TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Napas Pendek dan Batuk Terus-menerus adalah Gejala Kanker Paru

Segera periksakan diri ke dokter!

ilustrasi kanker paru (pexels.com/Anna Tarazevich)

Menurut Global Cancer Observatory, kanker paru adalah kanker dengan insiden tertinggi kedua di dunia pada tahun 2020. Dengan 2,2 juta kasus baru, kanker paru berada di urutan kedua setelah kanker payudara (2,3 juta kasus baru).

Berbeda dengan kanker payudara yang mudah dideteksi dengan dilihat dan diraba, kanker paru sering kali tidak bergejala, terutama pada stadium awal. Ini membuat sebagian besar kasus kanker paru terdeteksi pada stadium lanjut.

Dalam rangka memperingati Lung Cancer Awareness Month, PT Takeda Indonesia bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengadakan webinar media dengan tema "Pentingnya Diagnosis yang Tepat untuk Kanker Paru" pada Selasa (8/11/2022).

Acara ini dihadiri oleh Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K), selaku narasumber, dan Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, yang merupakan Ketua YKI. Berikut pemaparannya!

1. Kanker paru adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia

Prof. Elisna mendefinisikan kanker paru sebagai kanker yang berasal dari epitel atau jaringan saluran napas. Penyebabnya adalah pertumbuhan tidak terkontrol pada sel yang berasal dari jaringan paru.

Berdasarkan Global Cancer Observatory, kanker paru adalah kanker yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia pada tahun 2020, yang menewaskan 1,8 juta jiwa. Di urutan kedua dan ketiga adalah kanker hati (membunuh 830.000 orang) dan kanker lambung (menyebabkan 769.000 kematian).

2. Merupakan jenis kanker yang paling banyak dialami laki-laki

ilustrasi siluet laki-laki yang sedang merokok (pexels.com/Petar Starčević)

Situasi di Indonesia tak jauh berbeda. Mengacu pada Globocan 2020, terdapat 34.783 kasus baru kanker paru, membuatnya berada di urutan ketiga setelah kanker payudara (65.858 kasus baru) dan kanker serviks (36.633 kasus baru).

Namun, jika dilihat lebih dekat, kanker paru adalah jenis kanker yang paling banyak dialami laki-laki. Kanker paru berada di urutan pertama dengan 25.943 kasus baru di tahun 2020, mengalahkan kanker kolorektal, hati, nasofaring, dan prostat.

Mengapa demikian? Ini karena di Indonesia lebih banyak laki-laki yang merokok (70 persen) daripada perempuan (5 persen), mengutip Our World In Data. Seperti yang kita ketahui, merokok adalah faktor risiko utama kanker paru.

"Dengan merokok, (berarti) dia sengaja mengiritasi saluran napasnya. Apalagi kalau rokoknya kretek. Kretek lebih berisiko dibandingkan rokok putih," Prof. Elisna menjelaskan.

Baca Juga: Dalam 5 Tahun, Harapan Hidup Pasien Kanker Paru Hanya 3,5 Persen

3. Angka harapan hidup sangat rendah jika terdeteksi pada stadium lanjut

National Cancer Institute (NIH) mengategorikan kanker dalam empat stadium, yaitu:

  1. In situ: Terdapat sel abnormal tetapi belum menyebar ke jaringan terdekat.
  2. Terlokalisasi (localized): Kanker terlihat pada tempat asalnya, tetapi belum ada tanda-tanda penyebaran. Sekitar 19 persen kanker paru terdeteksi pada stadium ini dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 61 persen.
  3. Regional: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, jaringan, atau organ terdekat. Sekitar 22 persen kanker paru terdeteksi pada stadium ini dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 34 persen.
  4. Jauh (distant): Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang jauh. Mayoritas kanker paru (55 persen) terdeteksi pada stadium ini dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun hanya 7 persen.

4. Gejala kanker paru yang paling umum

ilustrasi batuk (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Menurut Prof. Elisna, gejala kanker paru yang paling umum adalah batuk yang persisten atau terus-menerus, napas pendek, sesak napas, hingga nyeri dada. Terkadang, diikuti dengan gejala lain, seperti batuk berdarah, kelelahan ekstrem, terdapat perubahan pada mukus (lendir) dan suara, wajah membengkak, nafsu makan hilang, serta berat badan turun tanpa sebab.

"Kalau sudah sesak napas dan nyeri dada, tidak bisa ditunda lagi. Harus segera foto toraks," tegas dosen program studi Ilmu Penyakit Paru di Universitas Indonesia ini.

Baca Juga: Pasien Kanker Paru Bisa Hidup Lebih Lama dengan Imunoterapi

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya