Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Tikus Kota Bisa Jadi Ancaman Penyakit?

Kenapa Tikus Kota Bisa Jadi Ancaman Penyakit?
ilustrasi tikus (pixabay.com/fotoerich)
Intinya Sih
  • Tikus kota menjadi ancaman kesehatan karena hidup dekat manusia, beradaptasi di lingkungan padat, dan mampu membawa berbagai patogen penyebab penyakit menular.
  • Leptospirosis jadi penyakit paling sering dikaitkan dengan tikus di daerah tropis; penularannya terjadi lewat air atau tanah tercemar urine tikus, terutama saat banjir.
  • Risiko meningkat akibat sanitasi buruk dan pengelolaan sampah yang tidak baik; pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan, menutup akses tikus, serta menghindari kontak dengan air banjir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di banyak area di kota besar, manusia hidup "berdampingan" dengan tikus. Hewan pengerat ini muncul di selokan, pasar, tumpukan sampah, plafon rumah, dapur restoran, hingga area banjir.

Sebagian orang menganggap tikus kota sekadar hama yang menjijikkan atau merusak barang. Padahal, dalam dunia kesehatan masyarakat, tikus termasuk hewan yang sangat diperhatikan karena mampu membawa berbagai penyakit.

Masalahnya bukan cuma jumlah tikus yang banyak. Yang membuat tikus kota bisa berbahaya adalah kombinasi antara lingkungan urban yang padat, sanitasi yang buruk, kontak dekat dengan manusia, dan kemampuan tikus bertahan hidup hampir di mana saja.

Dalam kondisi tertentu, tikus dapat menjadi reservoir berbagai patogen, yang artinya mereka bisa membawa mikroorganisme penyebab penyakit tanpa selalu terlihat sakit.

Table of Content

Tikus kota hidup sangat dekat dengan manusia

Tikus kota hidup sangat dekat dengan manusia

Ini salah satu alasan terbesar kenapa tikus perkotaan menjadi ancaman kesehatan.

Tikus kota seperti Rattus norvegicus dan Rattus rattus beradaptasi sangat baik dengan lingkungan manusia. Mereka tertarik pada:

  • Sampah makanan.
  • Saluran air.
  • Gudang.
  • Pasar.
  • Permukiman padat.
  • Tempat lembap dan hangat.

Penelitian menjelaskan urbanisasi menciptakan lingkungan ideal bagi tikus untuk berkembang sekaligus meningkatkan peluang kontak dengan manusia. Artinya, makin padat dan kurang terkelola sebuah lingkungan, makin besar peluang manusia berbagi ruang dengan tikus.

Tikus bisa membawa banyak penyakit

Salah satu hal yang membuat tikus kota menjadi perhatian adalah banyaknya penyakit yang dapat berkaitan dengan mereka. Contohnya:

  • Leptospirosis
  • Hantavirus
  • Salmonellosis
  • Demam gigitan tikus (rat-bite fever)
  • Pes
  • Murine typhus (tifus endemik)

Tidak semua penyakit ini umum di semua negara, tetapi tikus dikenal sebagai reservoir penting berbagai patogen di dunia.

Leptospirosis: ancaman yang sangat berkaitan dengan tikus

Dua ekor tikus berwarna cokelat dan abu-abu sedang memakan butiran makanan di permukaan tanah yang berkerikil.
ilustrasi tikus pembawa wabah penyakit (commons.wikimedia.org/Patrick Roper)

Salah satu penyakit paling sering dikaitkan dengan tikus di daerah tropis, seperti di Indonesia, adalah leptospirosis.

Bakteri Leptospira dapat keluar melalui urine tikus dan mencemari air, tanah, lumpur, dan genangan banjir.

Manusia dapat tertular ketika bakteri masuk melalui luka kecil di kulit, mata, hidung, dan mulut.

Yang membuat penyakit ini berbahaya adalah gejalanya kadang awalnya mirip flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas. Namun pada kasus berat, leptospirosis dapat menyebabkan:

  • Gagal ginjal.
  • Perdarahan paru.
  • Kerusakan hati.
  • Kematian.

Tikus tidak harus menggigit untuk menyebarkan penyakit

IBanyak orang mengira penyakit dari tikus hanya menular lewat gigitan. Faktanya, sebagian besar penularan justru terjadi secara tidak langsung.

Contohnya dari:

  • Makanan terkontaminasi urine tikus.
  • Tangan menyentuh permukaan kotor.
  • Berjalan di air banjir.
  • Menghirup partikel kotoran tikus yang mengering.
  • Kutu dari tubuh tikus menggigit manusia.

