Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Saja Ancaman Penyakit dari Menu Lebaran?
ilustrasi opor ayam dan ketupat (pexels.com/Valens Hascaryo)
  • Menu Lebaran cenderung tinggi lemak jenuh, gula, dan garam yang berkontribusi pada penyakit metabolik.

  • Konsumsi berlebihan dalam waktu singkat meningkatkan risiko lonjakan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.

  • Pola makan tidak seimbang saat Lebaran dapat memperburuk kondisi kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selain identik dengan mudik, bermaaf-maafan, dan bersilaturahmi dengan kerabat dan tetangga, Idul Fitri juga berarti makan-makan.

Ada banyak makanan khas yang dihidangkan, seperti rendang, gulai, daging panggang, ketupat, aneka kue dan minuman manis, dan berbagai macam makanan khas daerah lainnya.

Akan tetapi, dari kacamata kesehatan, banyak jenis menu Lebaran tergolong berlemak dan tinggi kolesterol, sehingga kamu sangat tidak disarankan untuk mengonsumsinya secara berlebihan agar tidak menimbulkan penyakit di kemudian hari, apalagi yang sudah memiliki kormorbid.

Berikut ini ancaman penyakit dari menu makanan Lebaran yang perlu kamu waspadai.

1. Lonjakan kolesterol dan risiko penyakit jantung

Menu seperti opor, rendang, dan gulai umumnya menggunakan santan kental dan daging berlemak. Kandungan lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dalam darah.

Asupan lemak jenuh berlebih berhubungan langsung dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Studi juga menunjukkan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh dapat mempercepat aterosklerosis (penumpukan plak di pembuluh darah).

Efeknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi lonjakan kolesterol setelah Lebaran bukanlah hal langka.

2. Kenaikan gula darah dan risiko diabetes

ilustrasi makan-makan saat Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju mengandung gula sederhana dan tepung olahan. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.

Lonjakan glukosa berulang dapat memperburuk resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa fluktuasi gula darah tajam berkaitan dengan stres oksidatif yang merusak sel.

Bagi orang yang sudah hidup dengan diabetes, kondisi ini bisa menjadi berbahaya jika tidak dikontrol.

3. Tekanan darah tinggi

Banyak hidangan Lebaran kandungan garamnya tinggi. Selain itu, makanan pendamping seperti kerupuk, sambal, dan saus lainnya juga dapat menambah asupan natrium total harian.

Konsumsi natrium berlebih berkontribusi pada peningkatan tekanan darah dan risiko stroke. Studi menunjukkan bahwa mengurangi asupan garam dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan.

Lonjakan tekanan darah setelah periode makan besar seperti Lebaran cukup sering terjadi, terutama pada individu dengan riwayat hipertensi.

4. Gangguan pencernaan

Ketupat Lebaran berikut sayur pepaya muda, semur tahu, telur pindang, opor ayam, acar ketimun, dan rendang. (commons.wikimedia.org/Midori)

Perubahan pola makan mendadak, terutama makanan tinggi lemak dan rendah serat, dapat memicu gangguan seperti perut kembung, sulit buang air besar (sembelit), dan naiknya asam lambung.

Penelitian menjelaskan bahwa pola makan tinggi lemak dapat memperlambat pengosongan lambung dan memicu refluks asam. Selain itu, kurangnya asupan serat dari sayur dan buah memperburuk fungsi pencernaan.

5. Kenaikan berat badan cepat

Studi menunjukkan bahwa kenaikan berat badan selama periode liburan, seperti periode Lebaran, cenderung kecil namun signifikan dan sering kali tidak turun lagi setelahnya.

Penelitian telah mencatat bahwa orang dewasa rata-rata mengalami kenaikan berat badan selama musim liburan, yang berkontribusi pada obesitas jangka panjang.

Kombinasi makanan tinggi kalori dan aktivitas fisik yang menurun menjadi penyebab utama.

6. Asam urat naik, peningkatan risiko gout

ilustrasi jeroan sapi hidangan Lebaran (commons.wikimedia.org/Sunshroom17)

Hidangan berbasis daging merah seperti rendang dan semur, serta jeroan dan beberapa seafood mengandung purin tinggi. Dalam tubuh, purin dipecah menjadi asam urat.

Konsumsi tinggi daging merah dan makanan tinggi purin berhubungan dengan peningkatan risiko gout (radang sendi akut akibat penumpukan kristal asam urat yang tinggi).

Serangan gout sering muncul tiba-tiba setelah konsumsi makanan berat yang tinggi purin, termasuk saat Lebaran.

7. Peradangan stres oksidatif

Pola makan tinggi gula dan lemak dapat memicu peradangan dalam tubuh. Studi menunjukkan bahwa pola makan tidak sehat berkontribusi pada inflamasi kronis tingkat rendah yang menjadi dasar berbagai penyakit, termasuk diabetes dan penyakit jantung.

Efek ini mungkin tidak terasa langsung, tetapi berperan besar dalam kesehatan jangka panjang.

Memahami risiko di balik hidangan Lebaran dapat membantu kamu membuat pilihan yang lebih bijak. Bukan berarti harus menghindari semuanya, tetapi lebih pada bagaimana mengatur porsi dan frekuensi.

Tetap prioritaskan pola makan seimbang, perbanyak buah dan sayur, batasi makanan manis, serta tetap aktif bergerak bisa membantu tubuh tetap stabil selama masa libur Lebaran.

Referensi

American Diabetes Association. “Standards of Medical Care in Diabetes.” Diakses Maret 2026.

American Heart Association. “Saturated Fat.” Diakses Maret 2026.

Hyon K. Choi, Simin Liu, and Gary Curhan, “Intake of Purine‐rich Foods, Protein, and Dairy Products and Relationship to Serum Levels of Uric Acid: The Third National Health and Nutrition Examination Survey,” Arthritis & Rheumatism 52, no. 1 (January 1, 2005): 283–89, https://doi.org/10.1002/art.20761.

Feng J He and Graham A MacGregor, “Salt Reduction Lowers Cardiovascular Risk: Meta-analysis of Outcome Trials,” The Lancet 378, no. 9789 (July 1, 2011): 380–82, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(11)61174-4.

Gökhan S. Hotamisligil, “Inflammation and Metabolic Disorders,” Nature 444, no. 7121 (December 13, 2006): 860–67, https://doi.org/10.1038/nature05485.

Tonya Kaltenbach, Seth Crockett, and Lauren B. Gerson, “Are Lifestyle Measures Effective in Patients With Gastroesophageal Reflux Disease?,” Archives of Internal Medicine 166, no. 9 (May 8, 2006): 965, https://doi.org/10.1001/archinte.166.9.965.

Louis Monnier et al., “Activation of Oxidative Stress by Acute Glucose Fluctuations Compared With Sustained Chronic Hyperglycemia in Patients With Type 2 Diabetes,” JAMA 295, no. 14 (April 11, 2006): 1681, https://doi.org/10.1001/jama.295.14.1681.

Dale A. Schoeller, “The Effect of Holiday Weight Gain on Body Weight,” Physiology & Behavior 134 (March 22, 2014): 66–69, https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2014.03.018.

Dong D. Wang et al., “Association of Specific Dietary Fats With Total and Cause-Specific Mortality,” JAMA Internal Medicine 176, no. 8 (July 5, 2016): 1134, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2016.2417.

World Health Organization. “Salt reduction.” Diakses Maret 2026.

Jack A. Yanovski et al., “A Prospective Study of Holiday Weight Gain,” New England Journal of Medicine 342, no. 12 (March 23, 2000): 861–67, https://doi.org/10.1056/nejm200003233421206.

Editorial Team