ilustrasi belanja minuman kemasan (pexels.com/Tianwang Xiao)
Secara umum, maltodekstrin merupakan bahan tambahan makanan (aditif) yang aman dikonsumsi menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Meski dihasilkan dari bahan-bahan alami, maltodekstrin merupakan jenis karbohidrat yang dihasilkan dari proses pengolahan tinggi. Karbohidrat ini mudah sekali dipecah di dalam tubuh. Ini bisa memberikan energi dengan cepat, tetapi juga mudah meningkatkan kadar gula darah.
Masih dari laman Healthline, 1 gram maltodekstrin mengandung 4 kalori, jumlah kalori yang sama dengan gula pasir (sukrosa). Selain itu, maltodekstrin juga memiliki indeks glikemik tinggi: 110. Jumlah ini lebih tinggi dari gula pasir. Inilah yang membuat konsumsi maltodekstrin harus diwaspadai, terutama bagi orang yang sedang diet rendah gula, resistensi insulin, atau memiliki risiko diabetes.
Tak hanya itu, menurut beberapa studi, seperti salah satunya yang dimuat dalam jurnal Cellular and Molecular Gastroenterology and Hepatology pada 2018, maltodekstrin juga dapat menyebabkan gangguan inflamasi kronis pada usus. Gangguan ini bisa memicu terjadinya penyakit radang usus (penyakit Crohn) dan sindrom metabolik.
Dalam jurnal PLOS One pada 2012, konsumsi maltodekstrin juga bisa menyebabkan perubahan komposisi bakteri usus yang signifikan. Ini bisa menekan pertumbuhan probiotik (bakteri baik) dalam sistem pencernaan dan mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh. Selain itu, maltodekstrin juga dapat meningkatkan pembentukan biofilm Escherichia coli dalam usus yang juga terkait dengan penyakit Crohn.
Risiko lainnya yang juga perlu diwaspadai dari konsumsi maltodekstrin ialah bahan baku pembuatan maltodekstrin yang mungkin berasal dari bahan hasil rekayasa genetik alias genetically modified organism (GMO). Jagung hasil GMO merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam pembuatan maltodekstrin karena harganya yang lebih murah dari bahan non-GMO lainnya. Seperti yang kita ketahui, produk hasil GMO ini memiliki potensi risiko kesehatan jangka panjang, seperti menyebabkan alergi, resistensi antibiotik, masalah reproduksi, hingga kanker.
Referensi
“Crohn's Disease-Associated Adherent-Invasive Escherichia coli Adhesion Is Enhanced by Exposure to the Ubiquitous Dietary Polysaccharide Maltodextrin”. PLOS ONE. Diakses Maret 2026.
“Is Maltodextrin Bad for Me?”. Healthline. Diakses Maret 2026.
“Is Maltodextrin Good or Bad for You?”. Verywell Health. Diakses Maret 2026.
“Maltodextrin, Modern Stressor of the Intestinal Environment”. National Library of Medicine. Diakses Maret 2026.
“What Is Maltodextrin and Is It Safe?”. Medical News Today. Diakses Maret 2026.
“What Is Maltodextrin?”. WebMD. Diakses Maret 2026.