Cusick, Marika, Sebastian T. Rowland, and Nicholas DeFelice. “Impact of Air Pollution on Running Performance.” Scientific Reports 13, no. 1 (February 1, 2023): 1832.
González-Rojas, Sofía, Rodrigo Yáñez-Sepúlveda, Marcelo Tuesta, Braulio Sánchez-Ureña, José Trejos-Montoya, Jorge Olivares-Arancibia, José Francisco López-Gil, and Daniel Rojas-Valverde. “Air Pollution and Endurance Exercise: A Systematic Review of the Potential Effects on Cardiopulmonary Health.” Life 15, no. 4 (April 3, 2025): 595.
Polusi Udara dan Lari di Kota, Seberapa Berbahaya?

- Saat berlari di kota, tubuh menghirup lebih banyak udara sehingga partikel polusi mudah masuk ke paru-paru dan dapat menurunkan manfaat kesehatan dari olahraga.
- Dampak polusi terhadap pelari berbeda-beda tergantung kondisi tubuh, intensitas latihan, serta durasi paparan; namun paparan jangka panjang tetap berisiko bagi fungsi jantung dan paru.
- Mengecek indeks kualitas udara (AQI) sebelum lari penting dilakukan agar aktivitas tetap aman; AQI tinggi menandakan udara tidak sehat dan sebaiknya hindari lari outdoor.
Berlari di tengah hiruk-pikuk kota memang menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga kebugaran. Namun, di balik manfaat olahraga, ada ancaman lain yang kerap tidak disadari, yaitu polusi udara.
Saat berlari, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga frekuensi dan volume napas meningkat. Kondisi ini membuat pelari menghirup lebih banyak udara, termasuk partikel polusi yang berbahaya bagi tubuh.
Paparan polusi udara saat olahraga bisa memengaruhi saluran pernapasan, paru-paru, hingga kesehatan jantung, terutama jika dilakukan di area dengan lalu lintas padat atau kualitas udara buruk. Karena itu, penting bagi pelari memahami seberapa besar dampak polusi terhadap tubuh agar olahraga tetap aman dan menyehatkan.
Table of Content
1. Polusi udara bisa mengurangi manfaat lari
Meski lari dikenal baik untuk kesehatan jantung dan kebugaran tubuh, tetapi olahraga yang dilakukan di lingkungan dengan polusi udara tinggi ternyata dapat membawa risiko tersendiri. Paparan partikel polusi halus seperti PM2.5 saat berolahraga bisa mengurangi manfaat kesehatan yang seharusnya diperoleh dari aktivitas fisik.
Saat berlari, tubuh menghirup udara lebih banyak dan lebih dalam. Kondisi ini membuat partikel polusi lebih mudah masuk ke paru-paru dan aliran darah. Akibatnya, tubuh bisa mengalami peningkatan tekanan darah, gangguan fungsi pembuluh darah, hingga stres oksidatif dan peradangan.
Dampak tersebut juga dikaitkan dengan gangguan metabolisme tubuh, terutama pada jalur yang berperan penting untuk kesehatan kardiorespirasi dan metabolisme energi. Karena itu, olahraga di area dengan kualitas udara buruk justru bisa memberi tekanan tambahan pada tubuh, terutama jika dilakukan terus dilakukan dalam jangka panjang.
2. Dampaknya bisa berbeda pada setiap pelari

Meski banyak penelitian menunjukkan dampak negatif olahraga di lingkungan berpolusi, tetapi beberapa studi lain menemukan hasil yang berbeda.
Pada sejumlah penelitian terhadap pesepeda perkotaan, misalnya, paparan polusi udara tidak selalu menimbulkan efek langsung pada performa, peradangan, atau fungsi saraf.
Hal serupa juga ditemukan pada atlet olahraga ketahanan seperti triatlon. Paparan ozon dan partikel PM2.5 memang dapat memengaruhi performa, tetapi atlet profesional dinilai cenderung lebih mampu beradaptasi dibandingkan orang biasa.
Namun, paparan polusi udara dalam jangka panjang tetap dikaitkan dengan penurunan fungsi kardiovaskular dan performa fisik, terutama pada atlet perempuan. Karena itu, efek polusi terhadap pelari bisa berbeda-beda tergantung kondisi tubuh, intensitas latihan, durasi paparan, hingga tingkat kebugaran seseorang.
Hingga kini, para peneliti masih terus mempelajari seberapa besar risiko sebenarnya dari olahraga ketahanan di lingkungan berpolusi. Meski begitu, menjaga kualitas udara saat berolahraga tetap dianggap penting untuk meminimalkan dampak kesehatan jangka panjang.
3. Perhatikan AQI sebelum memutuskan lari outdoor
Salah satu cara paling mudah untuk menilai keamanan udara sebelum berlari adalah dengan melihat AQI (Air Quality Index).
AQI merupakan skala yang digunakan untuk mengukur kualitas udara berdasarkan berbagai jenis polutan, termasuk partikel halus PM2.5. Semakin tinggi angka AQI, makin buruk kualitas udaranya.
Secara umum, AQI 0–100 masih dianggap aman untuk sebagian besar orang berolahraga di luar ruangan. Namun, saat AQI berada di angka 101–150, kelompok sensitif seperti penderita asma atau gangguan paru disarankan mulai berhati-hati.
Sementara itu, jika AQI sudah mencapai 151 atau lebih, lari di luar ruangan sebaiknya dihindari karena kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Pada kondisi ini, tubuh berisiko menghirup lebih banyak partikel polusi yang dapat mengganggu paru-paru dan sistem kardiovaskular.
Karena itu, mengecek AQI sebelum lari bisa menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk membantu menjaga kesehatan tubuh di tengah tingginya polusi udara perkotaan.
Meski lari tetap menjadi olahraga yang baik untuk kesehatan, tetapi kualitas udara di sekitar juga perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko bagi tubuh. Memilih waktu dan lokasi lari dengan udara lebih bersih, serta rutin memantau AQI, dapat membantu mengurangi paparan polusi saat berolahraga di kota.
Referensi















![[QUIZ] Tipe Overthinking Kamu Mirip Siapa di 'Upin & Ipin'?](https://image.idntimes.com/post/20240912/untitled-3d8bdd425f726b46c9d7d09f73e5ab42.png)



