- Tidak terjadi kehamilan setelah satu tahun berusaha hamil. Ini merupakan penanda utama yang perlu diperiksa oleh dokter.
- Masalah seksual, seperti kesulitan ereksi atau ejakulasi.
- Perubahan fisik pada testis, seperti nyeri, pembengkakan, atau benjolan.
- Volume ejakulasi rendah atau infertilitas karena gangguan transportasi sperma.
14 Penyebab Kemandulan pada Pria, Bikin Khawatir!

- Kemandulan atau infertilitas pada pria merupakan penyebab utama atau kontributor dalam sekitar 40–50 persen dari semua kasus infertilitas pada pasangan.
- Penyebabnya sangat beragam: genetika, hormonal, struktural, medis, hingga gaya hidup.
- Mengidentifikasi gejala dan faktor risiko bisa membantu diagnosis lebih cepat dan segera memulai pengobatan.
Ketidaksuburan (infertilitas) atau kemandulan tidak hanya terjadi pada perempuan. Pria turut berperan signifikan dalam upaya pasangan untuk punya anak. Secara klinis, kemandulan pria atau male infertility didefinisikan ketika seorang pria tidak dapat menyebabkan kehamilan setelah setiap hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi selama satu tahun atau lebih.
Menurut data dari beberapa sumber medis dan lembaga kesehatan, ketidaksuburan pria menjadi penyebab utama atau kontributor dalam sekitar 40–50 persen dari semua kasus infertilitas pada pasangan. Keadaan ini dapat bersifat absolut (tidak bisa punya anak tanpa bantuan medis) atau relatif (penurunan kemungkinan untuk hamil secara alami).
Penting untuk memahami bahwa tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan semua kasus. Infertilitas pria adalah kondisi multifaktorial, yang dipengaruhi oleh genetika, hormon, struktur anatomi, paparan lingkungan, gaya hidup, penyakit dan bahkan pengaruh obat pengobatan tertentu.
Table of Content
Ciri-ciri kemandulan pada pria
Beberapa tanda yang dapat menunjukkan masalah kesuburan pada pria, meskipun tidak semua orang menunjukkannya, antara lain:
Perlu dicatat, beberapa pria tidak memiliki gejala selain ketidakmampuan untuk menyebabkan kehamilan. Itulah mengapa skrining air mani, pemeriksaan hormon, dan konsultasi spesialis sering diperlukan untuk diagnosis yang akurat.
Lantas, apa saja penyebab kemandulan pada pria? Bagaimana tanda dan gejalanya? Yuk, simak bersama ulasan di bawah ini!
1. Varicocele

Varicocele (varikokel) adalah pembesaran pembuluh darah di dalam skrotum. Kondisi ini mengakibatkan aliran darah yang tidak efisien dan dapat meningkatkan suhu di testis, lingkungan yang wajib tetap lebih dingin untuk produksi sperma yang optimal.
Varikokel ditemukan pada hampir 40 persen pria dengan masalah kesuburan, sehingga menjadi salah satu penyebab yang paling umum. Penanganan varikokel melalui pembedahan dapat meningkatkan kualitas sperma pada beberapa kasus.
2. Gangguan hormon
Hormon regulasi seperti testosteron, luteinizing hormone (LH), dan follicle-stimulating hormone (FSH) bekerja sama untuk mendukung produksi dan pematangan sperma. Ketidakseimbangan hormon ini—baik karena kelainan hipofisis, hipotalamus, atau testis—bisa sangat memengaruhi kesuburan.
Contoh lain termasuk hipogonadisme (produksi testosteron rendah) yang mengganggu spermatogenesis, serta hiperprolaktinemia yang dapat menghambat fungsi normal hormon reproduksi.
3. Masalah dalam produksi sperma

Produksi sperma yang tidak mencukupi adalah penyebab umum infertilitas pria.
- Azoospermia berarti tidak ada sperma dalam air mani sama sekali, dan ini terjadi pada sekitar 10–15 persen pria infertil.
- Oligospermia merujuk pada jumlah sperma yang rendah, yang juga mengurangi peluang pembuahan.
Banyak kondisi, termasuk gangguan genetik seperti microdeletion pada kromosom Y (termasuk azoospermia factor), dapat menyebabkan kegagalan spermatogenesis.
4. Infeksi dan peradangan pada testis
Infeksi di testis, epididimis, atau saluran reproduksi dapat merusak jaringan sperma atau menyebabkan jaringan parut yang menghambat transportasi sperma.
Infeksi virus seperti gondongan setelah pubertas dapat menyebabkan orkitis (radang testis), yang berdampak buruk pada produksi sperma.
5. Obstruksi Saluran Reproduksi
Masalah pada ductus deferens, epididimis, atau saluran ejakulasi bisa menghalangi jalur keluar sperma. Kondisi ini bisa bersifat kongenital atau akibat infeksi, operasi, atau trauma.
Obstruksi total dapat mengakibatkan volume air mani rendah atau bahkan tidak ada aliran sperma meski produksi sperma masih terjadi.
6. Cedera atau trauma testis

