Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Asap Karhutla Bisa Menghambat Curah Hujan?

6 min read
Kenapa Asap Karhutla Bisa Menghambat Curah Hujan?
ilustrasi asap kebakaran hutan (pixabay.com/Seaq68)
  • Aerosol dari asap karhutla menjadi inti kondensasi awan, sehingga uap air terbagi ke lebih banyak tetesan berukuran kecil.

  • Tetesan kecil sulit bergabung menjadi cukup berat untuk jatuh sebagai hujan; asap pekat juga mengurangi pemanasan permukaan dan melemahkan konveksi.

  • Berkurangnya hujan dapat memperpanjang kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran lanjutan, meski curah hujan tetap dipengaruhi banyak faktor atmosfer lainnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata tidak hanya membuat langit terlihat kelabu dan kualitas udara memburuk. Dalam kondisi tertentu, kepulan asap yang menyebar hingga ke atmosfer juga dapat memengaruhi pembentukan awan dan menghambat turunnya hujan. Situasi ini menjadi semakin rumit ketika wilayah yang dilanda kebakaran justru sedang membutuhkan hujan untuk meredakan kekeringan dan membantu memadamkan api.

Ketika kebakaran meluas, jutaan partikel kecil dari asap ikut terbawa angin dan menyebar ke berbagai lapisan atmosfer. Partikel-partikel tersebut dapat berinteraksi dengan uap air di udara dan mengubah proses pembentukan tetesan air di dalam awan. Akibatnya, awan yang terbentuk belum tentu mampu menghasilkan hujan seperti biasanya, meski udara mengandung cukup banyak kelembapan.

Pengaruh asap karhutla juga tidak berhenti pada proses pembentukan awan. Lapisan asap yang pekat dapat menghalangi sebagian sinar Matahari mencapai permukaan Bumi, sehingga mengubah pemanasan permukaan dan pergerakan udara yang berperan dalam pembentukan hujan. Kombinasi berbagai proses tersebut dalam kondisi tertentu bisa membuat hujan semakin sulit turun, meski dampaknya dapat berbeda bergantung pada kondisi atmosfer. Lantas, bagaimana asap karhutla bisa memengaruhi siklus hujan hingga memperburuk kondisi kekeringan?

  1. 1. Partikel asap mengubah proses pembentukan awan

    Ketika hutan, lahan gambut, atau padang rumput terbakar, api melepaskan berbagai partikel mikroskopis ke udara. Partikel ini dikenal sebagai aerosol dan dapat terdiri dari jelaga, abu, serta senyawa karbon organik. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan sebagian partikel terbawa angin hingga ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari lokasi kebakaran.

    Partikel-partikel tersebut ternyata berperan dalam proses pembentukan awan. Uap air di atmosfer membutuhkan permukaan tempat mengembun untuk membentuk tetesan air. Dalam meteorologi, partikel yang menjadi tempat terbentuknya tetesan air ini disebut cloud condensation nuclei (CCN) atau inti kondensasi awan.

    Dalam kondisi normal, partikel debu dan garam laut dapat berfungsi sebagai inti kondensasi. Namun, ketika asap karhutla memenuhi atmosfer, jumlah partikel yang tersedia bisa meningkat drastis. Kondisi ini kemudian memengaruhi ukuran dan jumlah tetesan air yang terbentuk di dalam awan.

  2. 2. Terlalu banyak tetesan air kecil membuat hujan sulit turun

    Sekilas, bertambahnya jumlah inti kondensasi awan mungkin terdengar menguntungkan karena bisa membantu pembentukan awan. Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu ukuran tetesan air yang dihasilkan.

    Ketika jumlah partikel di atmosfer meningkat, uap air yang tersedia dapat terbagi ke lebih banyak tetesan. Akibatnya, tetesan air yang terbentuk cenderung berukuran lebih kecil. Penelitian mengenai awan yang terpapar asap menunjukkan bahwa awan tersebut dapat mengandung lebih banyak tetesan air dibandingkan awan di udara yang lebih bersih.

    Padahal, hujan membutuhkan proses pertumbuhan tetesan air agar ukurannya cukup besar untuk jatuh ke permukaan bumi. Tetesan-tetesan kecil di dalam awan perlu bertabrakan dan bergabung menjadi tetesan yang lebih besar. Proses ini disebut coalescence.

    Jika tetesan air terlalu kecil dan sulit bergabung, proses pembentukan hujan dapat berjalan lebih lambat. Awan pun bisa terlihat tebal dan kelabu, tetapi hanya menghasilkan gerimis atau bahkan tidak menurunkan hujan sama sekali.

    Meski demikian, pengaruh asap tidak selalu sama pada setiap jenis awan. Kondisi atmosfer, jumlah partikel, kandungan air, dan ketinggian awan turut menentukan apakah asap akan menghambat atau justru mengubah proses pembentukan hujan dengan cara lain.

