Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Antibiotik saat Hamil Dikaitkan dengan Risiko Infeksi GBS pada Bayi

Ibu hamil minum obat antibiotik.
ilustrasi ibu hamil minum obat (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Bayi yang terpapar antibiotik saat dalam kandungan memiliki risiko infeksi group B Streptococcus (GBS) yang lebih tinggi.
  • Risiko paling besar terlihat pada paparan antibiotik pada awal trimester ketiga.
  • Gangguan mikrobiota ibu diduga berperan dalam meningkatnya kolonisasi GBS.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebuah studi kohort berbasis populasi di Swedia menyoroti hubungan yang jarang dibahas, yaitu penggunaan antibiotik selama kehamilan dan risiko infeksi group B Streptococcus (GBS) pada bayi baru lahir. Penelitian ini dipimpin oleh tim dari Karolinska Institute dan dipublikasikan dalam Journal of Infection.

Para peneliti menganalisis lebih dari 1 juta kelahiran tunggal hidup di Swedia antara 2006 hingga 2016, menggunakan empat registri nasional. Sekitar 24,5 persen kehamilan tercatat memiliki paparan antibiotik prenatal, dan hampir 5 persen terpapar pada lebih dari satu trimester. Pada populasi ini, angka kejadian GBS tercatat 0,71 per 1.000 kelahiran hidup.

Hasilnya menunjukkan bahwa bayi yang terpapar antibiotik selama kehamilan memiliki insiden GBS lebih tinggi dalam empat minggu pertama kehidupan dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar. Secara keseluruhan, risikonya meningkat sekitar 29 persen. Temuan ini menjadi perhatian, mengingat GBS masih menyumbang sekitar 40 persen infeksi berat dengan onset dini pada bayi baru lahir di Swedia, meskipun strategi pencegahan selama persalinan sudah diterapkan sejak 2008.

Risiko yang lebih tinggi dan dugaan mekanisme biologis

Risiko tersebut ternyata tidak merata. Pada kehamilan tanpa faktor risiko GBS yang diketahui, paparan antibiotik prenatal dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 34 persen. Sebaliknya, pada kehamilan yang sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko GBS, hubungan ini tidak terlihat jelas. Yang paling mencolok, paparan antibiotik pada awal trimester ketiga menunjukkan asosiasi terkuat, dengan peningkatan risiko hingga 67 persen.

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum bisa dianggap sebagai hubungan sebab-akibat. Namun, mereka mengajukan hipotesis biologis yang masuk akal, bahwa antibiotik dapat mengganggu mikrobiota ibu, khususnya menurunkan jumlah Lactobacillus di vagina. Padahal, bakteri ini berperan penting dalam menekan kolonisasi GBS secara alami.

Dengan sekitar seperempat kehamilan di dunia melibatkan penggunaan antibiotik, meningkatnya resistansi GBS, dan belum tersedianya vaksin GBS untuk ibu hamil, temuan ini menambah lapisan kehati-hatian baru. Para peneliti menekankan perlunya studi lanjutan dengan data antibiotik yang lebih rinci, termasuk dosis dan waktu pemberian, untuk benar-benar memahami implikasi klinisnya.

Di tengah kebutuhan antibiotik yang sering kali tak terhindarkan selama kehamilan, penelitian ini mengingatkan bahwa setiap intervensi medis membawa konsekuensi yang perlu dipahami secara utuh. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi lebih untuk memantapkan keputusan berbasis bukti.

Referensi

Thi Cam Tu Ha et al., “Antibiotic Use During Pregnancy and Neonatal Group B Streptococcus Disease,” Journal of Infection 92, no. 2 (December 29, 2025): 106669, https://doi.org/10.1016/j.jinf.2025.106669.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Suplemen Ibu Hamil dan Menyusui: Sama atau Berbeda?

14 Jan 2026, 21:51 WIBHealth