Langkah itu awalnya mantap. Di tengah arus jutaan manusia yang bergerak menuju lokasi jumrah, seorang jemaah tampak berjalan seperti yang lain. Langkahnya pelan, teratur, mengikuti ritme ibadah. Matahari siang lebih dari terik, tetapi juga menyengat, seperti membakar dari kepala hingga ujung kaki. Suhu mendekati 50 derajat Celsius, dan aspal memantulkan panas dari bawah.
Beberapa menit kemudian, langkahnya melambat. Ia berhenti. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin menjaga keseimbangan. Lalu akhirnya ia roboh, tanpa teriakan, tanpa tanda dramatis lainnya.
Kejadian seperti ini berulang setiap musim haji. Di Tanah Suci, fenomena jemaah yang tumbang tiba-tiba bukan sekadar kelelahan biasa. Dalam banyak kasus, ini adalah manifestasi dari kondisi medis serius, yaitu heatstroke.
