Comscore Tracker

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantung

Kita harus mampu untuk mengelola stres dengan lebih baik

Saat kita menghadapi tekanan, baik fisik atau mental, respons pertama tubuh adalah stres. Salah satu dampaknya adalah pelepasan berbagai hormon yang meningkatkan tingkat energi dan membantu tubuh bereaksi pada situasi mendesak tersebut.

Stres yang berlebihan atau terlalu tinggi dapat menyebabkan pelepasan hormon-hormon secara berlebihan sehingga memengaruhi tubuh. Penelitian terbaru memperlihatkan risiko stres jangka panjang pada risiko kesehatan kardiovaskular dan hipertensi.

1. Hormon stres berguna ala kadarnya, mematikan jika berlebihan

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi stres (pexels.com/Kelly Lacy)

Saat berada dalam situasi stres, tubuh biasanya melibatkan banyak hormon stres, terutama hormon kortisol. Selain kortisol, tubuh juga memproduksi kelompok hormon stres lainnya katekolamin seperti dopamin, epinefrin (adrenalin), dan norepinefrin (noradrenalin).

Adrenalin dan noradrenalin amat penting dalam respons fight-or-flight alami tubuh saat menghadapi ancaman dan bahaya. Kedua hormon ini berfungsi untuk:

  • Menyempitkan pembuluh darah untuk menjaga tekanan darah
  • Meningkatkan detak dan kekuatan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh
  • Mengendurkan otot-otot saluran napas
  • Mengontrol metabolisme glukosa

Jika stres, tubuh biasanya memproduksi hormon-hormon stres ini dalam kadar tinggi. Hormon-hormon tersebut bisa berguna dalam jangka pendek. Namun, stres yang berkepanjangan atau kronis bisa menyebabkan hormon-hormon tersebut tak terkendali dan mengganggu kesehatan.

2. Penelitian melibatkan partisipan tanpa riwayat hipertensi atau penyakit kardiovaskular

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi pria mengalami stres (pexels.com/Alex Green)

Tim peneliti Amerika Serikat (AS) dari University of California, Los Angeles (UCLA) ingin mencari tahu kaitan tingkat hormon stres dan tingkat risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi dan gangguan kardiovaskular lainnya.

Bertajuk "Urinary Stress Hormones, Hypertension, and Cardiovascular Events", penelitian yang dimuat dalam jurnal Hypertension yang terbit pada 13 September 2021 ini melibatkan 412 partisipan dewasa hingga lansia berusia 48-87 tahun. Para partisipan tidak memiliki riwayat hipertensi.

Pada awal penelitian, para peneliti menganalisis kadar adrenalin, noradrenalin, dopamin, dan kortisol melalui sampel urine selama 12 jam.

Baca Juga: Bisa Bantu Obati Hipertensi, Tambahkan 10 Rempah Ini ke dalam Masakan

3. Hasil: hormon stres dalam urine berarti risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular tinggi

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi kardiovaskular (emedicinehealth.com)

Para peneliti UCLA memantau para partisipan selama 6,5 tahun dan menemukan 48,8 persen partisipan mengembangkan gejala hipertensi. Selama 11,2 tahun, sebanyak 5,8 persen partisipan mengalami kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit pembuluh darah perifer. 

Setelah diteliti, para peneliti mengungkapkan bahwa kadar hormon stres tinggi pada urine ternyata berkaitan dengan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular yang lebih besar. Kaitan ini lebih nyata pada individu yang berusia dewasa muda dibandingkan kelompok lansia.

Selain itu, para peneliti UCLA menemukan bahwa kadar kortisol pada urine yang dua kali lipat lebih tinggi dikatakan berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang juga lebih tinggi. Namun, tak ada kaitan antara tingkat katekolamin tinggi dengan penyakit kardiovaskular.

4. Kekurangan dari penelitian tersebut

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi tekanan pikiran dan stres (pexels.com/Claudia Barbosa)

Dalam menelaah studi ini, para peneliti mengakui kalau ada beberapa kekurangan. Pertama, karena urine dikumpulkan selama 12 jam, kemungkinan besar ada kesalahan dalam pengumpulan spesimen.

Selain itu, para peneliti memperingatkan kemungkinan bias sampel dan faktor-faktor lainnya, seperti metode analisis dan bahwa para peneliti tidak membedakan penyebab hipertensi pada para partisipan. Oleh karena itu, para peneliti UCLA ingin penelitian masa depan untuk:

  • Melanjutkan penelitian jangka panjang yang memantau hormon stres dalam urine dan memasukkan ukuran sampel yang lebih besar
  • Melakukan penelitian yang melakukan beberapa pengukuran kadar hormon stres dalam urine
  • Melakukan studi yang menjelaskan penyebab hipertensi
  • Memastikan studi di masa depan mencantumkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hasil studi terhadap hormon stres, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular

5. Pentingnya faktor psikis terhadap hipertensi dan penyakit kardiovaskular

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi yoga (pexels.com/Cliff Booth)

American Heart Association (AHA) mencatat kalau stres kronis memang dapat menyebabkan hipertensi. Konsekuensinya, risiko terkena penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke pun lebih besar.

Selain itu, AHA mengatakan bahwa saat stres, orang-orang sering kali memiliki sistem coping yang tidak sehat, sehingga makin memperbesar risiko gangguan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, AHA menyarankan kita untuk mampu mengelola stres dengan baik demi meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantungilustrasi aromaterapi (pexels.com/Pixabay)

Mewawancarai profesor psikiatri di UCLA, Helen Lavretsky, MD, MS, AHA mencatatkan beberapa poin penting untuk mengurangi stres.

"Menyingkirkan stres dan ketakutan dengan memilih kegiatan yang memicu kebahagiaan dan mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif. Luangkan waktu dalam sehari untuk memanjatkan rasa syukur atas keadaanmu saat ini," ujar Helen lewat sebuah video yang diunggah AHA di akun resmi Facebook-nya.

Helen juga menambahkan kalau teknik pernapasan juga membantu. Hanya dengan latihan napas 3-5 menit per hari, tekanan darah dan detak jantung pun lebih relaks. Selain itu, mencium aromaterapi, pijat, dan aktivitas seperti yoga atau taici juga dapat membantu menghilangkan stres.

Eskalasi Hormon Stres Naikkan Risiko Hipertensi dan Penyakit JantungBernapas lega (pixabay.com/alfcermed)

Hasil penelitian UCLA menekankan betapa pentingnya stres psikologis untuk kesehatan dan pencegahan komplikasi jangka panjang. Bukan cuma hipertensi, tingkat stres yang terlalu tinggi juga memperbesar risiko kita terkena penyakit kardiovaskular di masa depan. Malah, kaum dewasa muda bisa lebih terdampak.

Oleh karena itu, ayo mulai sayangi diri dari sekarang dengan cara melatih kemampuan untuk mengelola stres dengan lebih baik. Selain itu, jangan lupa untuk tetap menjaga pola hidup tetap sehat agar terhindar dari risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular!

Baca Juga: 6 Teknik Yoga untuk Mengatasi Stres, Simpel Tak Perlu Keluar Rumah

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya