Cuaca panas biasanya dianggap satu paket dengan ibadah haji dan dijalani begitu saja. Padahal, bagi jemaah dengan diabetes, suhu tinggi bisa mengubah banyak hal di dalam tubuh. Mulai dari cairan tubuh yang terkuras, gula darah lebih sulit stabil, hingga tubuh lebih cepat lelah akibat kombinasi panas dan aktivitas fisik yang intens.
Situasi saat haji berbeda dibanding rutinitas sehari-hari. Jadwal tidur berubah, waktu makan tidak teratur, aktivitas fisik meningkat, sementara paparan panas bisa berlangsung selama berjam-jam. Dalam kondisi seperti ini, tubuh jemaah dengan diabetes dipaksa bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan gula darah sekaligus mempertahankan suhu tubuh tetap aman.
Itulah kenapa tenaga medis sering mengingatkan jemaah dengan diabetes untuk tidak hanya minum obat dan menjaga pola makan. Faktor lingkungan, terutama panas ekstrem, juga berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Jika tidak diantisipasi, cuaca panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi, hipoglikemia, heat exhaustion, bahkan komplikasi serius yang butuh penanganan medis segera.
