Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Buka Puasa Perlu Disegerakan? Ini Alasannya
ilustrasi berbuka puasa (pexels.com/Werner Pfennig)
  • Menunda buka puasa dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit, terutama di area beriklim panas.

  • Gula darah yang terlalu lama rendah berisiko memicu hipoglikemia, terutama pada kelompok rentan.

  • Berbuka tepat waktu membantu menstabilkan metabolisme dan mencegah stres fisiologis berlebihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang waktu berbuka, tubuh berada dalam kondisi fisiologis yang sangat berbeda dibanding pada pagi hari. Setelah belasan jam tanpa asupan cairan dan makanan, tubuh bekerja keras mempertahankan keseimbangan cairan, kadar gula darah, dan tekanan darah.

Menyegerakan berbuka adalah anjuran. Dari sudut pandang medis, kebiasaan ini juga ada dasar ilmiahnya. Berbagai penelitian dan panduan organisasi kesehatan internasional menunjukkan bahwa menunda asupan cairan dan makanan setelah periode puasa panjang dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan individu dengan penyakit kronis.

1. Risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit

Selama puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan sama sekali. Dalam kondisi cuaca panas atau aktivitas fisik tinggi, kehilangan cairan melalui keringat tetap terjadi.

Dehidrasi dapat memicu pusing, lemas, tekanan darah rendah, hingga gangguan fungsi ginjal jika berlangsung berat.

Sebuah studi menyebut bahwa puasa Ramadan pada umumnya aman bagi individu sehat, tetapi risiko dehidrasi meningkat pada suhu tinggi dan durasi puasa panjang. Penelitian lain menunjukkan bahwa dehidrasi berulang dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama pada individu dengan faktor risiko penyakit ginjal.

Menunda berbuka berarti memperpanjang periode tanpa cairan, yang dapat memperberat defisit cairan tubuh. Dalam kondisi ekstrem, gangguan elektrolit seperti ketidakseimbangan natrium dan kalium bisa terjadi, yang berpengaruh pada fungsi jantung dan saraf.

2. Risiko kadar gula darah terlalu rendah

ilustrasi gula darah rendah (freepik.com/xb100)

Selama puasa, tubuh menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi. Setelah cadangan ini menurun, tubuh beralih ke metabolisme lemak dan produksi keton.

Bagi individu sehat, mekanisme ini relatif stabil. Namun, pada orang dengan diabetes atau gangguan metabolik, risiko hipoglikemia meningkat.

International Diabetes Federation (IDF) dan Diabetes and Ramadan International Alliance dalam panduan Diabetes and Ramadan (DAR) Practical Guidelines menekankan bahwa hipoglikemia adalah salah satu komplikasi paling umum saat puasa Ramadan.

Gejala hipoglikemia meliputi gemetar, keringat dingin, kebingungan, hingga penurunan kesadaran. Jika seseorang sudah menunjukkan tanda-tanda ini, berbuka harus segera dilakukan demi keselamatan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa individu dengan diabetes tipe 2 yang berpuasa memiliki peningkatan risiko episode hipoglikemia, terutama jika terapi tidak disesuaikan.

Menunda berbuka setelah matahari terbenam berarti memperpanjang periode kadar gula rendah, yang pada kelompok rentan bisa berdampak sangat serius.

3. Risiko pada tekanan darah dan stres fisiologis

Puasa memengaruhi tekanan darah dan respons hormonal. Tubuh meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol untuk mempertahankan kadar energi. Sebuah studi menyebutkan bahwa puasa Ramadan dapat menyebabkan perubahan tekanan darah dan denyut jantung, terutama pada individu dengan riwayat hipertensi.

Pada akhir hari, ketika cadangan energi menurun dan tubuh dalam kondisi dehidrasi ringan, tekanan darah bisa turun mendadak saat berdiri (hipotensi ortostatik), memicu pusing atau bahkan pingsan.

Menyegerakan berbuka membantu menghentikan fase stres fisiologis ini. Asupan cairan dan glukosa akan memicu respons insulin, menurunkan hormon stres, serta memulihkan keseimbangan sirkulasi secara bertahap.

4. Siapa saja yang harus lebih waspada?

ilustrasi lansia (pexels.com/RDNE Stock project)

Kelompok berikut memiliki risiko lebih tinggi jika menunda berbuka puasa:

  • Individu dengan diabetes.

  • Lansia.

  • Ibu hamil atau menyusui.

  • Penderita penyakit ginjal atau jantung.

  • Pekerja lapangan di lingkungan panas.

Individu dengan kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa, dan harus segera berbuka jika mengalami gejala serius seperti pusing berat atau hipoglikemia.

Segerakan berbuka dengan air putih dan camilan

Menyegerakan berbuka bukan berarti makan berlebihan. Rekomendasinya adalah berbuka dengan air putih dan makanan ringan yang mudah dicerna untuk memulihkan kadar gula darah dan cairan secara bertahap.

Dari sisi fisiologi, waktu magrib adalah titik ketika tubuh sudah mencapai batas adaptasi metabolik hari itu. Menunda berbuka berarti memperpanjang periode stres metabolik tanpa manfaat tambahan.

Tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Namun, adaptasi tetap memiliki batas. Memberi asupan tepat waktu adalah bentuk penghargaan terhadap kerja sistem metabolisme yang sudah bertahan seharian.

Puasa memberikan banyak manfaat spiritual dan, pada sebagian individu, manfaat metabolik. Namun, dari perspektif medis, menyegerakan berbuka memiliki alasan kuat, yaitu mencegah dehidrasi, menurunkan risiko hipoglikemia, dan mengurangi stres fisiologis berlebihan. Segera minum air dan mengonsumsi makanan ringan saat waktu berbuka tiba dapat menjadi perlindungan efektif terhadap risiko yang sebenarnya bisa dicegah.

Referensi

"Dehydration." Mayo Clinic. Diakses Februari 2026.

Anis Chaouachi et al., “The Effects of Ramadan Intermittent Fasting on Athletic Performance: Recommendations for the Maintenance of Physical Fitness,” Journal of Sports Sciences 30, no. sup1 (June 27, 2012): S53–73, https://doi.org/10.1080/02640414.2012.698297.

M. M. NasrAllah and N. A. Osman, “Fasting During the Month of Ramadan Among Patients With Chronic Kidney Disease: Renal and Cardiovascular Outcomes,” Clinical Kidney Journal 7, no. 4 (May 31, 2014): 348–53, https://doi.org/10.1093/ckj/sfu046.

Yousef Boobes et al., “Consensus Recommendations on Fasting During Ramadan for Patients With Kidney Disease: Review of Available Evidence and a Call for Action (RaK Initiative),” BMC Nephrology 25, no. 1 (March 6, 2024): 84, https://doi.org/10.1186/s12882-024-03516-y.

"Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines." International Diabetes Federation and Diabetes and Ramadan International Alliance. Diakses Februari 2026.

Mohamed Hassanein et al., “Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines 2021,” Diabetes Research and Clinical Practice 185 (January 8, 2022): 109185, https://doi.org/10.1016/j.diabres.2021.109185.

Rami Al‐Jafar et al., “Effect of Religious Fasting in Ramadan on Blood Pressure: Results From LORANS (London Ramadan Study) and a Meta‐Analysis,” Journal of the American Heart Association 10, no. 20 (October 8, 2021): e021560, https://doi.org/10.1161/jaha.120.021560.

"NHS expert offers fasting advice to people with diabetes in the East Midlands for Ramadan." National Health Service. Diakses Februari 2026.

Editorial Team