Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Infeksi Paru Makin Kebal Antibiotik, Siapa Paling Rentan?
ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah memang menurun sejak 1990, tetapi kasus yang melibatkan bakteri resisten antibiotik lebih mematikan.

  • Pada 2021, kematian akibat infeksi paru terkait resistensi antibiotik 2–3 kali lebih tinggi dibanding infeksi yang masih sensitif terhadap obat.

  • Beban terbesar terjadi di negara berpendapatan rendah dan pada kelompok usia di atas 50 tahun, dengan tren peningkatan pada bakteri yang kebal terhadap antibiotik lini terakhir seperti karbapenem.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama tiga dekade terakhir, dunia mencatat kemajuan besar dalam menekan kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah (lower respiratory infection/LRI), termasuk pneumonia dan bronkiolitis. Analisis terbaru dari Global Burden of Disease (GBD) 2021 menunjukkan bahwa kematian global akibat LRI turun dari sekitar 4 juta kasus pada 1990 menjadi 3,5 juta pada 2021, dengan penurunan angka kematian terstandar usia hampir separuhnya.

Namun, di balik penurunan tersebut, muncul ancaman yang berkembang diam-diam, yaitu resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR). Studi terbaru yang dipublikasikan di Antimicrobial Resistance & Infection Control menemukan bahwa kematian akibat LRI yang melibatkan bakteri resisten antibiotik 2–3 kali lebih tinggi dibanding infeksi yang masih sensitif terhadap antibiotik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menyebut AMR sebagai salah satu ancaman kesehatan global terbesar abad ke-21. Data GBD 2021 bahkan menunjukkan bahwa secara global, resistensi bakteri berkontribusi langsung terhadap lebih dari 1 juta kematian pada 2021 dan terkait dengan jutaan lainnya. Dalam konteks infeksi paru, resistensi bukan sekadar komplikasi tambahan, melainkan menjadi pengganda risiko yang membuat penyakit umum menjadi jauh lebih mematikan.

Siapa yang paling terdampak?

Analisis berbasis data GBD 2021 menunjukkan beban terbesar kematian akibat LRI resisten antibiotik terjadi di wilayah dengan Socio-Demographic Index (SDI) rendah, terutama di sub-Sahara Afrika dan sebagian Asia Selatan. Hubungan antara tingkat pembangunan sosial-ekonomi dan angka kematian akibat AMR bersifat terbalik: makin rendah SDI suatu wilayah, makin tinggi angka kematian terstandar akibat infeksi resisten.

Kelompok usia juga menunjukkan pola yang mencolok. Dalam 30 tahun terakhir, kematian pada anak usia di bawah 5 tahun menurun signifikan. Namun, pada populasi usia ≥50 tahun, tren justru menunjukkan peningkatan untuk beberapa patogen resisten, terutama Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa.

Secara global, sekitar 82 persen kematian akibat LRI pada 2021 disebabkan oleh infeksi bakteri. Enam patogen utama (Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Escherichia coli) menyumbang lebih dari dua pertiga kematian akibat infeksi bakteri tersebut. Dari seluruh kematian LRI, hampir setengahnya berkaitan dengan resistensi antibiotik.

Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan global: wilayah dengan akses terbatas terhadap sanitasi, layanan kesehatan, vaksinasi, dan pengawasan antibiotik menanggung beban terbesar. WHO dalam laporan Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) 2022 menyoroti tingginya proporsi bakteri resisten di banyak negara, termasuk resistensi terhadap sefalosporin generasi ketiga dan metisilin.

Ketika antibiotik lini terakhir mulai gagal

ilustrasi minum antibiotik (IDN Times/Novaya Siantita)

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dalam studi ini adalah meningkatnya kematian yang berkaitan dengan bakteri yang kebal terhadap karbapenem, yaitu kelas antibiotik yang selama ini dianggap sebagai lini terakhir. Resistensi terhadap karbapenem pada A. baumannii, E. coli, K. pneumoniae, dan P. aeruginosa menunjukkan tren peningkatan di sejumlah wilayah.

Mengapa ini penting? Karbapenem digunakan ketika antibiotik lain sudah tidak efektif. Jika bakteri menjadi kebal terhadap obat ini, pilihan terapi menjadi sangat terbatas. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memperkirakan resistensi terhadap antibiotik lini terakhir dapat meningkat tajam pada dekade mendatang jika tidak ada intervensi.

Di tingkat biologis, resistensi muncul akibat perubahan genetik bakteri, yang dipercepat oleh penggunaan antibiotik berlebihan atau tidak tepat. Ketika antibiotik digunakan tanpa indikasi jelas atau tidak dihabiskan sesuai resep, bakteri yang tersisa dapat beradaptasi dan berkembang menjadi strain kebal. Proses ini tidak hanya mempersulit terapi individual, tetapi juga meningkatkan risiko penularan strain resisten di masyarakat.

WHO melalui Global Action Plan on AMR menekankan pentingnya pengawasan antibiotik, penguatan sistem surveilans, serta akses merata terhadap vaksin dan diagnosis. Tanpa upaya kolektif, infeksi paru yang sebelumnya dapat ditangani dengan terapi standar berpotensi kembali menjadi penyebab kematian yang sulit dikendalikan.

Dunia memang berhasil menurunkan kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah selama tiga dekade terakhir. Namun, resistensi antibiotik kini menggerus pencapaian tersebut. Pada 2021, hampir separuh kematian akibat infeksi paru berkaitan dengan bakteri resisten, yang menunjukkan bahwa krisis ini sangat nyata.

Ketimpangan sosial-ekonomi, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik lini terakhir, dan tren kenaikan pada kelompok usia lanjut menuntut respons global yang lebih tegas. Penguatan kebijakan penggunaan antibiotik, investasi dalam riset obat baru, serta akses vaksin dan layanan kesehatan dasar menjadi fondasi. Tanpanya, infeksi yang dulunya dapat disembuhkan bisa kembali menjadi ancaman mematikan.

Referensi

Rose Grace Bender et al., “Global, Regional, and National Incidence and Mortality Burden of non-COVID-19 Lower Respiratory Infections and Aetiologies, 1990–2021: A Systematic Analysis From the Global Burden of Disease Study 2021,” The Lancet Infectious Diseases 24, no. 9 (April 15, 2024): 974–1002, https://doi.org/10.1016/s1473-3099(24)00176-2.

Zu-Li Zhang, Ke-Li Qian, and Ming-Zhao Xiao, “Global Burden of Lower Respiratory Infections Associated With Antimicrobial Resistance: Insights From the Global Burden of Disease 2021,” Antimicrobial Resistance and Infection Control, February 21, 2026, https://doi.org/10.1186/s13756-026-01720-z.

“Global Action Plan on Antimicrobial Resistance.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

Mohsen Naghavi et al., “Global Burden of Bacterial Antimicrobial Resistance 1990–2021: A Systematic Analysis With Forecasts to 2050,” The Lancet 404, no. 10459 (September 1, 2024): 1199–1226, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(24)01867-1.

"Global antimicrobial resistance and use surveillance system (‎GLASS)‎ report: 2022." WHO. Diakses Februari 2026.

“Antimicrobial Resistance.” Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Diakses Februari 2026.

Gang Liu, Line Elnif Thomsen, and John Elmerdahl Olsen, “Antimicrobial-induced Horizontal Transfer of Antimicrobial Resistance Genes in Bacteria: A Mini-review,” Journal of Antimicrobial Chemotherapy 77, no. 3 (November 22, 2021): 556–67, https://doi.org/10.1093/jac/dkab450.

Editorial Team