Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi dark showering.
ilustrasi dark showering (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Dark showering adalah tren mandi dengan minim cahaya untuk tujuan relaksasi.

  • Klaim manfaatnya berkaitan dengan ritme sirkadian dan hormon melatonin.

  • Efeknya bisa berbeda pada setiap orang dan cara mandi ini tidak bebas risiko.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa tahun terakhir, kamar mandi tidak lagi hanya menjadi ruang mandi. Ternyata ada fungsi tambahan, yaitu menjadi ruang "transisi" antara hari yang sibuk dan malam yang diharapkan lebih tenang. Dari kebutuhan inilah muncul tren dark showering, yaitu mandi dengan lampu dimatikan atau cahaya dibuat sangat redup, sering kali hanya mengandalkan cahaya lilin atau lampu ambient.

Tren ini ramai dibicarakan di media sosial, terutama di kalangan mereka yang mencari cara sederhana untuk menurunkan stres dan memperbaiki kualitas tidur. Platform seperti TikTok dan Instagram dipenuhi testimoni yang menyebut dark showering terasa “grounding”, menenangkan, dan membantu tubuh lebih siap beristirahat. Media gaya hidup internasional kemudian mengulasnya sebagai bagian dari ritual wind-down sebelum tidur.

Secara konsep, dark showering memadukan dua hal yang sudah lama dikenal dalam dunia kesehatan, yaitu paparan cahaya rendah dan air hangat. Keduanya diyakini berperan dalam menurunkan rangsangan sistem saraf dan memberi sinyal pada tubuh bahwa waktu aktif sudah usai. Namun, seberapa besar klaim manfaat ini didukung sains?

Potensi manfaat dark showering bagi kesehatan

Manfaat utama yang paling sering dikaitkan dengan dark showering adalah perbaikan kualitas tidur.

Paparan cahaya terang, terutama cahaya biru, diketahui dapat menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur-bangun. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan dengan cahaya redup pada malam hari membantu melatonin dilepaskan secara optimal, sehingga tubuh lebih mudah mengantuk dan memasuki fase tidur lebih dalam.

Mandi air hangat sudah lama dikaitkan dengan tidur yang lebih cepat dan nyenyak. Studi dalam jurnal Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa mandi atau berendam air hangat 1–2 jam sebelum tidur dapat mempercepat waktu terlelap dengan membantu penurunan suhu inti tubuh setelah keluar dari kamar mandi. Dark showering menggabungkan efek ini dengan minimnya rangsangan visual, sehingga otak menerima lebih sedikit sinyal “siang hari”.

Selain tidur, beberapa ahli menilai bahwa dark showering berpotensi membantu regulasi stres. Lingkungan gelap dan tenang dapat mengurangi input sensorik, memberi ruang bagi sistem saraf parasimpatik, yaitu sistem yang bertanggung jawab atas relaksasi, untuk bekerja lebih dominan. Meski manfaat ini lebih bersifat subjektif dan belum banyak diteliti secara spesifik, tetapi konsepnya sejalan dengan prinsip sensory reduction dalam terapi relaksasi.

Potensi risiko dan hal-hal yang perlu diwaspadai

ilustrasi dark showering (pexels.com/Engin Akyurt)

Di balik kesan menenangkan, dark showering juga memiliki risiko. Yang paling jelas adalah keselamatan fisik. Mandi dalam kondisi minim cahaya meningkatkan risiko terpeleset, salah pijak, atau kesulitan melihat perubahan suhu air. Bagi lansia atau orang dengan gangguan keseimbangan, risiko ini menjadi lebih signifikan.

Dari sisi psikologis, tidak semua orang merasa nyaman berada dalam kegelapan. Pada individu dengan kecemasan, trauma, atau fobia gelap, dark showering justru dapat memicu rasa tidak aman dan meningkatkan stres. Alih-alih relaks, tubuh malah masuk ke mode waspada.

Penting juga dicatat bahwa belum ada penelitian klinis yang secara khusus menguji dark showering sebagai intervensi kesehatan. Sebagian besar klaim manfaatnya merupakan turunan dari riset tentang cahaya, melatonin, dan mandi air hangat, bukan praktik dark showering itu sendiri. Artinya, efeknya bisa sangat individual dan tidak dapat disamakan dengan terapi tidur berbasis bukti seperti cognitive behavioral therapy for insomnia (CBT-I).

Dark showering mencerminkan kebutuhan modern akan ritual sederhana yang membantu tubuh dan pikiran melambat. Dengan mengurangi cahaya dan memanfaatkan efek relaksasi air hangat, praktik ini berpotensi membantu sebagian orang memasuki malam dengan lebih tenang, terutama mereka yang sensitif terhadap rangsangan visual sebelum tidur.

Namun, dark showering bukan solusi universal. Manfaatnya belum didukung bukti klinis langsung, dan risikonya, baik fisik maupun psikologis, perlu dipertimbangkan. Jika ingin mencobanya, pendekatan paling aman adalah menggunakan pencahayaan redup alih-alih gelap total, memastikan kamar mandi tidak licin, dan mendengarkan respons tubuh sendiri. Dalam urusan tidur dan kesehatan, ritual terbaik tetaplah yang aman, konsisten, dan sesuai kebutuhan individu.

Referensi

Yumi C. Del Rey et al., “Arginine Modulates the pH, Microbial Composition, and Matrix Architecture of Biofilms From Caries-active Patients,” International Journal of Oral Science 17, no. 1 (November 20, 2025): 70, https://doi.org/10.1038/s41368-025-00404-5.

Shahab Haghayegh et al., “Before-bedtime Passive Body Heating by Warm Shower or Bath to Improve Sleep: A Systematic Review and Meta-analysis,” Sleep Medicine Reviews 46 (April 19, 2019): 124–35, https://doi.org/10.1016/j.smrv.2019.04.008.

Everyday Health. “Can Dark Showering Help You Sleep?” Diakses Januari 2026.

Real Simple. “Dark Showering for Better Sleep—Does It Work?” Diakses Januari 2026.

Glamour. “People Are Taking ‘Dark Showers’ to Sleep Better.” Diakses Januari 2026.

Amir Qaseem et al., “Management of Chronic Insomnia Disorder in Adults: A Clinical Practice Guideline From the American College of Physicians,” Annals of Internal Medicine 165, no. 2 (May 2, 2016): 125–33, https://doi.org/10.7326/m15-2175.

Editorial Team