Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Asap Karhutla Mengandung PM2.5, Apa Dampaknya bagi Tubuh?
ilustrasi kebakaran (pexels.com/Recep Tayyip Çelik)
  • Asap karhutla mengandung PM2.5 yang sangat kecil, dapat mencapai alveolus, memicu peradangan, mengganggu fungsi paru-paru, dan sebagian komponennya berpotensi masuk ke aliran darah.

  • Paparan PM2.5 dapat menyebabkan batuk, mata perih, sesak, serta memperburuk asma dan penyakit paru; dampaknya juga berkaitan dengan gangguan kardiovaskular dan peningkatan beban jantung.

  • Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung atau pernapasan lebih rentan; pantau kualitas udara, kurangi aktivitas luar, dan gunakan N95 atau KN95 bila harus keluar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah particulate matter 2.5 atau PM2.5, yaitu partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat terhirup saat kita bernapas. Partikel ini menjadi perhatian karena mampu masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu berbagai gangguan kesehatan.

Asap karhutla juga dapat terbawa angin hingga mencapai wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran. Artinya, risiko paparan tidak hanya mengancam masyarakat yang tinggal dekat hutan terbakar, tetapi juga penduduk di kota atau negara tetangga yang terdampak kabut asap. Lantas, bagaimana PM2.5 memengaruhi tubuh dan langkah apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi paparannya?

1. Ukurannya sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

PM2.5 merupakan partikel yang memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga ukurannya jauh di bawah ketebalan rambut manusia. Partikel ini berasal dari berbagai sumber polusi, termasuk pembakaran vegetasi yang menghasilkan asap karhutla. Karena ukurannya kecil, PM2.5 dapat melewati sebagian mekanisme penyaringan alami pada hidung dan masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru.

Di dalam paru-paru, partikel tersebut dapat mencapai alveolus, yaitu kantong udara kecil yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Paparan PM2.5 dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru. Sebagian partikel atau komponen yang terkandung di dalamnya juga dapat berpindah dari paru-paru ke aliran darah dan memengaruhi organ lain.

2. Bukan cuma batuk, PM2.5 bisa mengganggu jantung

ilustrasi sakit di bagian dada (pexels.com/freestocks.org)

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa gatal, mata perih, sesak napas, dan napas berbunyi. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru kronis, asap dapat memperburuk gejala dan meningkatkan kebutuhan akan perawatan medis. Orang yang sebelumnya sehat juga bisa mengalami iritasi dan penurunan fungsi paru-paru untuk sementara setelah terpapar polusi dalam kadar tinggi.

Dampak PM2.5 tidak terbatas pada sistem pernapasan karena paparan partikel halus juga berkaitan dengan gangguan kardiovaskular. Peradangan dan perubahan fungsi pembuluh darah dapat meningkatkan beban kerja jantung, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung. Karena itu, paparan asap yang berat perlu diwaspadai meskipun keluhan awal hanya terasa ringan.

3. Anak-anak dan lansia lebih rentan terhadap asap

ilustrasi anak memakai masker (magnific.com/jcomp)

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap PM2.5. Anak-anak lebih rentan karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang, sedangkan lansia dapat memiliki kemampuan tubuh yang lebih rendah untuk menghadapi polusi udara. Ibu hamil serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan juga perlu memberi perhatian lebih terhadap kualitas udara.

Risiko kesehatan turut dipengaruhi oleh konsentrasi polusi, lamanya paparan, dan aktivitas saat menghirup udara tercemar. Orang yang bekerja atau berolahraga di luar ruangan dapat menghirup lebih banyak udara ketika kebutuhan oksigen meningkat. Oleh sebab itu, kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan mengikuti informasi dari otoritas kesehatan setempat.

4. Bagaimana mengurangi paparan PM2.5 dari karhutla?

ilustrasi membersihkan rumah (unsplash.com/CDC)

Langkah pertama adalah memantau indeks kualitas udara dan mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika polusi meningkat. Tutup jendela dan pintu saat asap masuk ke lingkungan rumah, lalu gunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia. Jika harus keluar, gunakan respirator yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat, karena masker kain biasa tidak memberikan perlindungan setara.

Kita juga perlu menghindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah, seperti membakar sampah, merokok, atau memasak dengan metode yang menghasilkan banyak asap. Orang yang memiliki asma atau penyakit kronis sebaiknya mengikuti rencana penanganan dari tenaga medis dan memastikan obat yang diresepkan tersedia. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, atau kesulitan bernapas yang memburuk, segera cari pertolongan medis.

Asap karhutla merupakan campuran berbagai polutan, sehingga PM2.5 bukan satu-satunya zat yang dapat membahayakan kesehatan. Meski begitu, ukuran partikel yang sangat kecil membuatnya penting untuk dipahami ketika kebakaran menghasilkan kabut asap dalam jumlah besar. Dengan memantau kualitas udara dan mengurangi paparan, kita dapat membantu melindungi kesehatan selama karhutla berlangsung.

Referensi

“Wildfires and Health.” World Health Organization (WHO). Diakses Oktober 2026.

“Why Is Smoke a Health Concern?” United States Environmental Protection Agency (EPA). Diakses Oktober 2026.

“Wildfire Smoke and Your Health: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Oktober 2026.

“Health Effects Attributed to Wildfire Smoke.” United States Environmental Protection Agency (EPA). Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article