Comscore Tracker

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Gangguan mental akibat peristiwa traumatis di masa lalu

Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah kondisi gangguan mental yang dipicu oleh peristiwa traumatis, baik yang pernah dialami atau menyaksikannya secara langsung.

Beberapa contoh peristiwa traumatis termasuk bencana alam, kecelakaan, peperangan, cedera serius, mengalami kekerasan seksual, dan sebagainya. PTSD bisa dialami semua orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Menurut laporan dalam jurnal PLOS Medicine tahun 2020, dituliskan kalau PTSD merupakan penyumbang besar beban penyakit global dan diperkirakan memengaruhi hampir 4 persen populasi dunia. Kemungkinan perempuan dua kali lipat lebih mungkin mengembangkan PTSD ketimbang laki-laki.

1. Apa itu PTSD?

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi seseorang dengan PTSD (pexels.com/RODNAE Productions)

Dilansir MedlinePlus, PTSD adalah gangguan kesehatan mental yang dialami beberapa orang setelah mereka mengalami atau melihat peristiwa traumatis, misalnya peperangan, bencana alam, kecelakaan mobil, atau kekerasan seksual. Namun, kadang peristiwa tersebut tidak selalu berbahaya. Kematian orang yang dicintai secara tiba-tiba dan tidak terduga juga bisa menyebabkan PTSD.

Merasa takut selama dan setelah mengalami atau menyaksikan situasi traumatis adalah hal yang normal. Ketakutan memicu respons "fight-or-flight". Ini adalah cara tubuh kita melindungi diri dari potensi bahaya. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan dalam tubuh seperti pelepasan hormon tertentu dan peningkatan kewaspadaan, tekanan darah, detak jantung, dan pernapasan.

Seiring waktu, kebanyakan orang akan pulih dari kondisi tersebut secara alami. Akan tetapi, orang-orang dengan PTSD tidak akan merasa lebih baik. Mereka bisa merasa stres dan ketakutan dalam waktu lama setelah trauma berakhir. Pada beberapa kasus, gejala PTSD mungkin muncul di kemudian hari atau gejala datang dan pergi seiring waktu.

2. Penyebab dan faktor risiko

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi PTSD (unsplash.com/ Karl Fredrickson)

Trauma dapat menyebabkan perubahan pada otak. Sebagai contoh, sebuah penelitian dalam jurnal Biological Psychiatry tahun 2018 menunjukkan bahwa orang dengan PTSD memiliki hipokampus atau area otak yang terlibat dalam memori dan emosi yang lebih kecil.

Meski begitu, belum diketahui secara pasti apakah memiliki volume hipokampus yang lebih kecil terjadi sebelum trauma, atau apakah trauma yang dialami menyebabkan penurunan volume hipokampus.

Penelitian lebih lanjut dibutuhkan dalam masalah ini. Orang dengan PTSD mungkin juga memiliki tingkat hormon stres yang tidak normal.

Setiap orang bereaksi terhadap peristiwa traumatis secara berbeda. Setiap orang punya kemampuan unik dalam mengelola rasa takut, stres, dan ancaman yang ditimbulkan oleh peristiwa atau situasi traumatis. Inilah kenapa tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami PTSD. Juga, jenis bantuan dan dukungan yang diterima dan orang-orang sekitar dan profesional setelah mengalami trauma dapat memengaruhi perkembangan PTSD dan keparahan gejala.

Pada dasarnya siapa pun yang pernah mengalami peristiwa traumatis dapat mengembangkan PTSD. Mengalami pelecehan pada masa kanak-kanak atau berulang kali mengalami situasi yang mengancam nyawa berisiko mengembangkan PTSD. Korban trauma yang berhubungan dengan kekerasan fisik dan seksual menghadapi risiko terbesar untuk PTSD, mengutip WebMD.

Seseorang lebih mungkin untuk mengembangkan PTSD pasca peristiwa traumatis bila memiliki riwayat kesehatan mental lainnya, punya anggota keluarga dengan masalah kesehatan mental, atau memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol atau narkoba.

