Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Musim Hujan Meningkatkan Risiko Penyakit dari Tikus?
ilustrasi musim hujan yang bisa meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan oleh tikus (pexels.com/Thgusstavo Santana)
  • Musim hujan membuat tikus berpindah ke area manusia karena sarangnya tergenang, meningkatkan kontak dengan urine dan kotoran yang bisa membawa penyakit.
  • Leptospirosis menjadi penyakit paling sering muncul saat banjir karena bakteri Leptospira bertahan lama di lingkungan lembap dan mudah menular lewat luka kecil atau air tercemar.
  • Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak air banjir, memakai pelindung saat membersihkan area basah, serta menjaga kebersihan dan menutup akses tikus ke rumah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat terus-terusan hujan, banyak orang khawatir akan banjir, genangan air, dan nyamuk. Nyata, ada tambahan ancaman yang sering luput, yaitu meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan tikus.

Di banyak wilayah, musim hujan sering diikuti peningkatan kasus leptospirosis, sementara beberapa penyakit lain yang berkaitan dengan tikus juga lebih mudah menyebar. Ini bukan kebetulan karena hujan deras mengubah perilaku tikus, kondisi lingkungan, hingga pola interaksi manusia dengan air dan permukaan yang terkontaminasi.

Kenapa tikus lebih dekat dengan manusia saat musim hujan?

Musim hujan memengaruhi habitat tikus secara langsung. Saat saluran air meluap atau sarang tikus tergenang, tikus berpindah tempat, mencari area lebih kering, dan lebih sering masuk ke rumah, gudang, dapur, atau tempat penyimpanan makanan.

Akibatnya, peluang manusia bersentuhan dengan urine, kotoran, air liur, atau permukaan terkontaminasi tikus menjadi lebih besar.

Tikus dapat membawa berbagai patogen yang menyebar melalui cairan tubuh dan lingkungan yang terkontaminasi.

Air hujan dan banjir membantu penyebaran kuman

Air bisa menjadi media kuman penyakit berpindah. Ketika hujan deras atau banjir terjadi:

  • Urine tikus bercampur dengan air.

  • Bakteri dan virus menyebar lebih luas.

  • Kontaminasi tidak lagi terbatas di satu titik.

Kamu kemudian bisa terpapar saat berjalan di genangan, membersihkan rumah pascabanjir, menyentuh lumpur, atau terkena percikan air yang tercemar.

Luka kecil di kulit saja bisa menjadi pintu masuk infeksi.

Leptospirosis sangat berkaitan dengan musim hujan

ilustrasi banjir (unsplash.com/Misbahul Aulia)

Salah satu penyakit paling terkenal terkait musim hujan dan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan bakteri Leptospira yang banyak ditemukan pada urine tikus.

Bakteri ini dapat bertahan lebih lama di lingkungan lembap, tanah basah, air tawar, dan lumpur.

Wabah leptospirosis sering meningkat setelah hujan deras dan banjir, terutama di daerah tropis dengan sanitasi buruk.

Manusia dapat tertular ketika bakteri masuk melalui luka kecil, kulit lecet, mata, hidung, atau mulut.

Kenapa lingkungan lembap membantu penyakit bertahan?

Kelembapan tinggi membantu beberapa patogen bertahan lebih lama di lingkungan.

Pada kondisi kering banyak mikroorganisme lebih cepat rusak dan paparan sinar matahari membantu menurunkan daya tahan patogen.

Namun saat musim hujan, udara lebih lembap, permukaan tetap basah lebih lama, ventilasi sering lebih buruk, dan genangan bertahan lebih lama. Ini menciptakan kondisi yang lebih mendukung penyebaran penyakit.

Musim hujan juga mengubah perilaku manusia

Risiko penyakit bukan hanya soal tikus, tetapi juga perubahan aktivitas manusia. Saat banjir atau hujan:

  • Orang lebih sering kontak dengan air kotor.

  • Membersihkan rumah yang terendam.

  • Memindahkan barang dari gudang lembap.

  • Masuk ke area yang lama tidak dibuka.

Tempat seperti gudang, loteng, ruang penyimpanan, dan saluran air sering menjadi lokasi tikus berkembang biak.

Penyakit yang bisa berkaitan dengan tikus

ilustrasi penyebab leptospirosis (pixabay.com/siapa)

1. Leptospirosis

Penyakit ini paling sering dikaitkan dengan banjir. Gejalanya:

  • Demam.

  • Nyeri otot.

  • Sakit kepala.

  • Mata merah.

  • Mual.

  • Gagal ginjal atau perdarahan pada kasus berat.

2. Hantavirus

Virus ini menyebar terutama melalui partikel dari urine atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup. Pada beberapa kasus, musim hujan dapat meningkatkan paparan karena tikus lebih sering masuk ke area tertutup manusia.

Hantavirus dapat menyebabkan gangguan paru, gagal napas, atau gangguan ginjal tergantung jenis virusnya.

Membersihkan area penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko paparan.

3. Salmonellosis dan infeksi lain

Tikus juga dapat mencemari makanan, permukaan dapur, dan sumber air. Kontaminasi ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna.

Risiko bisa lebih tinggi di area padat penduduk

Beberapa faktor saling berkaitan, seperti:

  • Sanitasi buruk.

  • Drainase kurang baik.

  • Sampah menumpuk.

  • Makanan terbuka.

  • Populasi tikus lebih tinggi.

Penelitian menunjukkan urbanisasi padat dan perubahan lingkungan dapat meningkatkan risiko penyakit zoonosis, termasuk yang berasal dari tikus.

Siapa saja yang paling berisiko?

Risiko lebih tinggi pada:

  • Petugas kebersihan.

  • Pekerja saluran air.

  • Korban banjir.

  • Penghuni daerah padat.

  • Pekerja gudang.

  • Petani.

  • Orang yang sering kontak dengan air banjir.

Orang dengan luka terbuka juga lebih rentan.

Cara mencegah penyakit terkait tikus saat musim hujan

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

  • Hindari kontak langsung dengan air banjir. Gunakan sepatu bot, sarung tangan, pelindung kulit, terutama saat membersihkan area banjir.

  • Jangan membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering. Ini penting terutama untuk mencegah hantavirus. Para ahli menyarankan untuk ventilasi ruangan, semprot disinfektan, gunakan sarung tangan, dan bersihkan secara basah. Menyapu kering atau menggunakan vacuum cleaner dapat membuat partikel terkontaminasi beterbangan.

  • Kendalikan akses tikus ke rumah. Tutup lubang, celah pintu, saluran terbuka, dan sumber makanan.

  • Kelola sampah dengan baik. Sampah makanan adalah salah satu alasan utama tikus mendekati area permukiman.

  • Segera periksa jika muncul gejala setelah banjir, terutama jika mengalami demam, nyeri otot berat, mata merah, sesak, atau urine berkurang.

Diagnosis dini sangat penting karena beberapa penyakit dapat memburuk sangat cepat.

Musim hujan mengubah ekosistem penyakit

Hujan sebenarnya bukan penyebab langsung penyakit dari tikus. Namun, hujan mengubah banyak hal sekaligus, seperti habitat tikus, pergerakan air, kelembapan lingkungan, dan perilaku manusia. Ketika semua faktor itu bertemu, risiko penularan ikut meningkat.

Sering kali, perlindungan terbaik datang dari langkah sederhana, seperti dengan menjaga kebersihan, mengurangi akses tikus, dan lebih berhati-hati saat membersihkan area basah atau banjir.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Diseases from Rodents.” Diakses Mei 2026. CDC Rodents

CDC. “About Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Leptospirosis.” Diakses Mei 2026.

Federico Costa et al., “Global Morbidity and Mortality of Leptospirosis: A Systematic Review,” PLoS Neglected Tropical Diseases 9, no. 9 (September 17, 2015): e0003898, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0003898.

María Esther García López, “La Yerba En Castrillón,” Cultures: Revista Asturiana De Cultura 104, no. 7 (January 1, 1997): 249–61, https://doi.org/10.1016/j.trstmh.2010.07.002.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Julianne Meisner et al., “Mapping Hotspots of Zoonotic Pathogen Emergence: An Integrated Model-based and Participatory-based Approach,” The Lancet Planetary Health 9, no. 1 (January 1, 2025): e14–22, https://doi.org/10.1016/s2542-5196(24)00309-7.

Sohel Ahmed et al., “Does Urbanization Make Emergence of Zoonosis More Likely? Evidence, Myths and Gaps,” Environment and Urbanization 31, no. 2 (September 14, 2019): 443–60, https://doi.org/10.1177/0956247819866124.

Editorial Team