Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Ibu Hamil Tidak Disarankan Makan Sate?
ilustrasi sate (unsplash.com/K Azwan)
  • Daging sate yang tidak matang sempurna bisa mengandung bakteri seperti Salmonella dan Listeria yang berisiko menyebabkan infeksi serius pada ibu hamil dan janin.
  • Daging setengah matang dapat membawa parasit Toxoplasma gondii penyebab toksoplasmosis, yang bisa menimbulkan kerusakan otak atau cacat lahir pada bayi.
  • Sate kambing tinggi lemak jenuh serta bumbu kaya gula dan garam dapat meningkatkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes gestasional selama kehamilan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sate menjadi salah satu makanan favorit banyak orang Indonesia. Aromanya yang menggoda memang susah ditolak, apalagi saat perut sedang lapar. Tapi bagi ibu hamil, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum menyantap tusukan demi tusukan sate itu.

Bukan berarti sate langsung jadi musuh bebuyutan selama kehamilan. Namun ada alasan medis yang cukup serius di balik anjuran untuk membatasinya. Kalau kamu sedang hamil atau punya anggota keluarga yang hamil, artikel ini wajib dibaca sampai habis.

1. Jika daging sate tidak matang sempurna, bakteri di dalamnya bahaya bagi janin

ilustrasi sate (unsplash.com/Mufid Majnun)

Proses memanggang sate di atas arang memang menghasilkan warna cokelat keemasan yang menggiurkan. Tapi bagian dalam daging sering kali masih merah muda atau bahkan setengah matang. Kondisi ini menjadi masalah besar bagi ibu hamil karena daging yang belum matang sempurna bisa mengandung bakteri seperti Salmonella dan Listeria.

Bakteri ini mampu menembus plasenta dan memengaruhi janin secara langsung. Infeksi Listeria selama kehamilan bisa memicu kelahiran prematur, keguguran, bahkan infeksi berat pada bayi baru lahir. Sistem imun ibu hamil memang sedang dalam kondisi yang lebih lemah dari biasanya, sehingga tubuh tidak bisa melawan infeksi sekuat saat tidak hamil.

2. Risiko toksoplasmosis dari daging yang kurang matang

ilustrasi sate (unsplash.com/tommao wang)

Selain bakteri, daging yang tidak dimasak hingga matang sempurna juga bisa membawa parasit bernama Toxoplasma gondii. Parasit ini adalah penyebab toksoplasmosis, salah satu infeksi yang paling ditakuti selama kehamilan. Daging kambing, sapi, dan babi mentah atau setengah matang adalah sumber penularannya yang umum.

Toksoplasmosis bisa tidak menunjukkan gejala apa pun pada ibu hamil. Tapi diam-diam parasit ini bisa menyeberang ke janin melalui plasenta. Dampaknya pada bayi bisa sangat serius, mulai dari kerusakan otak, gangguan penglihatan, hingga cacat lahir yang permanen.

3. Kandungan lemak jenuh yang tinggi pada sate kambing

ilustrasi sate kambing (unsplash.com/Inna Safa)

Sate kambing punya penggemar tersendiri karena rasanya yang lebih gurih dan kuat. Sayangnya, daging kambing mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi. Konsumsi lemak jenuh berlebihan selama kehamilan bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah ibu.

Kondisi ini tidak langsung membahayakan janin, tapi bisa memengaruhi kesehatan kardiovaskular ibu secara keseluruhan. Tekanan darah yang meningkat adalah salah satu risikonya, dan ini sangat perlu diwaspadai. Ibu hamil yang punya riwayat hipertensi atau preeklamsia perlu lebih hati-hati lagi soal konsumsi daging berlemak tinggi.

4. Bumbu dan kecap yang digunakan bisa memicu masalah

ilustrasi kecap (unsplash.com/sidath vimukthi)

Sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang yang kaya rasa atau kecap manis yang pekat. Keduanya mengandung kadar gula dan garam yang tidak sedikit. Konsumsi gula berlebih selama kehamilan bisa meningkatkan risiko diabetes gestasional, kondisi yang memengaruhi sekitar satu dari lima ibu hamil.

Sementara itu, garam berlebih bisa menyebabkan retensi cairan atau pembengkakan yang lebih parah. Ibu hamil memang cenderung sudah mengalami pembengkakan ringan karena perubahan hormon. Menambahkan asupan garam yang tinggi dari bumbu sate hanya akan memperburuk kondisi tersebut.

5. Proses pembakaran menghasilkan senyawa yang kurang ramah untuk kehamilan

ilustrasi sate (unsplash.com/ Sholahudien Al Ayyuby)

Saat daging dipanggang di atas arang pada suhu tinggi, terbentuk senyawa kimia bernama heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Kedua senyawa ini terbentuk dari reaksi antara panas, lemak, dan protein dalam daging. Asap dari pembakaran arang juga turut berkontribusi pada pembentukan senyawa ini.

Paparan berulang terhadap HCA dan PAH dihubungkan dengan potensi kerusakan sel dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil, kehati-hatian ekstra diperlukan karena janin masih dalam tahap perkembangan yang sangat sensitif. Semakin gosong bagian daging yang dimakan, semakin tinggi kadar senyawa tersebut yang masuk ke tubuh.

Kehamilan adalah fase yang menuntut perhatian penuh terhadap setiap makanan yang masuk ke tubuh. Bukan soal pantang-pantangan yang berlebihan, tapi soal memastikan janin mendapat lingkungan tumbuh yang paling aman. Pilihan makanan hari ini berdampak nyata pada kondisi si kecil di masa mendatang.

Referensi

"Foods to avoid in pregnancy." NHS. Diakses pada April 2026.

"Can You Eat skewered satay During Pregnancy?" Bump Bites. Diakses pada April 2026.

"Eating Raw, Undercooked, or Cold Meats and Seafood." NCBI. Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team