3. Gejala

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi PTSD (unsplash.com/Usman Yousaf)

Ada empat jenis gejala PTSD, tetapi mungkin tidak sama untuk semua orang. Setiap orang mengalami gejala dengan caranya sendiri. Jenis-jenis gejalanya antara lain:

Mengingat kembali kejadian traumatis

Ini terjadi ketika sesuatu mengingatkan penderitanya pada trauma dan merasakan lagi ketakutan tersebut. Contoh gejalanya antara lain:

  • Kilas balik, yang membuat seseorang merasa seperti mengalami peristiwa itu lagi
  • Mimpi buruk
  • Pikiran yang menakutkan

Penghindaran

Ini merupakan gejala saat seseorang mencoba menghindari situasi atau hal-hal yang memicu ingatan tentang peristiwa traumatis. Ini dapat membuat seseorang:

  • Menjauhi tempat, peristiwa, atau benda yang mengingatkan akan pengalaman traumatis. Misalnya, bila pernah mengalami kecelakaan mobil, seseorang mungkin akan berhenti mengemudi mobil.
  • Menghindari pikiran atau perasaan yang berhubungan dengan peristiwa traumatis. Misalnya, seseorang akan lebih menyibukkan dirinya untuk mengalihkan pikiran.

Gejala gairah dan reaktivitas

Ini membuat seseorang merasa gelisah atau waspada terhadap bahaya atau ancaman. Contohnya adalah:

  • Mudah terkejut
  • Merasa tegang
  • Susah tidur
  • Memiliki ledakan kemarahan

Gejala kognisi dan suasana hati

Ini merupakan perubahan negatif dalam keyakinan dan perasaan. Gejalanya bisa termasuk:

  • Kesulitan mengingat hal-hal penting tentang peristiwa traumatis
  • Pikiran negatif tentang diri sendiri atau dunia
  • Merasa bersalah dan bersalah
  • Tidak lagi tertarik pada hal-hal yang Anda nikmati
  • Kesulitan berkonsentrasi

Gejala biasanya mulai segera setelah peristiwa traumatis. Namun, kadang gejala tidak muncul sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Gejala juga mungkin bisa datang dan pergi selama bertahun-tahun.

Apabila gejala bertahan lebih dari 4 minggu, membuat seseorang merasa sangat tertekan, atau mengganggu pekerjaan atau kehidupan, mungkin itu adalah PTSD.

PTSD dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Anak-anak dengan PTSD memiliki gejala yang mirip dengan orang dewasa, seperti sulit tidur dan mimpi buruk. 

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak dengan PTSD juga mungkin kehilangan minat pada aktivitas yang biasa mereka nikmati, dan mungkin memiliki gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut. 

Gejala lain yang mungkin terjadi meliputi sulit menghindari hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa traumatis, atau bahkan mengalami kilas balik berulang saat mereka bermain.

Baca Juga: Kenali 8 Tanda Post Traumatic Stress Disorder agar Kamu Lebih Peka

4. Apakah PTSD bisa dicegah?

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi peristiwa traumatis (unsplash.com/Parker Coffman)

Sayangnya, tidak ada cara untuk mencegah peristiwa traumatis yang berujung pada PTSD. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari kilas balik dan gejala lainnya. 

Dukungan yang kuat dari orang-orang yang dipercaya adalah salah satu cara yang dapat membantu mencegah terjadinya PTSD. Misalnya dukungan dari pasangan, sahabat, keluarga, dan/atau ahli kejiwaan seperti psikolog atau psikiater.

5. Gangguan mental lain yang terkait dengan PTSD

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi PTSD (pexels.com/Anna Shvets)

Berdasarkan keterangan dari National Alliance on Mental Illness (NAMI), seseorang dengan PTSD mungkin mengalami gangguan tambahan seperti gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif atau OCD, gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder, depresi, dan gangguan penyalahgunaan zat adiktif.

Kondisi-kondisi di atas bisa membuat penanganan PTSD menjadi lebih sulit atau bahkan memperburuk kondisi pasien.

Demikianlah penjelasan tentang PTSD, gangguan mental akibat peristiwa traumatis masa lalu. Bila kamu mengalami gejalanya, sebaiknya minta bantuan ahli kejiwaan seperti psikolog atau psikiater untuk diagnosis dan segera mendapat penanganan yang tepat. Pasalnya, bila gejala dibiarkan, aktivitas akan terganggu, buruk untuk kesehatan mental, serta membuat hidup jadi tidak bahagia. 

