Intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten sudah menjadi istilah yang akrab di telinga banyak orang. Namun, tidak semua pola IF sama. Salah satu bentuknya adalah time-restricted eating (TRE), yaitu membatasi jam makan dalam satu hari. Misalnya, hanya makan dalam rentang 8–10 jam tanpa harus menghitung kalori secara ketat.
Berbeda dengan pola 5:2 atau puasa selang-seling, TRE fokus pada konsistensi jendela makan harian. Pendekatan ini dinilai lebih praktis karena lebih mudah diintegrasikan ke rutinitas.
Sebuah metaanalisis terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Medicine menelaah lebih dalam soal TRE. Tim peneliti dari National Taiwan University tidak hanya mengevaluasi apakah TRE efektif, tetapi juga bagaimana waktu makan dan panjang jendela makan memengaruhi kesehatan metabolik, baik secara terpisah maupun bersamaan.
Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum TRE memperbaiki indikator metabolik dibanding pola makan biasa. Manfaatnya sebanding dengan strategi diet terstruktur lain, dengan tingkat kepatuhan yang dalam beberapa studi lebih tinggi dibanding pembatasan kalori konvensional.
