Comscore Tracker

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19

Siaga satu untuk kamu yang merokok dan nge-vape!

Sudah lebih dari setengah tahun dan dunia masih berjibaku melawan pandemik COVID-19, penyakit yang diakibatkan oleh virus corona strain baru, SARS-CoV-2. Berbagai penelitian mengenal hal-hal seputar penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 16 juta populasi dunia ini masih gencar dilakukan.

Salah satu temuan terbaru adalah penyakit stroke akibat COVID-19 yang menghantui pasien dengan riwayat merokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik atau vape.

Kamu yang perokok wajib menyimak penjelasannya berikut ini.

1. Neurolog: COVID-19 juga serang sistem saraf

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19pixabay.com

Dilansir dari laman Medical News Today, para neurolog dari Inggris merilis sebuah studi berjudul "The emerging spectrum of COVID-19 neurology", yang dimuat dalam jurnal "Brain" bulan Juli 2020. Lewat studi tersebut, para ahli saraf menemukan bahwa COVID-19 tidak hanya menyerang sistem pernapasan, juga sistem saraf.

Ada studi berjudul "Incidence of thrombotic complications in critically ill ICU patients with COVID-19" yang diterbitkan dalam jurnal yang juga terbit bulan ini, yaitu "Thrombosis Research". Studi tersebut menemukan bahwa lebih dari 30 persen pasien COVID-19 tipe kronis mengalami trombosis (pembekuan darah) yang menyumbat pembuluh darah.

Studi tersebut memberi peringatan bahwa jika sampai trombosis dialami di otak, maka bisa terjadi ensefalopati (kelainan atau disfungsi otak) dengan delirium, radang otak, kerusakan saraf, hingga stroke.

2. Rokok memudahkan virus COVID-19 menyumbat pembuluh darah

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19unsplash.com/CDC

Bulan Mei lalu, ilmuwan dari Texas, Amerika Serikat (AS), merilis penelitian berjudul "Cerebrovascular and Neurological Dysfunction under the Threat of COVID-19" yang dimuat dalam jurnal "International Journal of Molecular Sciences" yang terbit bulan lalu. Fokus penelitian adalah efek rokok dan vape terhadap pasien COVID-19.

Temuannya, meskipun pada awalnya pandemik dikaitkan dengan penyebab gangguan paru-paru dan pernapasan akut, studi kasus belakangan ini melaporkan hubungan antara stroke dan gangguan neurologis pada pasien COVID-19.

Layaknya efek domino, para ilmuwan Texas tersebut mengingatkan bahwa merokok, baik konvensional atau elektrik, dapat menyebabkan kerusakan pada sawar darah otak (SDO), membran pada otak yang memfilter virus dan substansi patogen dalam darah. Akibatnya, virus SARS-CoV-2 lebih mudah menginvasi dan meningkatkan risiko trombosis pada otak yang mengakibatkan stroke.

Baca Juga: Virus Corona Bermutasi? Ini 7 Gejala Tak Biasa COVID-19 dari WHO

3. Mengapa perokok lebih terancam trombosis?

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19emra.org

Pada studi di Texas tersebut (lihat poin nomor 2), para peneliti juga mengutip dua laporan: "Potential neurological symptoms of COVID-19" (28 Maret 2020, Tiongkok) dan "Large-Vessel Stroke as a Presenting Feature of Covid-19 in the Young" (28 April 2020, AS).

Pada penelitian dari Tiongkok, peneliti menemukan bahwa selain gejala pernapasan, 36,4 persen pasien COVID-19 juga menunjukkan gejala gangguan neurologis. Sementara itu, penelitian dari AS mengungkap lima kasus stroke iskemik mendadak yang terjadi pada pasien berusia 30-40 tahun. Namun, apakah peran rokok di sini?

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19pixabay.com/Myriam Zilles

Rokok "menyita" oksigen yang seharusnya memberikan dampak positif bagi tubuh, termasuk mencegah trombosis. Para peneliti dari Texas Tech University Health Sciences Center, AS, tersebut menjelaskan bahwa itulah yang menjadi faktor utama terjadinya trombosis, terutama pada otak.

Lalu, bagaimana nasib perokok yang menderita COVID-19? Selain melemahkan SDO dan meningkatkan jumlah reseptor ACE2 (enzim yang dimanfaatkan SARS-CoV-2 untuk bermutasi dalam tubuh), para peneliti juga mengutip bahwa merokok melemahkan kinerja reseptor trombomodulin yang mencegah trombosis.

Gimana, masih mau lanjut merokok?

4. Bagaimana dengan vape?

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19pixabay.com/Lindsay Fox

Lalu, bagaimana dengan vape? Jawabannya, 11-12 dengan rokok! Para peneliti Texas juga mengungkapkan bahwa vape memiliki kandungan aerosol dan larutan yang sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Sama seperti rokok biasa, kandungan-kandungan pada vape dapat melemahkan SDO.

Mengutip berbagai studi, para peneliti tersebut menjelaskan lebih lanjut bahaya vape pada komplikasi stroke yang akibat COVID-19. Dikarenakan dapat meningkatkan ACE2, kandungan nikotin pada vape juga dikaitkan dengan peningkatan risiko seseorang terinfeksi coronavirus, sementara kebiasaan nge-vape akut juga dikaitkan dengan stroke dan cedera otak.

5. Masih dikaji lebih lanjut

Ahli: Vaping dan Rokok Tingkatkan Risiko Stroke akibat COVID-19unsplash.com/Franck V

Kesimpulan dari penelitian-penelitian ini adalah rokok dan vape sama-sama dapat menyebabkan kerusakan pada SDO, sehingga menyebabkan risiko gangguan neurologis, dan meningkatkan kinerja enzim ACE2 yang memperbesar risiko COVID-19. Selain itu, kombinasi rokok atau vape dan COVID-19 lebih berisiko mengakibatkan trombosis.

Mengenai efek dari COVID-19 terhadap penderitanya, berbagai penelitian masih akan terus dilakukan untuk benar-benar mendapatkan hasil yang valid. Para peneliti mungkin akan melakukan studi lanjutan yang membandingkan sampel otopsi antara pasien COVID-19 yang merokok dan bukan perokok, serta uji klinis pada hewan.

Dari sejak sebelum pandemik COVID-19 berlangsung, rokok, baik konvensional maupun elektrik berdampak buruk pada tubuh. Dampaknya pun berlanjut hingga sekarang. Jadi, kurangi risiko penularan dan komplikasi berat dengan stop merokok.

Terapkan gaya hidup sehat, jaga kebersihan diri sebaik mungkin, selalu pakai masker saat di luar rumah dan saat sedang sakit, terapkan physical distancing, kelola stres dengan baik, dan tidur cukup setiap hari untuk meminimalkan risiko penularan COVID-19.

Baca Juga: 6 Cara Efektif Mencegah Penularan COVID-19 di Dalam Transportasi Umum

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya