Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tanda Kue Lebaran Sudah Tak Layak Konsumsi, Jangan Lanjut Makan!

Tanda Kue Lebaran Sudah Tak Layak Konsumsi, Jangan Lanjut Makan!
ilustrasi kue Lebaran (unsplash.com/Jason Leung)
Intinya Sih
  • Kue sudah tidak layak dimakan jika muncul jamur atau bintik aneh.

  • Bau tengik atau apak menandakan kualitas kue sudah menurun.

  • Perubahan tekstur dan rasa jadi tanda kue sebaiknya tidak dikonsumsi lagi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dua minggu setelah Lebaran, kue kering di rumah sering kali masih belum habis. Bahkan, ada yang tetap disimpan hingga berbulan-bulan karena sayang untuk dibuang. Sekilas, tampilannya mungkin masih terlihat normal dan menggugah selera sehingga banyak orang mengira kue tersebut masih aman untuk dikonsumsi.

Namun, tidak semua kue Lebaran yang terlihat baik-baik saja masih aman untuk dimakan. Perubahan kecil yang sering diabaikan justru bisa menjadi tanda bahwa kue sudah tidak layak makan. Lalu, apa saja tanda-tandanya? Yuk, cari tahu di bawah ini!

1. Muncul jamur atau bintik aneh

ilustrasi jamur yang tumbuh pada makanan
ilustrasi jamur yang tumbuh pada makanan (unsplash.com/nine koepfer)

Munculnya jamur atau bintik aneh pada kue Lebaran jadi tanda paling jelas bahwa makanan sudah tak layak untuk dikonsumsi. Jamur biasanya terlihat seperti bercak putih, hijau, atau hitam di permukaan kue. Meski terlihat sedikit, keberadaannya tidak bisa dianggap sepele.

Mengutip dari Food Safety Institute, jamur pada makanan dapat menghasilkan zat beracun bernama mikotoksin yang berbahaya bagi kesehatan. Racun ini bahkan bisa menyebar ke bagian yang tidak terlihat dan tidak selalu hilang meski bagian yang berjamur sudah dibuang. Karena itu, jika kue sudah menunjukkan tanda-tanda jamur atau bintik mencurigakan, sebaiknya jangan dikonsumsi sama sekali.

2. Bau tengik atau apak

ilustrasi kue kering
ilustrasi kue kering (pixabay.com/NickyPe)

Bau tengik atau apak juga menjadi tanda bahwa kue Lebaran sudah tak boleh dimakan lagi. Aroma ini biasanya muncul pada kue yang mengandung lemak, seperti mentega atau margarin, dan disimpan terlalu lama. Sekilas mungkin tampilannya masih terlihat normal, tapi perubahan bau jadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan.

Berdasarkan studi yang terbit dalam Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition pada 2010, bau tengik terjadi akibat proses oksidasi lemak selama penyimpanan. Proses ini menghasilkan senyawa yang memicu munculnya bau dan rasa tidak normal pada makanan. Oleh sebab itu, jika kue sudah berbau tengik atau apak, sebaiknya jangan dikonsumsi lagi.

3. Tekstur dan rasa berubah

ilustrasi kue Lebaran
ilustrasi kue Lebaran (unsplash.com/Lee Milo)

Perubahan tekstur dan rasa juga bisa jadi tanda bahwa kue Lebaran sudah tidak layak dikonsumsi. Kue yang awalnya renyah bisa menjadi lembek atau sebaliknya menjadi terlalu keras dan mudah hancur. Perubahan ini sering kali disertai dengan rasa yang tidak lagi enak seperti sebelumnya.

Dalam ilmu pangan, kondisi ini dikenal sebagai proses staling atau penuaan yang umum terjadi pada produk berbahan dasar tepung dan mentega. Mengutip dari Britannica, staling menyebabkan perubahan pada tekstur, seperti kehilangan kelembutan dan elastisitas serta penurunan kualitas rasa. Karena itu, jika tekstur dan rasa kue sudah berubah signifikan, sebaiknya tidak dikonsumsi lagi.

Tak bisa dimungkiri, sebagian orang kerap menyimpan kue Lebaran selama berbulan-bulan lantaran tampilannya yang masih bagus dan menggugah selera. Padahal, perubahan kecil yang tidak terlihat jelas bisa menandakan kualitas kue sudah menurun dan tidak lagi aman dikonsumsi. Jadi, untuk menghindari segala risiko tertentu, sebaiknya cek dulu kondisi kue sebelum lanjut dikonsumsi.

Referensi
“Mold, Foodborne Diseases, and Mycotoxins”. Food Safety Institute. Diakses April 2026.
“Quality maintenance”. Britannica. Diakses April 2026.
“Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition”. ScienceDirect. Diakses April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Health

See More
Apakah Bisul Bisa Menular?

Apakah Bisul Bisa Menular?

08 Apr 2026, 07:48 WIBHealth