Cedera langsung pada testis dapat merusak jaringan pembentuk sperma atau menyebabkan peradangan berkepanjangan yang mengganggu produksi dan fungsi sperma.
Bahkan minor trauma yang tampak ringan dapat memiliki dampak jangka panjang jika tidak diatasi dengan tepat.
7. Kelainan genetik
Berbagai kondisi genetik, termasuk sindrom Klinefelter atau mikrodelesi kromosom Y, dapat menyebabkan infertilitas dengan menghentikan atau menghambat produksi sperma secara langsung.
Gangguan ini sering kali tidak terdeteksi tanpa evaluasi genetik atau pemeriksaan laboratorium khusus.
8. Gangguan transportasi sperma (ejakulasi retrograde)
Ejakulasi retrograde terjadi ketika sperma masuk ke kandung kemih alih-alih keluar saat ejakulasi. Ini bukan masalah produksi, tetapi masalah transportasi yang mencegah sperma mencapai sel telur.
Kondisi ini sering terkait dengan diabetes, obat-obatan, atau trauma saraf di panggul atau tulang belakang.
9. Gangguan ejakulasi atau disfungsi seksual

Disfungsi ereksi, ejakulasi dini, atau tidak mampu ejakulasi sama sekali dapat membuat proses konsepsi menjadi sulit bahkan apabila sperma sebenarnya diproduksi dalam jumlah memadai.
Masalah ini bisa disebabkan oleh faktor psikologis, medis, atau kombinasi keduanya.
10. Penyakit kronis dan pengobatan
Kondisi medis seperti diabetes, penyakit ginjal, atau kanker dapat memengaruhi produksi dan fungsi sperma. Beberapa terapi, termasuk kemoterapi atau radiasi, juga berdampak buruk pada spermatogenesis.
Pengobatan hormon eksternal seperti terapi testosteron juga dapat menghambat produksi sperma secara negatif.
11. Paparan toksin dan lingkungan
Paparan polusi industri, pestisida, logam berat, dan zat kimia lainnya dapat memengaruhi kualitas sperma dan produksi sperma secara signifikan.
Iklim kerja, paparan radiasi, dan panas kronis pada testis juga termasuk dalam faktor lingkungan yang memperburuk kesuburan pria.
12. Kebiasaan gaya hidup tidak sehat

Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obat terlarang, serta obesitas berkaitan dengan penurunan kualitas sperma dan kadar hormon testosteron.
Obesitas khususnya dapat memperburuk gangguan hormon dan mengakibatkan resistensi insulin serta inflamasi, yang berdampak pada produksi sperma.
13. Faktor usia
Meski pria tetap bisa bereproduksi lebih lama daripada perempuan, tetapi penurunan kualitas sperma terjadi seiring bertambahnya usia. Ini termasuk penurunan motilitas dan fungsi DNA sperma, yang berdampak pada peluang terjadinya kehamilan.
14. Penyebab yang tidak diketahui (infertilitas idiopatik)
Pada sekitar 30–50 persen kasus infertilitas pria, tidak dapat ditemukan penyebab spesifik meskipun telah dilakukan pemeriksaan standar.
Ini disebut infertilitas idiopatik dan sering mengecewakan pasien dan pasangan karena diagnosis yang kurang jelas.
Faktor risiko ketidaksuburan pada laki-laki

Faktor risiko infertilitas pada laki-laki dan perempuan banyak yang serupa, termasuk:
- Laki-laki usia di atas 40 tahun mungkin kurang subur dibandingkan usia yang lebih muda.
- Merokok tembakau maupun mariyuana bisa menurunkan peluang terjadinya kehamilan. Rokok juga dapat menurunkan efektivitas perawatan kesuburan. Selain itu, rokok juga meningkatkan risiko disfungsi ereksi dan jumlah sperma.
- Konsumsi alkohol berlebihan dapat menurunkan jumlah sperma dan motilitasnya.
- Kelebihan berat badan, yang mana ini bisa berdampak pada jumlah sperma.
- Kurang berolahraga, karena ini bisa menyebabkan obesitas dan meningkatkan risiko ketidaksuburan.
- Terpapar racun.
- Penggunaan obat-obatan terlarang.
- Suhu testis terlalu tinggi.
- Mengalami trauma pada testikel.
- Pernah menjalani vasektomi sebelumnya atau operasi perut atau panggul besar.
- Lahir dengan gangguan kesuburan.
- Konsumsi obat-obatan atau terapi tertentu, seperti operasi atau radiasi sebagai terapi kanker.
Kemandulan pada pria adalah tantangan kesehatan yang kompleks dengan banyak penyebab yang saling terkait. Dari genetika dan masalah hormonal hingga gaya hidup dan paparan lingkungan, setiap faktor memberikan batu loncatan berbeda menuju gangguan reproduksi. Sering kali, penyebabnya bersifat multifaktorial, sehingga pendekatan diagnosis dan terapi yang tepat sering membutuhkan evaluasi tim medis yang komprehensif.
Memahami akar penyebabnya sejak dini membuka peluang intervensi yang lebih efektif, baik melalui pengobatan medis, perubahan gaya hidup, maupun dukungan psikososial untuk pasangan yang sedang berjuang menghadapi infertilitas.
Referensi
"How common is male infertility, and what are its causes?" Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD). Diakses Januari 2026.
"Male Infertility." Mayo Clinic. Diakses Januari 2026.
"What are some possible causes of male infertility?" NICHD. Diakses Januari 2026.
"Male Infertility." Johns Hopkins Medicine. Diakses Januari 2026.
Muhammad Imran et al., “Exploration of the Genetic and Environmental Determinants of Male Infertility: A Comprehensive Review,” Egyptian Journal of Medical Human Genetics 26, no. 1 (April 16, 2025), https://doi.org/10.1186/s43042-025-00703-w.
Friday Ebhodaghe Okonofua et al., “Causes and Risk Factors for Male Infertility: A Scoping Review of Published Studies,” International Journal of General Medicine Volume 15 (July 1, 2022): 5985–97, https://doi.org/10.2147/ijgm.s363959.



















