Suasana di Masjid At Taqwa yang berada dalam kompleks Pertamina Rantau yang dijadikan titik pengungsian (Dok. Jefry for IDN Times)
Insomnia bisa berkembang menjadi kondisi kronis yang berdampak luas terhadap kesehatan dan kualitas hidup. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur justru menjadi salah satu prediktor penting berkembangnya gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Selain itu, gangguan tidur pada korban trauma juga berkaitan dengan meningkatnya perilaku berisiko bagi kesehatan, seperti agresivitas, penyalahgunaan zat, hingga konsumsi alkohol berlebihan sebagai bentuk pelarian.
Secara fisiologis, paparan trauma dapat mengganggu sistem pengaturan stres tubuh, khususnya melalui disfungsi sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA) dan aktivasi sistem saraf simpatik. Aktivasi berlebihan ini memicu kondisi hiperwaspada kronis yang membuat tubuh sulit memasuki fase tidur nyenyak.
Peningkatan hormon stres seperti CRH, ACTH, dan kortisol berkontribusi pada timbulnya insomnia yang menetap. Kondisi serupa juga ditemukan pada korban bencana besar lainnya, seperti Gempa Besar Jepang Timur, yang mana prevalensi insomnia melonjak signifikan beberapa bulan setelah bencana.