Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kapan Laki-Laki Perlu Cek Kesehatan Reproduksi?
ilustrasi laki-laki melakukan cek kesehatan reproduksi (freepik.com/stefamerpik)
  • Masalah kesuburan tidak hanya dialami perempuan; sekitar 40–50 persen kasus infertilitas pasangan disebabkan oleh kondisi reproduksi laki-laki yang bisa dideteksi lewat pemeriksaan dini.
  • Laki-laki dianjurkan cek kesehatan reproduksi jika sulit memiliki anak, punya riwayat penyakit tertentu, atau mengalami gejala seperti nyeri testis, gangguan ereksi, dan penurunan gairah seksual.
  • Pemeriksaan sebelum menikah dan bagi yang bergaya hidup berisiko penting dilakukan agar masalah kesuburan dapat diatasi lebih cepat melalui perubahan gaya hidup, terapi medis, atau program reproduksi berbantu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti bahwa pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi laki-laki bukan sekadar langkah medis, tetapi juga bentuk kesadaran diri yang positif. Dengan mengenali tanda-tanda awal dan melakukan pemeriksaan sejak dini, laki-laki memiliki peluang lebih besar untuk menangani masalah secara efektif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa banyak kondisi reproduksi dapat diatasi, bahkan diperbaiki melalui perubahan gaya hidup dan terapi yang tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang masih menganggap masalah kesuburan hanya berkaitan dengan perempuan. Padahal, laki-laki juga berkontribusi besar terhadap kasus sulitnya memiliki anak. Bahkan, sekitar 40–50 persen masalah infertilitas pasangan berkaitan dengan kondisi reproduksi laki-laki.

Sayangnya, masih banyak laki-laki yang menunda pemeriksaan karena merasa sehat-sehat saja. Padahal, cek kesehatan reproduksi bisa membantu mendeteksi masalah sejak dini, mulai dari jumlah sperma rendah sampai gangguan hormon. Makin cepat diketahui, makin besar peluang untuk ditangani. Lantas, kapan laki-laki perlu melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi?

1. Saat sudah lama menikah tapi belum memiliki anak

Ini menjadi alasan paling umum seseorang perlu melakukan pemeriksaan fertilitas.

Jika pasangan berusia di bawah 35 tahun dan sudah rutin berhubungan tanpa kontrasepsi selama satu tahun tetapi belum terjadi kehamilan, maka pemeriksaan kesuburan dianjurkan.

Sementara itu, untuk pasangan usia 35 tahun ke atas, pemeriksaan biasanya disarankan setelah enam bulan mencoba program hamil tanpa hasil. Hal ini karena kualitas sperma juga bisa menurun seiring bertambahnya usia.

Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui apakah ada gangguan seperti jumlah sperma rendah, gerakan sperma kurang aktif, atau masalah hormonal.

2. Jika pernah mengalami penyakit tertentu

Beberapa kondisi kesehatan ternyata bisa memengaruhi kualitas sperma dan kesuburan laki-laki.

Misalnya, diabetes, gangguan tiroid, hingga varikokel atau pelebaran pembuluh darah di area skrotum.

Selain itu, riwayat operasi testis, cedera pada area reproduksi, atau infeksi seperti gondongan juga bisa berdampak terhadap produksi sperma.

Karena itu, laki-laki dengan riwayat kondisi tersebut sebaiknya tidak menunggu sampai mengalami infertilitas untuk melakukan pemeriksaan. Kadang masalah reproduksi tidak menimbulkan gejala yang jelas. Jadi, cek kesehatan bisa menjadi langkah pencegahan yang penting.

3. Ketika mengalami gejala pada organ reproduksi

ilustrasi nyeri pada testis (freepik.com/krakenimages)

Tubuh sebenarnya sering memberi tanda ketika ada masalah kesehatan reproduksi. Sayangnya, gejala ini kerap dianggap sepele. Beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan, antara lain:

  • Nyeri atau bengkak pada testis.

  • Gangguan ereksi.

  • Gairah seksual menurun.

  • Nyeri saat ejakulasi.

  • Volume sperma sangat sedikit.

  • Benjolan di area skrotum.

Jika mengalami salah satu gejala tersebut, jangan tunda konsultasi ke dokter andrologi atau urologi.

4. Saat akan menikah

Pemeriksaan kesehatan reproduksi sebelum menikah sebenarnya juga penting, terutama bagi pasangan yang ingin segera memiliki anak setelah menikah.

Pemeriksaan ini membantu mendeteksi masalah yang mungkin masih bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup, obat-obatan, atau terapi tertentu. Jadi, pasangan bisa lebih siap menjalani program kehamilan tanpa harus menunggu lama.

Selain itu, beberapa kondisi genetik tertentu juga bisa diketahui lebih awal melalui pemeriksaan khusus.

5. Memiliki gaya hidup tertentu

Banyak laki-laki tidak sadar bahwa kebiasaan sehari-hari bisa memengaruhi kualitas sperma. Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, kurang tidur, sampai stres berkepanjangan diketahui dapat menurunkan kualitas sperma.

Paparan zat kimia, panas berlebih, atau radiasi dari lingkungan kerja tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Karena itu, laki-laki dengan pekerjaan berisiko tinggi biasanya dianjurkan melakukan pemeriksaan secara rutin.

Varikokel juga termasuk kondisi yang cukup umum terjadi pada laki-laki. Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah di skrotum melebar dan bisa mengganggu produksi sperma. Kabar baiknya, varikokel sering kali masih dapat ditangani melalui prosedur medis.

Tidak semua masalah kesuburan menandakan seseorang tidak bisa memiliki keturunan. Banyak kondisi yang sebenarnya masih dapat diperbaiki melalui perubahan pola hidup, suplemen tertentu, terapi hormon, atau program reproduksi berbantu seperti inseminasi buatan dan IVF.

Karena itu, pemeriksaan reproduksi sebaiknya tidak dianggap memalukan atau menakutkan. Justru dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, laki-laki bisa mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan reproduksi dan merencanakan masa depan keluarga dengan lebih baik.

Referensi

American Pregnancy Association. Diakses pada Mei 2026. "Preconception Health For Men."

Bourn Hall. Diakses pada Mei 2026. "Male Fertility Test: When and Why to Get One."

Emory Healthcare. Diakses pada Mei 2026. "Male Infertility is Common and Treatable: When to See a Specialist."

Women & Infants. Diakses pada Mei 2026. "Fertility Testing & Diagnosis for Men."

Editorial Team