ilustrasi minum antibiotik (IDN Times/Novaya Siantita)
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dalam studi ini adalah meningkatnya kematian yang berkaitan dengan bakteri yang kebal terhadap karbapenem, yaitu kelas antibiotik yang selama ini dianggap sebagai lini terakhir. Resistensi terhadap karbapenem pada A. baumannii, E. coli, K. pneumoniae, dan P. aeruginosa menunjukkan tren peningkatan di sejumlah wilayah.
Mengapa ini penting? Karbapenem digunakan ketika antibiotik lain sudah tidak efektif. Jika bakteri menjadi kebal terhadap obat ini, pilihan terapi menjadi sangat terbatas. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memperkirakan resistensi terhadap antibiotik lini terakhir dapat meningkat tajam pada dekade mendatang jika tidak ada intervensi.
Di tingkat biologis, resistensi muncul akibat perubahan genetik bakteri, yang dipercepat oleh penggunaan antibiotik berlebihan atau tidak tepat. Ketika antibiotik digunakan tanpa indikasi jelas atau tidak dihabiskan sesuai resep, bakteri yang tersisa dapat beradaptasi dan berkembang menjadi strain kebal. Proses ini tidak hanya mempersulit terapi individual, tetapi juga meningkatkan risiko penularan strain resisten di masyarakat.
WHO melalui Global Action Plan on AMR menekankan pentingnya pengawasan antibiotik, penguatan sistem surveilans, serta akses merata terhadap vaksin dan diagnosis. Tanpa upaya kolektif, infeksi paru yang sebelumnya dapat ditangani dengan terapi standar berpotensi kembali menjadi penyebab kematian yang sulit dikendalikan.
Dunia memang berhasil menurunkan kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah selama tiga dekade terakhir. Namun, resistensi antibiotik kini menggerus pencapaian tersebut. Pada 2021, hampir separuh kematian akibat infeksi paru berkaitan dengan bakteri resisten, yang menunjukkan bahwa krisis ini sangat nyata.
Ketimpangan sosial-ekonomi, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik lini terakhir, dan tren kenaikan pada kelompok usia lanjut menuntut respons global yang lebih tegas. Penguatan kebijakan penggunaan antibiotik, investasi dalam riset obat baru, serta akses vaksin dan layanan kesehatan dasar menjadi fondasi. Tanpanya, infeksi yang dulunya dapat disembuhkan bisa kembali menjadi ancaman mematikan.
Referensi
Rose Grace Bender et al., “Global, Regional, and National Incidence and Mortality Burden of non-COVID-19 Lower Respiratory Infections and Aetiologies, 1990–2021: A Systematic Analysis From the Global Burden of Disease Study 2021,” The Lancet Infectious Diseases 24, no. 9 (April 15, 2024): 974–1002, https://doi.org/10.1016/s1473-3099(24)00176-2.
Zu-Li Zhang, Ke-Li Qian, and Ming-Zhao Xiao, “Global Burden of Lower Respiratory Infections Associated With Antimicrobial Resistance: Insights From the Global Burden of Disease 2021,” Antimicrobial Resistance and Infection Control, February 21, 2026, https://doi.org/10.1186/s13756-026-01720-z.
“Global Action Plan on Antimicrobial Resistance.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
Mohsen Naghavi et al., “Global Burden of Bacterial Antimicrobial Resistance 1990–2021: A Systematic Analysis With Forecasts to 2050,” The Lancet 404, no. 10459 (September 1, 2024): 1199–1226, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(24)01867-1.
"Global antimicrobial resistance and use surveillance system (GLASS) report: 2022." WHO. Diakses Februari 2026.
“Antimicrobial Resistance.” Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Diakses Februari 2026.
Gang Liu, Line Elnif Thomsen, and John Elmerdahl Olsen, “Antimicrobial-induced Horizontal Transfer of Antimicrobial Resistance Genes in Bacteria: A Mini-review,” Journal of Antimicrobial Chemotherapy 77, no. 3 (November 22, 2021): 556–67, https://doi.org/10.1093/jac/dkab450.