Tanda-tanda seseorang mengalami hoarding disorder umumnya muncul saat memasuki usia remaja hingga desawa awal. Pada mulanya, seseorang dapat mulai mengumpulkan benda yang menurutnya bermanfaat. Lambat laun, kebiasaan ini berubah menjadi semakin serius hingga memakan banyak ruang.
Gejala hoarding disorder dapat ditunjukkan dengan beberapa hal berikut:
- Kesulitan membuang atau berpisah dengan barang-barang secara terus-menerus, tanpa melihat nilai sebenarnya
- Merasa tertekan untuk membuang benda-benda
- Penumpukan harta benda, mengacaukan tempat tinggal hingga akhirnya mengganggu fungsinya. Misal, wastafel tidak lagi bisa digunakan untuk cuci tangan karena penuh barang.
Ketika terus dilakukan, gejala hoarding disorder dapat memicu tekanan dalam diri sendiri. Gangguan penimbunan pun memicu konflik dengan orang lain yang berusaha mengurangi atau membuang tumpukan barangnya.
Seseorang dengan kondisi hoarding disorder memiliki keyakinan kuat bahwa suatu saat ia mungkin membutuhkan barang yang disimpannya. Selain itu, ia bisa juga berpikiran bahwa menyimpan barang akan membuatnya bahagia.
Hoarding disorder dapat terbagi menjadi lima tahap. Tahap pertama yakni hoarding disorder ringan tanpa tanda serius. Tingkat kedua mungkin orang tersebut enggan menerima pengunjung. Level ketiga muncul aroma tidak sedap dan lorong sempit akibat penumpukan. Selanjutnya, tingkat keempat, hoarding disorder memicu kerusakan struktural, masalah limbah, dan ruangan yang tidak dapat digunakan. Terakhir, penumpukan level parah ditandai dengan bahaya seperti kebakaran, tidak ada listrik atau air bersih, hingga kotoran menumpuk.