Comscore Tracker

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasi

Pembuluh darah abnormal yang menghubungkan arteri dan vena

Malformasi arteri vena atau arteriovenous malformation adalah jalinan pembuluh darah abnormal yang menghubungkan arteri dan vena. Kondisi abnormal ini akan mengganggu aliran darah normal dan sirkulasi oksigen.

Kondisi ini bisa terjadi di otak, dan bila sampai pecah dapat menyebabkan pendarahan di otak, stroke, atau kerusakan otak. Perlu diwaspadai, yuk, pahami malformasi arteri vena lebih mendalam lewat penjelasan di bawah ini.

1. Apa itu malformasi arteri vena?

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi malformasi arteri vena (kidshealth.org)

Malformasi arteri vena (AVM) adalah kelainan bawaan yang terjadi sejak lahir. Kondisi ini ditandai dengan jaringan arteri dan vena yang rumit dan kusut. Adanya AVM akan membuat darah arteri mengalir dengan cepat di vena.

AVM bisa terjadi di otak, batang otak, atau sumsum tulang belakang. Gejala yang paling umum bisa termasuk pendarahan kejang, sakit kepala, dan masalah neurologis seperti kelumpuhan atau kehilangan bicara, memori, atau penglihatan.

AVM yang menimbulkan pendarahan berpotensi memicu masalah neurologis yang serius, bahkan hingga kematian. Namun, beberapa pengidapnya mungkin tidak perlu merasakan gejala yang serius, mengutip Cleveland Clinic.

2. Gejala malformasi arteri vena berbeda-beda sesuai lokasinya

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi sakit kepala (freepik.com/cookie_studio)

Tanda dan gejala kondisi ini dapat bervariasi sesuai lokasinya. Gejala pertama biasanya muncul setelah terjadi pendarahan. Dilansir Mayo Clinic, berbagai gejala AVM selain pendarahan bisa termasuk:

  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Kejang
  • Hilang kesadaran
  • Hilangnya fungsi neurologis secara progresif
  • Otot yang lemah
  • Kelumpuhan di salah satu bagian tubuh
  • Kehilangan koordinasi yang dapat menyebabkan masalah dengan gaya berjalan
  • Kelemahan pada ekstremitas bawah
  • Sakit punggung
  • Pusing
  • Masalah penglihatan, seperti kehilangan sebagian bidang penglihatan, kehilangan kendali gerakan mata, atau pembengkakan sebagian saraf optik
  • Sensasi yang tidak biasa termasuk mati rasa, kesemutan, atau nyeri yang terasa secara tiba-tiba
  • Kehilangan memori atau demensia
  • Halusinasi
  • Kebingungan

Anak-anak dan remaja dengan AVM mungkin mengalami masalah dengan pembelajaran atau perilaku. Kemudian, salah satu jenis AVM yang disebut vena cacat Galen dapat menimbulkan gejala segera setelah anak lahir, gejala tersebut mungkin mencakup:

  • Pembengkakan pembuluh darah di kulit kepala
  • Kejang
  • Gagal untuk berkembang
  • Gagal jantung kongestif

3. Apa penyebabnya?

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi malformasi arteri vena di otak (rch.org.au)

Hingga kini, penyebab pasti AVM tidak diketahui. Akan tetapi, beberapa ahli menduga kondisi ini terjadi di dalam rahim atau segera setelah bayi lahir.

Gejala akan muncul seiring bertambahnya usia anak. Mengutip Healthline, anak dengan AVM mungkin memiliki warna kebiruan pada kulitnya. Hal ini terjadi karena tidak adanya darah beroksigen yang beredar ke seluruh tubuh.

Kulit cenderung menjadi gelap, menjadi merah tua, atau ungu seiring bertambahnya usia anak. Kondisi ini juga dapat memburuk seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Cedera Ligamen Lutut Anterior: Penyebab, Gejala, Pengobatan

4. Stadium

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi arteriovenous malformation (Atlas of CT Angiography/Gratian Dragoslav Miclaus, Horia Ples)

Seperti dijelaskan di laman Johns Hopkins Medicine, AVM akan tumbuh dan berubah seiring waktu. Kondisi ini punya beberapa tahap atau stadium yang sering diklasifikasikan menggunakan Schöbinger staging system. Namun, tidak semua pengidap AVM akan melewati setiap tahap dari penyakit ini. Tingkat keparahannya dapat dibagi menjadi:

  1. Stadium I (tidak ada gejala): AVM belum menunjukkan gejala atau hanya berupa gejala ringan seperti kulit di atas AVM yang terasa hangat dan berwarna merah muda atau merah.
  2. Stadium II (ekspansi): AVM makin membesar yang menyebabkan denyut nadi mampu dirasakan atau didengar.
  3. Stadium III (kehancuran): AVM menyebabkan rasa sakit, pendarahan, atau luka.
  4. Stadium IV (dekompensasi): pada tahap ini, AVM dapat menyebabkan gagal jantung.

5. Diagnosis malformasi arteri vena

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi tes darah (pexels.com/Artem Podrez)

AVM yang belum pecah biasanya ditemukan saat dokter melakukan tes atau diagnosis untuk kondisi kesehatan yang lain. Jadi, kebanyakan kasus mungkin baru diperiksakan ketika AVM sudah pecah.

Dalam melakukan diagnosis, dokter akan bertanya tentang kondisi medis dan memeriksa pasien. Dilansir Drugs, dokter juga bisa melakukan berbagai tes, seperti:

  • Angiogram: guna memeriksa masalah aliran darah di otak pasien. Sinar-X akan dilakukan saat cairan kontras masuk ke pembuluh darah di otak.
  • Pemindaian CT atau MRI: gambar hasil CT atau MRI dapat dimanfaatkan untuk memeriksa pembuluh darah dan jaringan di otak.
  • Tes darah: ini dilakukan untuk memeriksa kesehatan secara keseluruhan. Kemampuan darah untuk menggumpal juga akan diuji. Tes darah ini bisa termasuk pemeriksaan diabetes. Memiliki diabetes akan meningkatkan risiko pasien mengalami stroke.

6. Perawatan malformasi arteri vena

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi radiosurgery (oncorace.com)

Walaupun tidak bisa disembuhkan, tetapi perawatan tetap penting dilakukan untuk mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup pengidap. Rencana perawatan setiap pasien akan tergantung usia, kondisi, dan kesehatan fisik mereka.

Perawatannya sendiri bertujuan untuk mencegah berbagai komplikasi dari AVM, dan salah satu tujuan terpenting adalah mencegah pendarahan internal yang dapat menyebabkan stroke atau kematian.

Berbagai obat untuk mengontrol rasa sakit dan kejang bisa diresepkan oleh dokter, tetapi obat ini tidak mampu sembuhkan AVM. Selain obat, dokter bisa melakukan operasi untuk memperbaiki atau mengangkat pembuluh darah yang rusak. Mengutip Healthline, ada tiga opsi pembedahan yang bisa dilakukan tergantung jenis AVM yang dialami pengidap, termasuk:

  • Operasi konvensional
  • Embolisasi endovaskular
  • Bedah radio

Embolisasi endovaskular digunakan untuk AVM yang terletak jauh di dalam otak atau jaringan sumsum tulang belakang. Prosedur ini akan menggunakan kateter untuk menutup sambungan abnormal. Metode ini akan mengurangi aliran darah yang mengalir ke AVM dan membuat operasi lebih aman.

Sementara itu, bedah radio akan melibatkan penggunaan sinar radiasi terkonsentrasi dan memfokuskannya langsung pada lokasi AVM. Radiasi tersebut akan merusak dinding pembuluh darah serta menimbulkan jaringan parut. Dengan demikian, ini akan menghentikan aliran darah yang mengalir ke AVM.

7. Komplikasi yang bisa terjadi

Malformasi Arteri Vena: Gejala, Diagnosis, Perawatan, Komplikasiilustrasi pasien stroke (bfm.my)

AVM bisa memicu sejumlah komplikasi yang meliputi:

  • Stroke
  • Mati rasa di bagian tubuh tertentu
  • Masalah dengan ucapan atau gerakan
  • Pada anak-anak, keterlambatan perkembangan mungkin terjadi
  • Hidrosefalus, penumpukan cairan tulang belakang di dalam otak karena tekanan pada jalur cairan tulang belakang yang normal. Hidrosefalus akan menyebabkan pembesaran kepala
  • Kualitas hidup yang lebih rendah
  • Risiko kecil kematian akibat pendarahan (hemorrhage)

Sebagai kelainan yang terjadi sejak lahir, malformasi arteri vena (AVM) tidak dapat dicegah. Meski tidak dapat disembuhkan, tetapi pasien tetap dapat mengelola gejalanya dengan perawatan medis sesuai arahan dokter.

Mengonsumsi obat yang diresepkan bisa membantu mencegah masalah pendarahan, nyeri, dan komplikasi lainnya. Selalu mengelola tekanan darah tinggi dan menghindari obat pengencer darah juga penting untuk mencegah berbagai komplikasi serius dari kondisi ini.

Baca Juga: Myelofibrosis: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, Komplikasi

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya