Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Ibu Hamil Rentan Mengalami GERD?

Seorang ibu hamil.
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya sih...
  • Refluks asam umum terjadi pada ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga.
  • Perubahan hormon, relaksasi sfingter esofagus, dan pembesaran rahim dapat menjadi penyebab GERD selama kehamilan.
  • Jika tidak diobati, GERD dapat menyebabkan komplikasi serius seperti esofagitis, pneumonia aspirasi, atau asma terkait GERD.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

GERD alias sensasi terbakar di dada dan kerongkongan adalah keluhan umum selama kehamilan. Sensasi ini muncul akibat refluks asam, yaitu ketika asam lambung naik dari perut ke kerongkongan (esofagus).

Meskipun sebelumnya ibu hamil tidak memiliki riwayat GERD, kondisi ini bisa saja muncul saat hamil. Alasannya, perubahan hormon serta tekanan janin pada perut membuat asam lambung lebih mudah naik. Di sini, kita akan membahas lebih dalam mengapa ibu hamil rentan mengalami GERD.

Table of Content

1. Refluks asam selama kehamilan

1. Refluks asam selama kehamilan

Refluks asam atau yang juga dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah kondisi umum di kalangan perempuan hamil.

Gejalanya berupa sensasi terbakar yang dimulai di bawah tulang dada dan meluas ke tenggorokan bagian bawah karena asam lambung mengalir kembali ke esofagus. Dalam beberapa kasus, asam lambung dapat mencapai tenggorokan atau mulut, meninggalkan rasa asam dan pahit.

Kondisi ini dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, tetapi paling umum terjadi pada trimester kedua dan ketiga. Sekitar sepertiga perempuan hamil mengalami refluks asam pada trimester pertama, sementara hingga dua pertiga mengalaminya selama trimester terakhir.

Refluks asam selama kehamilan adalah gejala umum dan tidak berbahaya, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan sakit tenggorokan. Kendati tidak terkait dengan penyakit kardiovaskular, tetapi heartburn selama kehamilan dapat menyebabkan sensasi terbakar di tengah dada.

2. Penyebab GERD selama kehamilan

GERD terjadi selama kehamilan karena perubahan dalam tubuh yang terkait dengan mendukung janin.

  • Perubahan kadar hormon: Kadar hormon berubah selama kehamilan, memengaruhi bagaimana kamu menoleransi dan mencerna makanan. Hormon memperlambat sistem pencernaan. Makanan bergerak lebih lambat, meningkatkan kemungkinan kembung, heartburn, dan sembelit.
  • Relaksasi sfingter esofagus: Hormon progesteron dapat menyebabkan lower esophageal sphincter (LES) menjadi rileks. Otot ini terletak di antara perut dan kerongkongan. Biasanya, otot ini membuka untuk memungkinkan makanan melewati kerongkongan ke perut. Otot ini menutup untuk mencegah asam lambung masuk ke kerongkongan. Progesteron dapat menyebabkan LES terlalu rileks sehingga tidak menutup untuk mencegah aliran balik asam lambung.
  • Pembesaran rahim: Saat janin tumbuh, rahim juga turut membesar. Hal ini dapat menekan perut, menyebabkan asam lambung mengalir ke atas menuju kerongkongan. Itulah mengapa GERD lebih umum terjadi selama trimester ketiga, beberapa bulan terakhir kehamilan. Karena pada saat tersebut, janin dan rahim berada pada ukuran terbesar saat itu sehingga menekan organ-organ lain.

3. Cara menghentikan GERD selama kehamilan

Seorang perempuan hamil.
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Amina Filkins)

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghentikan GERD selama kehamilan:

  • Makan dalam porsi kecil dan lebih sering.
  • Menghindari makanan dan minuman tertentu.
  • Tidak makan atau minum apa pun dalam waktu 3 jam sebelum tidur.
  • Meninggikan kepala saat tidur.
  • Tidur miring ke kiri.
  • Mengenakan pakaian longgar.
  • Berhenti merokok.
  • Menurunkan berat badan jika kamu kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas, tetapi berkonsultasi dulu dengan bidan atau dokter kandungan.

4. Risiko GERD yang tidak diobati

Dalam kebanyakan kasus, GERD tidak serius dan dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang dijual bebas. Namun, jika tidak diobati, GERD dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, termasuk:

  • Esofagitis.
  • Esofagus Barrett.
  • Striktur esofagus.
  • Pneumonia aspirasi.
  • Asma terkait GERD.

5. Apakah GERD akan hilang setelah melahirkan?

Apakah kamu masih akan mengalami GERD atau tidak setelah kehamilan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk usia, berat badan, kesehatan secara keseluruhan, dan apakah kamu pernah mengalami refluks asam sebelum kehamilan.

Bagi sebagian besar perempuan, GERD akan hilang setelah kehamilan. Namun, bagi beberapa yang lain, GERD dapat berlanjut atau bahkan memburuk. Jika kamu pernah mengalami GERD sebelum kehamilan, kamu lebih mungkin mengalaminya setelah kehamilan.

GERD selama kehamilan umum terjadi, terutama pada trimester ketiga. Kamu dapat mencegah atau meredakan GERD selama kehamilan. Dengan melakukan beberapa perubahan pada pola makan, seperti makan lebih sering tetapi dalam porsi kecil dan menghindari makanan pedas atau gorengan. Yoghurt atau susu juga dapat membantu meredakan gejala.

Sebelum mengonsumsi obat-obatan selama kehamilan, konsultasikan dengan dokter demi keamanan.

Referensi

Cleveland Clinic. Diakses pada Februari 2026. "Heartburn During Pregnancy."

Suncoast Surgical Associates. Diakses pada Februari 2026. "Pregnancy and Acid Reflux: What’s the Link?"

VinMec. Diakses pada Februari 2026. "Why Pregnant Women Often Experience Acid Reflux During Pregnancy."

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Ribuan Kasus Penyakit Kawasaki, Anak Berisiko Kena Serangan Jantung

11 Feb 2026, 18:28 WIBHealth