Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Guru Besar UNAIR Pastikan Virus Andes Tidak Ada di Indonesia
ilustrasi penumpang kapal pesiar (pexels.com/Ahmed)
  • WHO mengonfirmasi kasus infeksi virus Andes di kapal pesiar MV Hondius, yang merupakan jenis langka dari hantavirus.

  • Virus Andes dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome dengan risiko kematian tinggi.

  • Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, menegaskan bahwa virus Andes belum pernah ditemukan di Indonesia karena tikus pembawanya hanya ada di Amerika Selatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Virus Andes telah dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai infeksi yang menginfeksi beberapa penumpang di kapal pesiar MV Hondius. Ini merupakan jenis langka dari hantavirus.

Menurut Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, tikus yang membawa virus Andes hanya ada di Amerika Selatan, yaitu long-tailed pygmy rice rat.

Bisa menyebabkan kematian

Virus Andes merupakan satu-satunya dari keluarga hantavirus yang bisa menyebabkan penularan dari manusia ke manusia dengan kontak erat. Dalam kasus kapal pesiar MV Hondius, pasiennya adalah pasangan suami istri, beserta satu orang lainnya.

Jenis ini bisa menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang bisa menyebabkan kegagalan pernapasan sehingga kematiannya bisa mencapai separuh dari jumlah pasien.

Hal yang menyulitkan adalah gejala virus Andes bisa muncul hingga 2 bulan setelah kontak dengan tikus atau manusia yang membawa virus. Namun, paling sering ditemukan di bawah 6 minggu, ada juga 1–2 minggu pertama.

"Gejalanya seperti orang sedang selesma, demam, sakit kepala, nyeri otot, terus merasa lelah, lemas, mau tidur terus. Tidak ada satu yang spesifik. Tapi bisa dengan cepat menjadi sulit bernapas. Kemudian paru-parunya kena, lalu tekanan darah mengalami gangguan sehingga dia terus turun yang biasanya nanti menyebabkan kematian. Susahnya tidak ada pengobatan," jelas Prof. Dominicus.

Tidak ada kasus Andes virus di Indonesia

ilustrasi tikus-tikus keluar dari tempat persembunyian (pixabay.com/Elisa)

Ditegaskan oleh Prof. Dominicus bahwa virus Andes tidak ada dan belum pernah ditemukan di Indonesia.

"Kita belum pernah menemukan virus Andes di Indonesia. Jadi di Indonesia itu penularannya murni terjadi dari tikus. Mohon tidak keliru menyamakannya dengan leptospirosis," imbuhnya.

Jenis tikus yang membawa virus Andes ditegaskannya kembali hanya ada di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Cile.

Editorial Team