Dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025 bertema “Beat for LIfe, Love Your Heart”, pakar kardiovaskular nasional dan internasional membahas berbagai teknologi untuk penyakit ini.
Inovasi yang dipaparkan dalam konferensi diantaranya terkait ablasi PFA, precision PCI, drug-coated balloon (DCB), chronic total occlusion percutaneous coronary intervention (CTO PCI), intervensi darurat (acute coronary syndrome) dan CABG minimal Invasif.
Ablasi PFA: Metode ini lebih selektif dibanding metode berbasis panas, sehingga aman terhadap esofagus dan saraf. Data ADVENT trial menunjukkan efektivitas sekaligus keamanan yang lebih tinggi, menjadikannya terapi masa depan untuk atrial fibrillation.
Precision PCI: Intervensi koroner kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan angiografi. Dengan dukungan pencitraan intravaskular dan fisiologi koroner, precision PCI memungkinkan terapi yang benar-benar personal. Pendekatan presisi akan meningkatkan keberhasilan, keamanan, serta kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
DCB: Setelah puluhan tahun mengandalkan stent/ring, kini hadir metode DCB yang lebih sederhana dan tidak meninggalkan logam di pembuluh darah. Hasil penelitian menunjukkan risiko perdarahan lebih rendah, durasi penggunaan obat dual antiplatelet therapy (DAPT) lebih singkat, serta outcome pasien lebih baik. Dengan demikian, tidak semua kasus penyakit jantung harus ditangani dengan pemasangan ring.
CTO PCI: Tindakan membuka sumbatan total kronis pada pembuluh darah jantung adalah prosedur yang sangat kompleks. Namun, dengan seleksi pasien yang tepat, perencanaan menyeluruh, serta teknologi pencitraan intravaskular dan teknik recanalization modern, angka keberhasilan CTO PCI kini makin baik. Hasilnya aliran darah pulih, gejala berkurang, dan kualitas hidup meningkat.
Coronary artery bypass Graft (CABG): Penggunaan graft arteri ganda atau total arterial revascularization terbukti menurunkan risiko kematian jangka panjang secara signifikan, dengan survival 12 tahun, meningkat dari 54 persen menjadi lebih dari 63 persen. Ditambah lagi, penerapan teknik minimal invasif serta protokol enhanced recovery after surgery (ERAS), memungkinkan pasien pulih lebih cepat, membutuhkan transfusi lebih sedikit, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.