"Air pollution linked to recurrent respiratory infections in infants." CIDRAP. Diakses April 2026.
"Ambient air pollution is associated with respiratory infection burden in the first year of life." EurekAlert! Diakses April 2026.
Studi: Polusi Picu Infeksi Pernapasan pada Bayi

Studi terbaru menemukan paparan polusi udara pada tahun pertama kehidupan bayi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan gejala mengi secara signifikan.
Paparan partikel halus PM₁₀, nitrogen oksida, dan nitrogen dioksida terbukti berkorelasi dengan frekuensi infeksi berulang seperti bronkiolitis, bronkitis, hingga otitis media.
Para peneliti menegaskan tahun pertama kehidupan adalah fase kritis pembentukan sistem imun, sehingga peningkatan kualitas udara penting untuk melindungi kesehatan jangka panjang anak.
Kualitas udara sering dianggap sebagai masalah kota besar yang berdampak pada orang dewasa yang banyak beraktivitas di luar ruangan, seperti pekerja kantoran, pengendara, atau mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Namun, ada kelompok yang justru lebih rentan dan sering luput dari perhatia, yaitu bayi pada tahun pertama kehidupannya.
Pada fase ini, tubuh sedang membangun fondasi penting, terutama sistem imun dan paru-paru. Apa yang masuk ke dalam tubuh, termasuk udara yang dihirup setiap hari, bisa memengaruhi bagaimana sistem tersebut berkembang.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa paparan polusi udara sejak dini bukan hanya berdampak sementara, tetapi berpotensi membentuk kesehatan anak dalam jangka panjang.
Table of Content
Polusi udara dan risiko infeksi pernapasan pada bayi
Paparan polusi udara di tahun pertama kehidupan berkaitan dengan meningkatnya frekuensi infeksi saluran pernapasan dan gejala mengi pada bayi. Hal ini terungkap dalam studi longitudinal yang dipimpin oleh Precision Vaccines Program di Boston Children’s Hospital dan dipresentasikan dalam Pediatric Academic Societies Meeting 2026 di Boston, Amerika Serikat.
Penelitian ini menganalisis data dari bayi yang tergabung dalam kohort Immune Development in Early Life Rome. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan kumulatif terhadap polutan umum seperti partikel halus (PM₁₀), nitrogen oksida (NOₓ), dan nitrogen dioksida (NO₂) berkorelasi dengan meningkatnya jumlah infeksi pernapasan yang didiagnosis oleh dokter selama tahun pertama kehidupan.
Yang menarik, tahun pertama kehidupan disebut sebagai “jendela kritis” bagi perkembangan sistem imun. Dalam fase ini, tubuh bayi sedang belajar mengenali dan merespons berbagai paparan dari lingkungan. Polusi udara, yang mengandung berbagai partikel dan zat kimia, kini semakin dipahami sebagai faktor yang dapat mengganggu proses tersebut.
Dampaknya tidak cuma pada paru-paru, tetapi juga sistem imun

Udara yang dihirup bayi tidak hanya memengaruhi kesehatan paru-paru, tetapi juga berpotensi membentuk sistem pertahanan tubuh secara permanen. Peneliti utama, Donato Amodio, menyatakan bahwa ada hubungan yang jelas dan signifikan antara paparan polusi udara perkotaan dengan peningkatan kejadian infeksi pernapasan dan mengi.
Temuan ini menunjukkan bahwa efek polusi tidak berhenti pada iritasi saluran napas. Ada kemungkinan bahwa paparan tersebut mengganggu perkembangan sistem imun, sehingga bayi menjadi lebih rentan terhadap infeksi berulang.
Dengan kata lain, kualitas udara di awal kehidupan bisa menentukan ketahanan tubuh anak terhadap penyakit di masa depan.
Paparan tinggi, risiko infeksi berulang lebih besar
Dalam studi ini, bayi dievaluasi secara berkala pada usia 2, 5, 9, dan 12 bulan. Tim peneliti juga melakukan tindak lanjut melalui telepon untuk mencatat kejadian infeksi dan mengi. Paparan polusi dihitung berdasarkan lokasi tempat tinggal bayi yang dikaitkan dengan data dari stasiun pemantauan kualitas udara.
Hasilnya konsisten, bahwa makin tinggi paparan terhadap PM₁₀, NOₓ, dan NO₂, makin sering bayi mengalami infeksi pernapasan berulang. Di antara ketiga polutan tersebut, PM₁₀ menunjukkan hubungan paling kuat dengan peningkatan risiko.
Infeksi spesifik seperti bronkiolitis, bronkitis, infeksi telinga (otitis media), COVID-19, dan tonsilitis juga ditemukan berhubungan dengan paparan polusi, meskipun korelasinya lebih lemah dibanding total infeksi pernapasan.
Kenapa ini penting untuk diperhatikan?
Temuan ini menambah bukti bahwa polusi udara merupakan faktor risiko kesehatan yang bisa dimodifikasi. Artinya, dengan intervensi yang tepat, baik di level kebijakan maupun individu, risiko ini sebenarnya bisa ditekan.
Para peneliti menekankan bahwa perlindungan terhadap lingkungan menjadi sangat penting, terutama untuk melindungi anak-anak di fase paling rentan dalam hidup mereka.
Upaya seperti meningkatkan kualitas udara, mengurangi emisi, hingga menciptakan lingkungan yang lebih bersih dapat memberikan dampak nyata pada kesehatan generasi mendatang.
Referensi


![[QUIZ] Dari Jenis Rasa Lapar yang Sering Kamu Alami, Ini Pola Metabolismemu](https://image.idntimes.com/post/20250219/salinan-dari-blue-cute-dog-quotes-desktop-wallpaper-11-f966ff7a7b2fe3f18673439831ee292b-5138268e3be9de90e9dfdf73ffc3760f.jpg)









![[QUIZ] Dari Cara Kamu Makan Mi Ayam, Ini Risiko Kesehatan yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20251121/medium-vecteezy_mie-ayam-or-bami-ayam-noodles-with-chicken-and-served-with_21866673_medium_7ea821fc-14b7-42b5-9a6e-29aaff514909.jpg)