  3. 3. Asap mengurangi sinar matahari yang memanaskan permukaan bumi

    Ilustrasi asap kebakaran hutan
    ilustrasi asap kebakaran hutan (unsplash.com/Emma Renly)

    Asap karhutla juga dapat menghambat hujan melalui pengaruhnya terhadap suhu dan pergerakan udara. Dalam kondisi normal, sinar matahari memanaskan permukaan bumi, lalu panas tersebut menghangatkan udara di dekat permukaan. Udara hangat yang lebih ringan akan naik sambil membawa uap air ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

    Pergerakan udara ke atas ini disebut konveksi. Proses tersebut berperan penting dalam pembentukan awan yang menjulang tinggi, termasuk awan yang dapat menghasilkan hujan lebat dan badai petir.

    Namun, lapisan asap yang pekat bisa menghalangi atau memantulkan sebagian sinar matahari sehingga energi yang mencapai permukaan bumi berkurang. Akibatnya, permukaan tanah tidak mengalami pemanasan sekuat biasanya. Udara hangat yang naik pun bisa berkurang sehingga perkembangan awan konvektif menjadi lebih lemah.

    Beberapa jenis partikel asap juga mampu menyerap radiasi matahari dan memanaskan lapisan udara tertentu di atmosfer. Jika lapisan udara di atas menjadi relatif lebih hangat dibandingkan udara di bawahnya, atmosfer dapat menjadi lebih stabil. Kondisi ini menghambat udara untuk terus naik dan berkembang menjadi awan hujan.

    Dengan demikian, asap karhutla bisa memengaruhi hujan melalui dua jalur sekaligus, yaitu mengubah ukuran tetesan air di dalam awan dan melemahkan pergerakan udara yang membantu pembentukan awan hujan.

  4. 4. Hujan yang berkurang bisa memperparah kebakaran hutan

    Dampak asap terhadap curah hujan menjadi perhatian karena dapat memperburuk kondisi yang mendukung terjadinya karhutla. Ketika hujan berkurang atau tertunda, tanah dan vegetasi bisa kehilangan kelembapan lebih lama. Daun, ranting, dan bahan organik yang mengering menjadi lebih mudah terbakar.

    Kondisi tersebut dapat membentuk lingkaran setan yang merugikan. Kekeringan meningkatkan risiko kebakaran, sementara kebakaran melepaskan lebih banyak asap ke atmosfer. Jika asap kemudian menghambat pembentukan hujan dalam kondisi tertentu, wilayah yang terdampak berpotensi tetap kering dan rentan mengalami kebakaran lanjutan.

    NASA pernah menyoroti hubungan antara kebakaran hutan dan kekeringan melalui penelitian tentang interaksi aerosol kebakaran dengan atmosfer. Hubungan ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya terbatas pada area yang dilalap api, tetapi juga dapat memengaruhi proses atmosfer dalam skala yang lebih luas.

    Kendati begitu, asap karhutla bukan satu-satunya faktor yang menentukan curah hujan. Pola angin, kelembapan udara, suhu, kondisi laut, serta sistem cuaca berskala besar juga memengaruhi pembentukan hujan. Oleh sebab itu, keberadaan asap tidak otomatis membuat suatu wilayah bebas hujan.

  5. 5. Apakah hujan tetap bisa turun ketika asap karhutla pekat?

    Jawabannya, bisa. Meskipun asap dapat menghambat proses pembentukan hujan dalam kondisi tertentu, pengaruh tersebut tidak selalu cukup kuat untuk menghentikan hujan sepenuhnya.

    Jika atmosfer memiliki pasokan uap air yang memadai dan terdapat mekanisme kuat yang mendorong udara naik, awan tetap bisa berkembang hingga menghasilkan hujan. Sistem cuaca seperti daerah bertekanan rendah atau pertemuan massa udara dapat membantu mengangkat udara lembap dan mendukung pembentukan awan hujan.

    Sebaliknya, ketika udara relatif kering, pergerakan udara ke atas lemah, dan asap berada dalam konsentrasi tinggi, proses pembentukan hujan dapat menjadi kurang efisien. Pengaruh akhirnya bergantung pada interaksi berbagai faktor tersebut, bukan hanya ketebalan asap yang terlihat dari permukaan.

    Hujan juga dapat membantu membersihkan atmosfer dengan membawa sebagian partikel asap turun ke permukaan melalui proses yang dikenal sebagai wet deposition. Namun, turunnya hujan tidak serta-merta menghilangkan seluruh polutan, terutama jika sumber kebakaran masih aktif dan terus melepaskan asap.

    Memahami hubungan antara karhutla dan curah hujan penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan. Asap bukan sekadar masalah kualitas udara, melainkan juga salah satu faktor yang dapat memengaruhi awan dan dinamika atmosfer. Karena itu, pencegahan karhutla tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko polusi, kerusakan ekosistem, serta gangguan terhadap proses cuaca yang dibutuhkan lingkungan.

    Referensi

    National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Oktober 2026. NASA Study Finds a Connection Between Wildfires and Drought
    National Geographic. Diakses pada Oktober 2026. Wildfire Smoke is Transforming Clouds, Making Rainfall Less Likely
    The Conversation. Diakses pada Oktober 2026. Wildfires Can Generate Tornadoes, Lightning and Other Extreme Weather, Sometimes Miles from the Flames
    The Sacramento Bee. Diakses pada Oktober 2026. Wildfire Smoke Can Reduce Raindrops to Meaningless Drizzle, Study Says. Here’s How
    Western Fire Chiefs Association. Diakses pada Oktober 2026. Wildfires and Rain: What You Need to Know

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More