6. Diagnosis

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi terapi dengan psikolog atau psikiater (pexels.com/Alex Green)

Untuk mendiagnosis gangguan stres pascatrauma, dokter kemungkinan akan:

  • Melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa masalah medis yang mungkin menyebabkan gejala.
  • Melakukan evaluasi psikologis yang mencakup diskusi tentang tanda dan gejala dan peristiwa, atau peristiwa yang menyebabkan gejala yang mengarah ke PTSD.
  • Menggunakan kriteria dalam panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Diagnosis PTSD memerlukan paparan peristiwa yang melibatkan ancaman kematian, kekerasan, atau cedera serius yang aktual, disaksikan, atau hampir terjadi. Paparan dapat terjadi dalam satu atau beberapa cara berikut:

  • Mengalami peristiwa traumatis secara langsung.
  • Menyaksikan peristiwa traumatis yang dialami orang lain secara langsung.
  • Mengetahui bahwa orang terdekat mengalami atau terancam oleh peristiwa traumatis.
  • Berulang kali dihadapkan pada gambaran detail dari peristiwa traumatis (misalnya pada orang yang pekerjaannya adalah first responder, yaitu penolong yang pertama tiba di tempat kejadian serta punya keahlian perawatan gawat darurat medik).

Seseorang mungkin mengalami PTSD jika masalah yang setelah paparan di atas berlanjut selama lebih dari sebulan dan menyebabkan masalah signifikan dalam kemampuan untuk berfungsi dalam lingkungan sosial dan pekerjaan, serta berdampak negatif pada hubungan orang tersebut.

7. Pengobatan

PTSD: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi psikoterapi untuk PTSD (societyforpsychotherapy.org)

Penanganan utama untuk PTSD adalah terapi bicara, obat-obatan, atau kombinasi keduanya. PTSD memengaruhi setiap orang dengan cara berbeda-beda, sehingga perawatan antara pasien satu dengan pasien lainnya mungkin tidak sama.

Bila kamu terdiagnosis PTSD, kamu harus bekerja sama dengan ahli kesehatan mental untuk merancang pengobatan terbaik untuk gejala yang dirasakan.

  • Terapi bicara atau psikoterapi: yang mana membuat pasien lebih memahami tentang gejala yang dirasakan. Pasien akan belajar untuk mengidentifikasi apa yang memicu gejala dan bagaimana mengelolanya. Terdapat beberapa tipe terapi bicara untuk PTSD.

  • Obat-obatan: untuk membantu gejala PTSD. Antidepresan mungkin dapat mengontrol gejala seperti kesedihan, kekhawatiran, amarah, dan mati rasa secara emosional. Mungkin juga dibutuhkan obat-obatan untuk membantu gangguan tidur dan mimpi buruk.

Bila PTSD tidak ditangani dengan benar, kondisi ini bisa meningkatkan risiko depresi, kecemasan, serta pikiran hingga tindakan bunuh diri.

Beberapa orang dengan PTSD beralih ke obat-obatan dan alkohol untuk mengatasi gejala mereka. Memang metode ini untuk sementara bisa meredakan perasaan negatif, tetapi ini tidak mengobati penyebab yang mendasarinya. Bahkan, ini dapat memperburuk gejala.

Pada pasien PTSD yang menggunakan substansi tertentu untuk mengelola gejalanya, terapis biasanya akan merekomendasikan program untuk mengurangi ketergantungan pada obat-obatan maupun alkohol.

Bila kamu punya PTSD, pengobatan dini dapat membantu meredakan gejala. Pengobatan juga termasuk merencanakan strategi efektif untuk mengatasi pikiran, ingatan, dan kilas balik yang mengganggu.

Lewat terapi, kelompok pendukung, serta obat-obatan, diharapkan pasien bisa pulih dengan baik. Selalu ingat bahwa kamu tidak sendirian. Selalu ada dukungan bila kamu mencari dan membutuhkannya.

Baca Juga: 8 Manfaat Berdiam Diri untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Aisya Kusumawati Photo Verified Writer Aisya Kusumawati

Hope you enjoy the article and find some helpful things alongside the reading <3

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya