- Batuk kering.
- Pilek atau hidung berair.
- Sakit tenggorokan.
- Rasa lelah dan tidak enak badan.
Gejala Campak pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

Campak pada ibu hamil biasanya diawali gejala mirip flu seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah sebelum muncul ruam khas.
Ruam merah dan bintik putih di mulut adalah tanda khas campak yang muncul beberapa hari setelah gejala awal.
Kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti pneumonia dan rawat inap, sehingga gejala sekecil apa pun perlu segera diperiksakan ke dokter.
Campak adalah infeksi virus yang sangat menular dan dapat menyerang siapa saja, termasuk ibu hamil. Pada sebagian besar orang dewasa, penyakit ini memang sering dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak. Namun ketika terjadi pada kehamilan, campak bukan sekadar infeksi biasa.
Perubahan sistem imun selama kehamilan membuat tubuh ibu lebih rentan terhadap infeksi tertentu. Karena itulah infeksi campak pada ibu hamil dapat menimbulkan gejala yang sama seperti pada orang lain, tetapi dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa ibu hamil dengan campak lebih sering membutuhkan perawatan di rumah sakit dibandingkan pasien yang tidak hamil.
Gejala campak biasanya tidak muncul langsung setelah terpapar virus. Masa inkubasi (waktu antara paparan virus dan munculnya gejala) umumnya sekitar 10–14 hari. Pada fase awal inilah tanda-tandanya sering disalahartikan sebagai flu atau pilek.
Berikut gejala campak pada ibu hamil yang perlu dikenali.
Table of Content
1. Demam tinggi yang muncul tiba-tiba
Demam adalah gejala awal yang paling sering muncul pada campak. Suhu tubuh bisa mencapai sekitar 39 derajat Celcius atau lebih, terutama pada fase awal penyakit.
Demam ini biasanya dibarengi rasa tidak enak badan, lelah, dan nyeri tubuh. Pada ibu hamil, kondisi ini bisa terasa lebih berat karena tubuh sedang bekerja ekstra untuk mendukung perkembangan janin.
Dalam beberapa kasus yang dilaporkan dalam penelitian klinis, semua pasien hamil dengan campak mengalami demam dan ruam sebagai gejala utama penyakit.
2. Batuk, pilek, dan gejala mirip flu

Beberapa hari sebelum ruam muncul, gejala campak biasanya menyerupai infeksi saluran napas atas, seperti:
Gejala ini sering disebut sebagai fase prodromal, yaitu tahap awal penyakit sebelum muncul tanda khas campak.
Karena gejalanya mirip flu atau pilek, banyak orang tidak sadar mereka sebenarnya sudah terinfeksi virus campak.
3. Mata merah dan berair (konjungtivitis)
Gejala lain yang cukup khas adalah mata merah, sensitif terhadap cahaya, dan berair, yang terjadi akibat peradangan pada konjungtiva (lapisan tipis yang melapisi mata).
Pada fase ini, ibu hamil juga bisa merasa silau atau tidak nyaman saat melihat cahaya terang. Kombinasi demam, batuk, dan konjungtivitis sering menjadi petunjuk awal bagi dokter bahwa infeksi campak mungkin sedang terjadi.
4. Bintik putih di dalam mulut (bintik Koplik)

Salah satu tanda paling khas campak adalah bintik Koplik (Koplik's spots), yaitu bintik kecil berwarna putih keabu-abuan yang muncul di bagian dalam pipi atau belakang bibir.
Bintik ini biasanya muncul 1–2 hari sebelum ruam kulit berkembang dan hanya bertahan beberapa hari.
Karena ukurannya kecil dan sering tidak terasa, bintik ini sering kali tidak disadari. Namun, bagi tenaga medis, tanda ini sangat membantu dalam menegakkan diagnosis campak.
5. Ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh
Setelah beberapa hari mengalami demam dan gejala mirip flu/pilek, muncullah ruam khas campak.
Ruam biasanya:
- Dimulai dari wajah atau garis rambut.
- Kemudian menyebar ke leher, dada, punggung.
- Lalu ke lengan dan kaki.
Ruam ini terlihat sebagai bercak merah atau cokelat yang bisa menyatu menjadi area luas, meskipun biasanya tidak terasa gatal.
Ruam biasanya muncul sekitar 3–5 hari setelah gejala awal dan bertahan selama beberapa hari sebelum perlahan memudar.
6. Gejala yang lebih berat pada sebagian ibu hamil

Pada beberapa kasus, infeksi campak pada kehamilan dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
Penelitian terhadap puluhan kasus campak pada ibu hamil menemukan bahwa:
- Sekitar 60 persen pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit.
- Sekitar 26 persen mengalami pneumonia sebagai komplikasi serius.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ibu hamil dengan campak memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti infeksi paru dan demam berat dibandingkan pasien campak yang tidak hamil.
Karena itu, gejala campak pada kehamilan tidak boleh dianggap sepele, terutama jika disertai sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, atau tubuh makin lemah.
Mengapa gejala campak pada ibu hamil harus segera diperiksa?
Campak bukan hanya menimbulkan gejala pada ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kehamilan. Infeksi campak selama kehamilan dapat meningkatkan risiko:
- Keguguran.
- Kelahiran prematur.
- Berat badan lahir rendah.
- Infeksi campak pada bayi baru lahir.
Karena itu, jika ibu hamil mengalami demam tinggi disertai ruam atau gejala campak lainnya, terutama setelah kontak dengan orang yang terinfeksi, segera temui dokter.
Diagnosis dan penanganan dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi bagi ibu maupun janin.
Gejala campak pada ibu hamil pada dasarnya mirip dengan gejala pada orang dewasa lain seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, bintik putih di mulut, dan ruam khas yang menyebar ke seluruh tubuh.
Namun pada kehamilan, infeksi ini perlu mendapat perhatian khusus. Perubahan sistem imun selama kehamilan dapat membuat penyakit menjadi lebih berat dan meningkatkan risiko komplikasi.
Mengenali tanda-tanda awal campak sangat penting. Jika mengalami demam tinggi yang disertai ruam atau gejala mirip flu yang tidak biasa, segera berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dini tak hanya melindungi kesehatan ibu, tetapi juga menjaga keselamatan janin yang sedang berkembang.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Clinical Overview of Measles.” Diakses Maret 2026.
“Measles in Pregnancy: A Descriptive Study of 58 Cases,” PubMed, November 1, 1993, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8414327/.
Wye Valley NHS Trust. "Measles in pregnancy advice." Diakses Maret 2026.
Caroline Charlier et al., “Prolonged Maternal Shedding and Maternal-fetal Transmission of Measles Virus,” Clinical Infectious Diseases 72, no. 9 (June 27, 2020): 1631–34, https://doi.org/10.1093/cid/ciaa915.
M. Elamin Ali and H.M Albar, “Measles in Pregnancy: Maternal Morbidity and Perinatal Outcome,” International Journal of Gynecology & Obstetrics 59, no. 2 (November 1, 1997): 109–13, https://doi.org/10.1016/s0020-7292(97)00196-3.



![[QUIZ] Dari Minuman yang Kamu Pilih saat Haus, Ini Kondisi Hidrasi Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250329/pexels-sab-wang-62948913-31260165-ca1834d54993c733222d325499cbe090-de8e39a045e8d65df35c7aa77b9b5105.jpg)












![[QUIZ] Pilih Menu Daging Sapi Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20240909/nita-anggraeni-goenawan-9tuldya614i-unsplash-821ce2475cd585cc2e4fd266e0d41fa4.jpg)

