Selain tidak ada studi berbasis buktinya, Dr. Tan mengatakan bahwa seharusnya oralit tidak dikonsumsi saat situasi tubuh normal. Ini karena ada risiko kelebihan gula (hiperglikemia) dan garam (hipernatremia) jika konsumsi oralit berlebihan, terutama untuk mereka yang memiliki komorbiditas, seperti pasien diabetes.
"Ada tambahan bobot [gula] ... Hipernatremia bikin jadi lebih mudah haus dan beban untuk ginjal hingga merasa mual ... Puasa malah jadi tidak nyaman," tutur Dr. Tan.
Hipernatremia membuat lebih cepat haus karena sifat natrium yang menarik cairan. Selain itu, natrium membuat beban kerja ginjal bertambah sehingga pemekatannya memicu rasa mual. Di samping itu, kelebihan gula bisa menambah kadar gula dalam darah, kondisi yang berbahaya untuk pasien pradiabetes dan diabetes.
ilustrasi buka puasa (pexels.com/Monstera)
Selain itu, tren memborong oralit ini menjadi masalah sosial tersendiri. Berkilas balik ke tren hoarding saat awal pandemi COVID-19, semua orang memburu apa yang dipromosikan (oleh figur publik dan tokoh kesehatan). Dokter Tan memperingatkan ini justru bisa merugikan pasien dehidrasi akut yang benar-benar butuh oralit.
Menurutnya, Isi Piringku sudah memenuhi kebutuhan gizi, termasuk gula dan garam, sehingga tak perlu lagi mencari oralit sebagai gantinya. Selain itu, Dr. Tan menekankan bahwa air putih lebih ampuh melegakan dahaga setelah puasa dibanding minuman berperisa.
"Sesuatu yang cukup lebih baik dibanding berlebihan," pungkas Dr. Tan.