Manfaat aluminium sebagai ajuvan sebenarnya sudah ditemukan sejak tahun 1926. Sejak saat itu, aluminium digunakan dalam berbagai vaksin yang direkomendasikan secara rutin, seperti vaksin hepatitis A, hepatitis B, vaksin kombinasi difteri-tetanus, vaksin Haemophilus influenzae tipe b (Hib), HPV, meningokokus B dan ABCWY, serta vaksin pneumokokus. Aluminium juga sering dipakai dalam vaksin kombinasi yang mengandung vaksin-vaksin tersebut.
Namun, perlu dicatat, aluminium tidak digunakan untuk vaksin berisi virus hidup yang dilemahkan, misalnya vaksin campak, gondongan, rubela, cacar air, dan rotavirus.
Sebelum izin edar diberikan, vaksin yang mengandung ajuvan, termasuk aluminium, selalu melewati serangkaian uji klinis yang ketat.
Jumlah aluminium dalam vaksin
Jumlahnya sangat kecil. Kandungan aluminium di dalam satu dosis vaksin setara dengan jumlah aluminium yang bisa ditemukan dalam satu liter susu formula bayi. Sebagai gambaran: bayi akan menerima sekitar 4,4 miligram (mg) aluminium dari vaksin selama enam bulan pertama kehidupannya. Jumlah ini lebih kecil dibanding aluminium yang mereka dapat dari makanan sehari-hari.
Bayi yang disusui ASI bisa mendapat sekitar 7 mg aluminium dari ASI dalam enam bulan pertama.
Bayi yang minum susu formula biasa akan mendapat sekitar 38 mg aluminium.
Bayi yang minum susu formula berbasis kedelai bisa menerima hampir 117 mg aluminium.
Sebagai perbandingan, 1 mg sama dengan seperseribu gram—bayangkan kamu memotong satu kismis menjadi 1.000 bagian kecil, maka 1 mg hanya sebesar 1 potongan kecil kismis itu. Jadi, jika melihat jumlah aluminium yang diterima bayi selama enam bulan pertama:
Dari vaksin: sekitar 4–5 potongan kecil kismis dari 1.000 potongan.
Dari ASI: sekitar 7 potongan dari 1.000 potongan.
Dari susu formula biasa: 38 potongan dari 1.000 potongan.
Dari susu formula kedelai: 117 potongan dari 1.000 potongan.
Jadi, meski aluminium dalam vaksin sering disorot, tetapi jumlahnya sebenarnya sangat kecil dan masih lebih sedikit dibanding aluminium yang kamu atau bayi dapatkan dari makanan sehari-hari.
Jenis vaksin | Jumlah aluminium |
Vaksin pneumokokus: | 0,125 milligram per dosis (mg/dosis) |
Vaksin DTaP: | <0,33 hingga <0,625 mg/dosis |
Vaksin Hib: | 0,225 mg/dosis |
Vaksin hepatitis A (Hep A): | 0,225 hingga 0,25 mg/dosis (anak-anak) 0,45 hingga 0,5 mg/dosis (dewasa) |
Vaksin hepatitis B (Hep B): | 0,225 hingga 0,5 mg/dosis (anak-anak) 0,5 mg/dosis (dewasa) |
Vaksin Hep A/Hep B: | 0,45 mg/dosis |
Vaksin DTaP/inactivated polio/Hep B: | < 0,85 mg/dosis |
Vaksin DTaP/inactivated polio/Hib: | 0,33 mg/dosis |
Vaksin human papillomavirus (HPV): | 0,5 mg/dosis |
Vaksin Japanese encephalitis: | 0,25 mg/dosis |
Vaksin meningococcal B: | 0,25–0,52 mg/dosis |
Vaksin meningococcal ABCWY: | 0,25–1,5 mg/dosis |
Vaksin Td: | <0,53–1,5 mg/dosis |
Vaksin Tdap: | 0,33–0,39 mg/dosis |
Mengingat jumlah aluminium yang dihadapi setiap hari, jumlah aluminium dalam vaksin sangatlah kecil. Vaksin yang mengandung aluminium telah digunakan selama puluhan tahun dan telah diberikan kepada lebih dari satu miliar orang tanpa menimbulkan masalah.
Pada tahun 2000, National Vaccine Program Office (NVPO) meninjau paparan aluminium melalui vaksin dan memutuskan bahwa tidak diperlukan perubahan rekomendasi vaksin berdasarkan kandungan aluminium. Global Advisory Committee on Vaccine Safety, bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), juga telah menelaah studi-studi terkait dan tidak menemukan bukti risiko kesehatan yang memerlukan perubahan dalam kebijakan vaksin.