ilustrasi gejala asam lambung GERD (IDN Times/Novaya Siantita)
Beberapa studi menunjukkan perbaikan gejala GERD selama puasa, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten. Variasi ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor klinis dan perilaku berikut:
Puasa mengubah frekuensi makan, tetapi tidak otomatis memperbaiki kualitas pola makan. Jika saat berbuka kamu mengonsumsi makanan tinggi lemak, gorengan, santan, cokelat, atau kopi dalam jumlah besar, risiko refluks meningkat. Makanan berlemak memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan relaksasi LES, sehingga memperbesar risiko heartburn setelah makan.
Selama Ramadan, asupan kalori sering terkonsentrasi pada dua waktu makan utama. Makan dalam porsi besar sekaligus membuat lambung penuh dan tekanannya naik, sehingga isi lambung bisa terdorong naik ke kerongkongan. Jadi, meski waktu puasa lama, tetapi kejadian refluks tetap bisa sering terjadi jika beban makan tiba‑tiba besar.
Refluks makin mudah terjadi kalau kamu langsung berbaring setelah makan. Banyak orang tidur segera setelah sahur, sehingga gravitasi yang biasanya membantu menahan asam di lambung tidak bekerja, sehingga asam bisa naik ke kerongkongan dan menyebabkan sensasi terbakar di dada.
Pasien dengan GERD ringan tanpa komplikasi mungkin mengalami perbaikan gejala karena frekuensi makan berkurang. Sebaliknya, pasien dengan esofagitis erosif atau refluks berat berpotensi tetap mengalami gejala meski berpuasa.
Penggunaan proton pump inhibitor (PPI) atau H2 blocker yang tidak teratur selama Ramadan dapat memengaruhi kontrol gejala. Penyesuaian waktu minum obat (misalnya sebelum sahur) menjadi faktor penting dalam stabilitas kondisi.
Secara keseluruhan, perbedaan hasil penelitian bukan berarti datanya saling bertentangan, melainkan mencerminkan kompleksitas patofisiologi GERD. Efek puasa sangat dipengaruhi oleh variabel perilaku, klinis, dan pola diet masing-masing individu.