Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesalahan Fatal saat Menolong Orang yang Cedera di Gym
ilustrasi memberi pertolongan pada orang yang cedera di gym (freepik.com/wavebreakmedia-micro)
  • Penanganan cedera yang salah di gym dapat memperburuk kondisi, terutama pada cedera otot, sendi, atau tulang belakang.

  • Beberapa kesalahan umum termasuk memaksa orang yang cedera bergerak, langsung memijat area cedera, atau menunda pertolongan medis.

  • Pertolongan pertama yang tepat dapat membantu mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut dan mempercepat pemulihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di gym, orang berusaha untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Namun, latihan di gym juga membawa risiko cedera, mulai dari keseleo ringan hingga cedera otot atau bahkan cedera serius pada tulang belakang.

Saat seseorang tiba-tiba terjatuh dari treadmill, mengangkat beban berat dengan form yang salah, atau mengalami nyeri hebat saat latihan, orang di sekitarnya biasanya langsung berusaha membantu. Sayangnya, niat baik ini tidak selalu diiringi dengan pengetahuan yang tepat tentang pertolongan pertama.

Beberapa tindakan yang niatnya membantu justru dapat memperparah cedera. Oleh karena itu, penting untuk memahami kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika menolong seseorang yang mengalami cedera di gym.

1. Memaksa orang yang cedera segera berdiri atau bergerak

Salah satu kesalahan paling umum adalah langsung meminta orang yang cedera untuk berdiri atau berjalan setelah terjatuh.

Seseorang yang mengalami cedera harus dibiarkan tetap pada posisi aman sampai kondisi cederanya dapat dinilai dengan baik, terutama jika ada kemungkinan cedera pada tulang belakang atau kepala.

Memaksa korban bergerak terlalu cepat dapat menyebabkan:

  • Perburukan cedera otot atau ligamen.

  • Pergeseran tulang yang patah.

  • Cedera saraf tambahan.

Jika orang yang cedera mengeluh nyeri hebat, pusing, atau tidak mampu menggerakkan bagian tubuh tertentu, sebaiknya ia tetap berada di posisi semula sampai bantuan medis datang.

2. Langsung memijat area yang cedera

ilustrasi memberi pertolongan pada orang yang cedera di gym (pexels.com/mikhailnilov)

Banyak orang percaya bahwa memijat bagian tubuh yang nyeri dapat membantu meredakan cedera. Padahal, pada fase awal cedera, tindakan ini justru bisa memperparah kerusakan jaringan.

Cedera akut seperti keseleo atau strain otot sebaiknya tidak dipijat karena dapat meningkatkan peradangan dan pembengkakan.

Penanganan awal yang lebih dianjurkan adalah metode RICE, yaitu:

  • Rest: mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera.

  • Ice: kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan.

  • Compression: membalut dengan tekanan ringan.

  • Elevation: mengangkat bagian tubuh yang cedera.

Pendekatan ini membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri pada fase awal cedera.

3. Mengabaikan cedera kepala atau pusing

Jika seseorang jatuh di gym dan mengalami benturan pada kepala, gejala seperti pusing, mual, atau kebingungan tidak boleh dianggap sepele.

Gejala tersebut dapat menandakan gegar otak atau cedera otak ringan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap orang yang cedera hanya “kaget” atau “capek”. Padahal, cedera kepala dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Jika seseorang menunjukkan gejala di bawah ini, maka bantuan medis harus segera dicari:

  • Kehilangan keseimbangan.

  • Muntah.

  • Kebingungan.

  • Kesulitan berbicara.

4. Memberikan obat pereda nyeri sembarangan

Ilustrasi tas pertolongan pertama (pexels.com/Roger Brown)

Tindakan lain yang sering dilakukan adalah langsung memberikan obat pereda nyeri tanpa mengetahui jenis cedera yang dialami.

Obat antiinflamasi seperti ibuprofen memang dapat membantu meredakan nyeri, tetapi tidak boleh diberikan secara sembarangan, terutama jika ada kemungkinan cedera serius atau perdarahan.

Memberikan obat tanpa evaluasi medis dapat menutupi gejala penting yang sebenarnya membantu dokter mendiagnosis cedera.

5. Menunda pertolongan medis

Kesalahan lain yang cukup berbahaya adalah menganggap cedera sebagai hal yang biasa dan tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Padahal, beberapa cedera olahraga seperti robekan ligamen, cedera tendon, fraktur kecil, dan cedera tulang belakang sering kali tidak langsung terlihat jelas pada awalnya.

Diagnosis dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah cedera olahraga berkembang menjadi masalah kronis.

Jika seseorang mengalami nyeri hebat, pembengkakan besar, atau kesulitan bergerak setelah cedera, sebaiknya segera mencari bantuan medis.

6. Menggerakkan sendi yang terlihat tidak normal

ilustrasi memberi pertolongan pada orang yang cedera di gym (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Jika posisi sendi terlihat tidak wajar, misalnya lutut tampak bergeser, bahu terlihat turun, atau pergelangan tangan terlihat bengkok, jangan mencoba mengembalikan posisi sendi tersebut secara manual.

Dislokasi sendi harus ditangani oleh tenaga medis karena manipulasi yang salah dapat merusak saraf dan pembuluh darah di sekitarnya.

Cedera di gym dapat terjadi kapan saja, bahkan pada orang yang sudah berpengalaman dalam berolahraga. Dalam situasi seperti ini, reaksi cepat memang penting, tetapi tindakan yang tepat jauh lebih krusial.

Kesalahan seperti memaksa orang yang cedera bergerak, memijat area cedera, atau menunda pertolongan medis dapat memperburuk kondisi yang sebenarnya masih bisa ditangani dengan baik jika diberikan pertolongan pertama yang benar. Memahami prinsip dasar pertolongan pertama dapat membantu melindungi korban dari cedera yang lebih serius.

Referensi

American Red Cross.First Aid Steps.” Diakses Maret 2026.

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Sprains, Strains and Other Soft-Tissue Injuries.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Traumatic Brain Injury & Concussion.” Diakses Maret 2026.

Mayo Clinic. “Sports Injuries: First Aid.” Diakses Maret 2026.

National Health Service. “Dislocated Shoulder.” Diakses Maret 2026.

“Sports Injury Prevention (Handbook of Sports Medicine and Science),” December 1, 2009, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3761525/.

Editorial Team