Ancaman polusi udara sering tidak terlihat, sampai akhirnya orang sadar udara sedang buruk ketika langit tampak abu-abu, kamu batuk-batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, atau napas berat.
Ternyata, di luar gejala yang tampak, tubuh bisa bereaksi lebih cepat dan lebih halus. Kini para ilmuwan mulai menemukan cara untuk melihat tanda-tanda tak terlihat itu secara real-time dari perangkat yang dipakai sehari-hari.
Sebuah studi pilot yang dipublikasikan dalam jurnal JMIR Formative Research menunjukkan bahwa kombinasi smartwatch, pelacakan GPS smartphone, dan survei suasana hati dapat membantu memantau bagaimana panas ekstrem dan polusi udara memengaruhi tubuh dan emosi sepanjang hari.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari The City University of New York (CUNY), Amerika Serikat, dan melibatkan penggunaan Fitbit selama sekitar satu bulan.
Menariknya, pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi lingkungan tempat seseorang tinggal. Para peneliti justru melacak ke mana seseorang bergerak sepanjang hari, seperti jalan yang dilewati, area dengan polusi lebih tinggi, suhu lingkungan, hingga perubahan fisiologis tubuh mereka.
Menurut peneliti utama, Sameera Ramjan, pendekatan ini membantu mereka memahami bahwa manusia sebenarnya berpindah-pindah melalui banyak lingkungan berbeda setiap hari, bukan hanya berada di satu titik tetap seperti di rumah.
