- Gangguan bipolar: sekitar 36 juta orang, termasuk 3,3 juta remaja usia 10–19 tahun.
- Skizofrenia: sekitar 27 juta orang, atau kira-kira 1 dari 300 orang di dunia. Orang dengan skizofrenia rata-rata meninggal sembilan tahun lebih awal daripada populasi umum.
- Gangguan makan: sekitar 18 juta orang, termasuk 4,7 juta anak dan remaja.
- Gangguan perilaku disosial (conduct-dissocial disorder): sekitar 39 juta anak dan remaja.
1 dari 7 Orang di Dunia Hidup dengan Gangguan Mental

WHO memperkirakan hampir 1,2 miliar orang, atau 1 dari 7 penduduk dunia, hidup dengan gangguan mental pada 2023; gangguan cemas dan depresi paling umum.
Di Indonesia, 34,9 persen remaja usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir, tetapi hanya 2,6 persen mengakses dukungan atau konseling.
Kesenjangan layanan masih besar: hanya 27,6 persen penderita gangguan cemas mendapat perawatan global, sementara di Indonesia 12,7 persen orang dengan depresi menerima pengobatan.
Hampir setiap orang pernah merasa cemas, sedih, kecewa, atau kehilangan semangat. Itu adalah bagian dari pengalaman manusia. Hari yang berat, masalah di sekolah atau pekerjaan, konflik dengan orang terdekat, atau kabar yang tidak menyenangkan dapat memengaruhi perasaan.
Namun, perasaan-perasaan tersebut tidak selalu menandakan gangguan mental. Gangguan mental melibatkan perubahan pada cara berpikir, mengelola emosi, atau berperilaku yang cukup berat sampai akhirnya menimbulkan penderitaan atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Table of Content
Hampir 1,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental
Dalam estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk 2023, sekitar 1,2 miliar orang, atau hampir 1 dari 7 orang di dunia, hidup dengan gangguan mental. Gangguan cemas dan depresi merupakan jenis yang paling umum.
Gangguan cemas dialami sekitar 470 juta orang
WHO memperkirakan 470 juta orang mengalami gangguan cemas pada 2023—sekitar 5,8 persen populasi dunia. Jumlah itu mencakup sekitar 146 juta anak dan remaja.
Rasa cemas sesekali merupakan pengalaman manusiawi. Namun, gangguan cemas berbeda, yang dapat meliputi rasa takut atau kekhawatiran berlebihan, berlangsung lama, sulit dikendalikan, dan mengganggu kegiatan sehari-hari.
Meski perawatan tersedia, hanya sekitar 27,6 persen orang yang membutuhkan penanganan gangguan cemas mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Depresi memengaruhi sekitar 322 juta orang

ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama) Diperkirakan 322 juta orang hidup dengan depresi pada 2023.
Angka ini setara dengan sekitar 4 persen populasi dunia; di kalangan orang dewasa, estimasinya 5,2 persen.
Angka pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, masing-masing 6,2 persen dan 4,1 persen.
Sekitar 43 juta anak dan remaja juga diperkirakan mengalami depresi.
Depresi berbeda dari perubahan suasana hati yang biasa muncul saat menghadapi masalah sehari-hari. Kondisi ini melibatkan suasana hati yang menurun atau hilangnya minat terhadap kegiatan dalam jangka waktu tertentu, disertai gejala lain yang dapat mengganggu fungsi seseorang.
Gangguan lain juga berdampak pada jutaan orang
Data WHO untuk 2023 menunjukkan besarnya beberapa gangguan mental lain:
Satu orang dapat mengalami lebih dari satu gangguan.
Sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan mental
WHO memperkirakan 14,3 persen, atau sekitar 1 dari 7 orang usia 10–19 tahun, mengalami gangguan mental. Kondisi-kondisi ini menyumbang sekitar 15 persen beban penyakit pada kelompok usia tersebut.
Berikut angka-angkanya berdasarkan jenis gangguan dan kelompok umur:
Jenis gangguan
Usia 10–14 tahun
Usia 15–19 tahun
Gangguan cemas
4,1 persen
5,3 persen
Depresi
1,3 persen
3,4 persen
ADHD
2,7 persen
2,2 persen
Gangguan perilaku
3,3 persen
1,8 persen
Gangguan makan
0,1 persen
0,4 persen
Banyak remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental

