Comscore Tracker

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari Alzheimer

Dampak COVID-19 pada otak bisa lebih buruk

Sudah lebih dari dua tahun dunia masih berjibaku melawan pandemik COVID-19. Bisa berbeda-beda pada tiap orang, gejala COVID-19 bisa berkisar dari ringan, sedang, hingga berat yang butuh dirawat inap dan bahkan bisa berujung pada hilangnya nyawa.

Tidak hanya pernapasan, infeksi virus corona SARS-CoV-2 ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi di berbagai organ tubuh. Salah satunya adalah pada otak. Sebuah penelitian terkini mengungkapkan bagaimana parahnya komplikasi otak pada pasien COVID-19.

1. Studi membandingkan kondisi neurologis pasien COVID-19

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari Alzheimerilustrasi seorang pasien COVID-19. (ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica)

Dalam sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Alzheimer’s and Dementia pada 13 Januari 2022 lalu, para peneliti dari NYU Grossman School of Medicine, Amerika Serikat (AS), mengadakan sebuah studi mengenai apakah pasien COVID-19 yang mengalami komplikasi neurologis saat rawat inap memiliki kadar biomarker penanda kerusakan otak di dalam darahnya.

"Dalam studi ini, kami tertarik meneliti biomarker ini, karena biomarker ini adalah yang diteliti untuk memantau perkembangan patologi terkait penyakit Alzheimer dan gangguan neurodegeneratif lainnya," ujar salah satu peneliti sekaligus direktur Alzheimer’s Disease Research Center dan Center for Cognitive Neurology di NYU, Thomas Wisniewski.

Penelitian ini meneliti serum para pasien COVID-19 yang terdaftar dalam Study of Neurologic and Psychiatric Events in Acute COVID-19 (SNaP Acute COVID-19). Dokter Wisniewski menjelaskan bahwa penelitian ini mengesampingkan pasien yang memiliki riwayat gangguan kognitif, demensia, atau gangguan kognitif ringan.

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari AlzheimerSeorang pasien COVID-19 meletakkan kedua tangan di kepalanya. (ANTARA FOTO/REUTERS/Baz Ratner)

SNaP Acute COVID-19 adalah studi yang mencakup 4.491 pasien di empat rumah sakit di New York City, AS, dari 10 Maret—20 Mei 2020. Sesuai namanya, studi ini mengevaluasi perkembangan insiden neurologis pada pasien rawat inap COVID-19 parah.

Penelitian ini meneliti total 412 partisipan dengan usia rata-rata 71 tahun. Para partisipan terbagi menjadi:

  • Sebanyak 215 pasien COVID-19
  • Sebanyak 161 pasien non-COVID-19

2. Apa yang diukur?

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari Alzheimerilustrasi sakit kepala (unsplash.com/Usman Yousaf)

Para peneliti menggunakan metode pengujian yang amat sensitif untuk mengukur biomarker dalam darah para partisipan. Dari penelitian tersebut, ada enam biomarker yang dipantau, yaitu:

  • Total Tau dan pTau181: Penanda kerusakan neuron/sel saraf yang makin meningkat seiring perkembangan Alzheimer. Protein tau menyebabkan komunikasi antara sel otak terhambat.

  • Ubiquitin C-terminal hydrolase L1 (UCHL1): Enzim yang mengurai protein di sel otak. Cedera otak atau gangguan neurodegeneratif menyebabkan kadar UCHL1 meningkat.

  • Glial fibrilliary acidic protein (GFAP): Menandakan kerusakan sel glial, sel yang memelihara kesehatan sel otak dan sawar darah otak (yang bertanggung jawab menyaring senyawa racun).

  • Neurofilament light chain (NfL): Ukuran kerusakan akson pada neuron berselubung mielin. Akson adalah bagian konduktor neuron yang mengantarkan sinyal listrik, dan mielin adalah selubung isolator yang mengelilingi neuron.

  • Amyloid-β (Aβ) 40 dan 42: Protein yang menumpuk dan menyebabkan pembentukan plak amiloid yang mengganggu fungsi dan komunikasi antara sel otak.

  • Rasio pTau181 banding Aβ42: Gejala awal penyakit Alzheimer.

Para peneliti membandingkan biomarker antara serum kelompok kontrol dengan fungsi kognitif normal, gangguan kognitif ringan, serta penyakit Alzheimer, dan serum pasien COVID-19 yang dirawat inap dan temuan neurologis terbaru lainnya.

Baca Juga: Benarkah Infeksi Virus Corona Sebabkan Kerusakan Jaringan Otak? 

3. Hasil: biomarker gangguan neurologis terlihat tinggi pada pasien COVID-19

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari Alzheimerilustrasi pasien COVID-19 (ANTARA FOTO/REUTERS/Ronen Zvulun)

Para peneliti menemukan bahwa komplikasi neurologis yang paling umum adalah ensefalopati metabolik toksik (TME) dan cedera otak akibat berkurangnya oksigen atau aliran darah. TME ditemukan pada 63 persen partisipan, sedangkan cedera otak ditemukan pada 46 persen partisipan.

Keganasan COVID-19 berbanding lurus dengan total kadar Tau, pTau181, dan NfL. Kadar GFAP dan pTau181/Aβ-42 dikaitkan dengan peningkatan risiko mortalitas saat rawat inap pada pasien COVID-19. Selain itu, peningkatan total kadar Tau, NfL, dan GFAP berarti berkurangnya harapan dipulangkan dari rumah sakit.

Para pasien COVID-19 yang mengalami gangguan neurologis baru selama rawat inap memiliki total kadar Tau, pTau181, NfL, dan UCHL1. Jumlah tertinggi terlihat pada pasien dengan TME. Pasien COVID-19 memiliki kadar NfL 179 persen lebih tinggi, GFAP 73 persen lebih tinggi, dan UCHL1 13 persen lebih tinggi daripada kelompok Alzheimer.

"Kami memantau para pasien COVID-19 selama satu setengah tahun dan terlihat disfungsi kognitif yang persisten pada lebih dari 50 persen pasien. Oleh karena itu, penting untuk menindaklanjuti insiden ini," ucap Dr. Wisniewski.

4. Butuh penelitian lebih mendalam

Kerusakan Otak pada COVID-19 Lebih Parah dari Alzheimerilustrasi pasien COVID-19 isolasi mandiri (boonehospital.com)

Dokter Wisniewski mengatakan bahwa peningkatan kadar tujuh biomarker tersebut menandakan risiko neurodegenerasi, kematian neuron, dan gliosis yang lebih besar.

"Dengan terlihatnya neurodegenerasi, neuroinflamasi, dan kenaikan biomarker Alzheimer, ini berhubungan dengan adanya gangguan neurologis dan keparahan infeksi sekaligus akibatnya," kata Dr. Wisniewski kepada Medical News Today

Salah satu kelemahan utama dari studi tersebut adalah hanya memantau pasien COVID-19 yang dirawat inap. Oleh karena itu, belum diketahui apakah risiko yang sama berlaku untuk pasien COVID-19 bergejala ringan hingga asimtomatik.

"Mungkin, temuan biomarker ini memperlihatkan peningkatan risiko gangguan neudrodegeneratif pada populasi ini," tandas Dr. Wisniewski.

Baca Juga: Studi: Sel T Bendung Gejala Parah COVID-19 Varian Omicron

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya