Orang-orang yang terkena banjir tidak hanya menghadapi bahaya saat air datang. Bahkan setelah air surut, mereka tetap menghadapi dampak kesehatan yang bisa berlangsung lama.
Salah satu penyebab utama adalah munculnya pemicu stres/stresor sekunder (secondary stressors) berupa tekanan yang tidak langsung dari banjir, seperti kerugian ekonomi (penghasilan hilang, biaya pemulihan rumah), dan stres sosial (isolasi, kehilangan jejaring komunitas, hilang atau terganggunya rasa aman).
Baik di desa maupun kota, negara maju maupun berkembang, terbukti rentan terhadap dampak ini. Meski menyadari risiko banjir, tetapi banyak dari mereka yang tidak mengambil tindakan pencegahan serius. Hal ini membuat masyarakat tetap sangat rentan ketika banjir berulang terjadi.
Fenomena flood fatigue syndrome adalah pengingat bahwa bencana tidak hanya merusak fisik lingkungan, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang sering tak terlihat. Ketika berulang kali terdampak banjir, rasa cemas, takut, hingga keputusasaan dapat menumpuk dan meruntuhkan kemampuan seseorang untuk bertahan.
Jadi, selain evakuasi dan perbaikan infrastruktur, penanganan bencana harus melihat manusia secara utuh, bahwa warga yang terdampak butuh pemulihan mental jangka panjang. Dengan dukungan sosial yang kuat, akses layanan kesehatan jiwa yang memadai, serta upaya mitigasi bencana yang lebih baik, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dapat kembali merasa aman dan mampu melanjutkan hidup tanpa terus terbayang ancaman yang sama di depan mata.
Apakah Flood Fatigue Syndrome berbahaya? | Ya, jika dibiarkan, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Dampaknya termasuk stres kronis, burnout, depresi, penurunan produktivitas, serta gangguan imunitas yang membuat tubuh mudah sakit. |
Kapan harus mencari bantuan profesional? | Jika perasaan lelah emosional dan kecemasan berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala seperti serangan panik, depresi, atau tidak mampu tidur sama sekali, sebaiknya konsultasikan ke psikolog atau psikiater. |
Apakah Flood Fatigue Syndrome sama dengan PTSD? | Tidak. Meski sama-sama terkait bencana, Flood Fatigue Syndrome adalah reaksi kelelahan akibat stres berkepanjangan, sementara PTSD adalah gangguan psikologis berat akibat kejadian traumatis yang memunculkan kilas balik, mimpi buruk, atau kecemasan ekstrem. |
Referensi
Stephenson, J., M. Vaganay, R. Cameron, and P. Joseph. “The Long-Term Health Impacts of Repeated Flood Events.” WIT Transactions on Ecology and the Environment 1 (June 2, 2014): 201–12.
Waite, Thomas David, Katerina Chaintarli, Charles R. Beck, Angie Bone, Richard Amlôt, Sari Kovats, Mark Reacher, et al. “The English National Cohort Study of Flooding and Health: Cross-Sectional Analysis of Mental Health Outcomes at Year One.” BMC Public Health 17, no. 1 (January 27, 2017): 129.
French, Clare E, Thomas D Waite, Ben Armstrong, G. James Rubin, Charles R Beck, and Isabel Oliver. “Impact of Repeat Flooding on Mental Health and Health-Related Quality of Life: A Cross-Sectional Analysis of the English National Study of Flooding and Health.” BMJ Open 9, no. 11 (November 1, 2019): e031562.