Di tengah deru malam di tenda pengungsian, seorang ibu hamil berbaring gelisah. Matanya terbuka, menatap atap atau bagian atas tenda, sementara suara tangis anak-anak dan bisik cemas orang-orang di sekitarnya terus terdengar. Tidur, yang seharusnya menjadi kesempatan untuk memulihkan tenaga, sulit dilakukan.
Keterbatasan ruang, rasa tidak nyaman, dan beban psikologis akibat kehilangan rumah atau orang tersayang akibat banjir atau bencana lainnya bisa menyebabkan sulit beristirahat. Padahal, tidur adalah fondasi yang menjaga keseimbangan fisik dan mental sang ibu, sekaligus memberi kesempatan janin tumbuh dengan sehat.
Ketika gangguan tidur terus berulang sepanjang kehamilan, dampaknya bisa dalam dan luas. Ibu bisa makin rentan mengalami kelelahan dan tekanan emosional, sementara bayi yang dikandung berisiko menghadapi masalah kesehatan sejak awal kehidupannya.
Di balik hari-hari tanpa tidur atau tidur yang terganggu, tersembunyi isu kesehatan yang sering luput. Nyatanya, kualitas tidur ibu hamil di pengungsian adalah cermin rapuh dari bagaimana bencana atau konflik meninggalkan jejak pada generasi berikutnya.