ilustrasi remaja berkumpul bersama teman-teman (pexels.com/ Ron Lach) Survei nasional I-NAMHS menemukan bahwa sekitar 34,9 persen remaja usia 10-17 tahun, atau sekitar 15,5 juta orang, mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Dalam survei yang sama, sekitar 5,5 persen remaja atau 2,45 juta orang memenuhi kriteria setidaknya satu gangguan mental. Gangguan cemas menjadi yang paling sering ditemukan (3,7 persen), diikuti depresi mayor (1 persen), gangguan perilaku (0,9 persen), serta PTSD dan ADHD (masing-masing 0,5 persen).
Data ini menunjukkan bahwa banyak remaja menghadapi kesulitan emosional atau psikologis, meski tidak semuanya memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental. Sayangnya, hanya 2,6 persen remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling dalam setahun terakhir.
Dengan kata lain, masih ada jarak yang besar antara jumlah remaja yang membutuhkan bantuan dan mereka yang benar-benar mendapatkan dukungan.
Anak muda menjadi kelompok rentan
Dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 1,4 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas tercatat mengalami depresi. Angka ini paling tinggi pada kelompok usia 15-24 tahun, yaitu 2 persen.
SKI juga melakukan skrining untuk mendeteksi kemungkinan adanya masalah kesehatan jiwa. Hasilnya, sekitar 2 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas masuk dalam kategori tersebut.
Namun, skrining hanya menunjukkan siapa yang mungkin perlu penilaian lebih lanjut. Karena metode dan tujuan pengukurannya berbeda, angka ini tidak bisa dibandingkan langsung dengan angka depresi.
Survei yang sama juga mencatat bahwa sekitar 3 dari setiap 1.000 rumah tangga memiliki anggota keluarga dengan psikosis atau skizofrenia.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental ada di berbagai kelompok usia, tetapi remaja dan dewasa muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Banyak yang butuh bantuan namun belum mendapatkannya
Perawatan untuk masalah kesehatan mental sebenarnya tersedia. Namun, banyak orang yang membutuhkannya masih belum mendapatkan bantuan.
Di tingkat global, WHO memperkirakan hanya sekitar 27,6 persen orang dengan gangguan cemas yang menerima perawatan. Pada depresi, jumlahnya hanya sekitar sepertiga, sedangkan pada psikosis sekitar 40 persen.
Gambaran serupa juga terlihat di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebut bahwa dari sekitar 3 juta orang yang hidup dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi masih belum terjangkau layanan kesehatan yang mereka butuhkan.
Data ini menunjukkan bahwa tantangan kesehatan mental tidak hanya soal mengenali gejala atau mendapatkan diagnosis. Bagi banyak orang, tantangan berikutnya adalah memperoleh bantuan dan perawatan yang tepat saat dibutuhkan.
Bunuh diri adalah dampak terkait
WHO memperkirakan sekitar 727 ribu orang meninggal akibat bunuh diri pada tahun 2021, dan bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15-29 tahun.
Namun, bunuh diri tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor. Menurut WHO, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk faktor sosial, psikologis, biologis, dan lingkungan.
Referensi
World Health Organization, “Mental Disorders,” diakses 10 Oktober 2026.
World Health Organization, “Anxiety Disorders,” diakses 10 Oktober 2026.
World Health Organization, “Depressive Disorder (Depression),” diakses 10 Oktober 2026.
World Health Organization, “Mental Health of Adolescents,” diakses 10 Oktober 2026.
Center for Reproductive Health, University of Gadjah Mada, University of Queensland, and Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Report (Yogyakarta: Center for Reproductive Health, 2022).
Holly E. Erskine et al., “Prevalence of Adolescent Mental Disorders in Kenya, Indonesia, and Viet Nam Measured by the National Adolescent Mental Health Surveys (NAMHS): A Multinational Cross-Sectional Study,” The Lancet 403, no. 10437 (2024): 1671–80, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)02641-7.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Laporan Tematik Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023: Potret Kesehatan Indonesia" (Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Tabel 5.6: Prevalensi Masalah Kesehatan Jiwa dalam Satu Bulan Terakhir pada Penduduk Umur ≥15 Tahun,” Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Kemenkes: 9 dari 10 Orang dengan Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan,” diakses 10 Oktober 2026.
World Health Organization, “Suicide,” diakses 10 Oktober 2026.
















![[QUIZ] Dari Posisi Duduk Saat Kerja, Kami Tebak Risiko Kesehatan Kmu](https://image.idntimes.com/post/20221024/pexels-thirdman-7181187-7dc273c135a9419c4df8c9f0f777a2c3-e5503d0b87e14b9fdd9a21a54fd5462b.jpg)






