Para peneliti menggunakan tes penciuman bernama University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT). Tes ini melibatkan 40 bau berbeda, mulai dari aroma buah hingga bahan kimia.
Lebih dari 2.900 penyintas COVID-19 ikut serta, dengan sebagian besar adalah perempuan berusia rata-rata 47 tahun. Kelompok pembanding juga diikutsertakan, yakni sekitar 569 orang tanpa riwayat infeksi.
Banyak peserta yang awalnya tidak merasa kehilangan indra penciuman. Namun, setelah diuji, mereka memang mengalami gangguan. Bahkan:
Sebanyak 66 persen penyintas COVID-19 yang tidak melaporkan gangguan penciuman tetap menunjukkan hasil tes yang abnormal.
Lebih dari 23 persen di antaranya tergolong parah.
Bahkan pada kelompok yang tidak pernah terinfeksi, sekitar 60 persen juga mengalami gangguan ringan, menunjukkan betapa rumitnya masalah ini.
Tim peneliti juga menemukan pola unik. Ada kelompok yang kehilangan kemampuan mencium aroma tertentu, seperti jeruk, semangka, hingga bubble gum. Gangguan ini dianggap oleh para peneliti terkait dengan fungsi kognitif, karena indra penciuman berhubungan erat dengan memori, emosi, dan pengambilan keputusan.