Karena itu, keberadaan tikus di lingkungan rumah atau tempat makan tidak boleh dianggap sepele meski tidak ada kontak langsung.

Kenapa tikus hidup di kota-kota besar

Kota modern menyediakan hampir semua yang dibutuhkan tikus, seperti makanan, tempat berlindung, kelembapan, saluran untuk berpindah, dan cuma sedikit predator alami.

Sampah makanan yang tidak terkelola menjadi sumber nutrisi besar bagi populasi tikus. Penelitian menunjukkan pengelolaan sampah dan kepadatan manusia berkaitan erat dengan populasi tikus perkotaan.

Selain itu, tikus berkembang biak sangat cepat. Seekor tikus betina dapat melahirkan beberapa kali dalam setahun dengan jumlah anak yang cukup banyak. Dalam lingkungan yang mendukung, populasi mereka bisa meningkat drastis.

Selain itu, banjir bisa memperbesar risiko. Di banyak kota tropis, lonjakan kasus leptospirosis sering terjadi setelah banjir. Ini karena saat banjir:

  • Urine tikus bercampur dengan air.
  • Bakteri menyebar lebih luas.
  • Manusia lebih sering berkontak dengan air tercemar.

Banjir dan sanitasi buruk meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonotik tertentu, termasuk leptospirosis.

Tikus kota juga bisa memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup

Lingkungan dengan infestasi tikus sering dikaitkan dengan:

  • Stres.
  • Rasa tidak aman.
  • Gangguan tidur.
  • Kecemasan.
  • Stigma sosial.

Beberapa penelitian kesehatan lingkungan menunjukkan keberadaan hama kronis dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat urban, terutama di area padat dan kurang mampu.

Tanda ada banyak tikus di lingkungan rumahmu

Perangkap tikus kayu dengan pegas logam berumpan keju kuning diletakkan di atas permukaan kayu berwarna terang.
ilustrasi perangkap tikus (pexels.com/ClickerHappy)

Kamu perlu mewaspadai tanda-tanda ini:

  • Kotoran tikus.
  • Bau urine menyengat.
  • Suara di plafon malam hari.
  • Makanan tergigit.
  • Bekas gigitan kabel atau plastik.
  • Jejak kaki atau ekor di area berdebu.

Makin lama infestasi dibiarkan, makin sulit tikus dikendalikan.

Cara mengurangi risiko penyakit dari tikus

  • Simpan makanan dengan baik. Gunakan wadah tertutup.
  • Kelola sampah dengan benar. Sampah yang terbuka menarik perhatian tikus.
  • Hindari kontak dengan air banjir. Terutama jika ada luka di kulit.
  • Pakai sarung tangan saat membersihkan area kotor. Hindari kontak langsung dengan urine atau kotoran tikus.
  • Tutup celah masuk tikus. Lubang kecil sekalipun bisa menjadi akses masuk.
  • Cari pertolongan medis jika muncul gejala setelah paparan risiko. Demam setelah banjir atau kontak dengan lingkungan kotor perlu diperiksa.

Tikus kota menjadi ancaman penyakit karena mereka hidup sangat dekat dengan manusia dan dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.

Penularan dapat terjadi melalui urine, kotoran, makanan terkontaminasi, air banjir, hingga parasit yang hidup pada tubuh tikus. Di lingkungan urban yang padat dan sanitasi buruk, risiko ini makin besar. Karena itu, pengendalian tikus merupakan bagian penting dari kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. "Leptospirosis." Diakses Mei 2026.

World Health Organization. "Zoonoses." Diakses Mei 2026.

World Health Organization. "Leptospirosis Burden Epidemiology Reference Group." Diakses Mei 2026.

Michael H. Parsons et al., “Trends in Urban Rat Ecology: A Framework to Define the Prevailing Knowledge Gaps and Incentives for Academia, Pest Management Professionals (PMPs) and Public Health Agencies to Participate,” Journal of Urban Ecology 3, no. 1 (January 1, 2017), https://doi.org/10.1093/jue/jux005.

Alice Y. T. Feng and Chelsea G. Himsworth, “The Secret Life of the City Rat: A Review of the Ecology of Urban Norway and Black Rats (Rattus Norvegicus and Rattus Rattus),” Urban Ecosystems 17, no. 1 (March 23, 2013): 149–62, https://doi.org/10.1007/s11252-013-0305-4.

Chelsea G. Himsworth et al., “Rats, Cities, People, and Pathogens: A Systematic Review and Narrative Synthesis of Literature Regarding the Ecology of Rat-Associated Zoonoses in Urban Centers,” Vector-Borne and Zoonotic Diseases 13, no. 6 (April 16, 2013): 349–59, https://doi.org/10.1089/vbz.2012.1195.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More