Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan menerapkan pola makan time-restricted eating.
ilustrasi pola makan time-restricted eating (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Makan lebih awal dalam pola time-restricted eating (TRE) memberi hasil metabolik lebih baik dibanding makan larut.

  • Durasi jendela makan saja tidak cukup. Menurut studi ini, waktu makan berperan besar.

  • Ritme biologis tubuh (chrono-nutrition) mendukung metabolisme yang lebih efisien di pagi–siang hari.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten sudah menjadi istilah yang akrab di telinga banyak orang. Namun, tidak semua pola IF sama. Salah satu bentuknya adalah time-restricted eating (TRE), yaitu membatasi jam makan dalam satu hari. Misalnya, hanya makan dalam rentang 8–10 jam tanpa harus menghitung kalori secara ketat.

Berbeda dengan pola 5:2 atau puasa selang-seling, TRE fokus pada konsistensi jendela makan harian. Pendekatan ini dinilai lebih praktis karena lebih mudah diintegrasikan ke rutinitas.

Sebuah metaanalisis terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Medicine menelaah lebih dalam soal TRE. Tim peneliti dari National Taiwan University tidak hanya mengevaluasi apakah TRE efektif, tetapi juga bagaimana waktu makan dan panjang jendela makan memengaruhi kesehatan metabolik, baik secara terpisah maupun bersamaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum TRE memperbaiki indikator metabolik dibanding pola makan biasa. Manfaatnya sebanding dengan strategi diet terstruktur lain, dengan tingkat kepatuhan yang dalam beberapa studi lebih tinggi dibanding pembatasan kalori konvensional.

Jam makan ternyata pengaruhnya besar

Temuan paling menarik dari studi tersebut adalah bahwa tidak semua pola TRE memberikan hasil yang sama.

Pola makan yang dimulai lebih awal, yaitu pagi hingga siang hari, secara konsisten menghasilkan perbaikan yang lebih baik dalam regulasi gula darah, berat badan, dan indikator kardiovaskular dibanding pola yang berfokus pada makan sore hingga malam.

Ketika peneliti menganalisis durasi jendela makan saja, hasilnya tidak selalu konsisten. Jendela makan yang lebih pendek tidak otomatis lebih unggul. Namun, kombinasi makan larut dengan jendela makan yang panjang cenderung berkaitan dengan hasil metabolik yang kurang optimal.

Sebaliknya, makan lebih awal, bahkan dengan durasi yang tidak terlalu ketat, menunjukkan pola yang lebih menguntungkan. Artinya, dalam konteks TRE, waktu makan mungkin sama pentingnya dengan lama puasa.

Tubuh bekerja mengikuti jam biologis

ilustrasi pola makan time-restricted eating (pexels.com/Vika Glitter)

Penjelasan biologisnya berkaitan dengan ritme sirkadian. Tubuh manusia punya jam internal 24 jam yang mengatur metabolisme, sensitivitas insulin, dan penggunaan energi.

Pada pagi hari, tubuh lebih sensitif terhadap insulin dan lebih efisien memproses glukosa. Menjelang malam, efisiensi ini menurun. Makan dalam jumlah besar di waktu larut berarti tubuh memproses energi dalam kondisi yang kurang optimal.

Studi ini menegaskan prinsip chrono-nutrition, menyelaraskan asupan makanan dengan ritme biologis berperan penting dalam kesehatan metabolik.

“Pola makan dengan pembatasan waktu bisa efektif dan dapat dijalankan oleh banyak orang, tetapi temuan kami menunjukkan bahwa penentuan waktunya penting,” ujar Prof. Ling-Wei Chen, penulis senior studi tersebut.

Jika kamu mempertimbangkan untuk mencoba TRE, berdasarkan studi ini, yang penting adalah bukan hanya berapa jam kamu berpuasa, tetapi kapan kamu makan. Menggeser porsi makan lebih besar ke pagi atau siang hari bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak nyata bagi metabolisme.

Referensi

Chen Y, Tsai H, Tu Y, Chen L. "Effects of timing and eating duration of time restricted eating on metabolic outcomes: systematic review and network meta-analysis." BMJ Medicine. 2026;5:e001071. https://doi.org/10.1136/bmjmed-2024-001071.

"Meal timing in time-restricted eating matters for metabolic health." National Taiwan University. Diakses Februari 2026.

Editorial Team