa. Jadi, datanglah kepada sang anak, lalu minta maaf dengan sungguh-sungguh. Jangan lupa untuk menjelaskan sebab musabab dari luapan emosi tersebut lalu rekonsiliasi dengan mereka.