Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Bayi dan Anak Kecil Lebih Rentan Mengalami Pneumonia?

4 min read
Mengapa Bayi dan Anak Kecil Lebih Rentan Mengalami Pneumonia?
ilustrasi bayi (pexels.com/duy-nguyen)
  • Pneumonia menyebabkan lebih dari 725 ribu kematian anak di bawah 5 tahun per tahun; bayi dan balita rentan karena imun serta paru-parunya masih berkembang.

  • Risiko meningkat pada anak prematur, berat lahir rendah, kurang ASI atau gizi, belum vaksin, memiliki penyakit kronis, serta terpapar asap rokok dan polusi rumah.

  • Gejala dapat mencakup napas cepat, demam atau hipotermia, sulit makan, lesu, batuk, muntah, dan mengi; pencegahan meliputi ASI, vaksinasi, gizi, air bersih, serta pembatasan polusi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pneumonia sering dianggap lebih berbahaya bagi lansia, padahal penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada anak. Menurut UNICEF, lebih dari 725 ribu anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat pneumonia setiap tahun, termasuk sekitar 190 ribu bayi baru lahir yang sangat rentan terhadap infeksi.

Padahal, banyak kasus pneumonia dan kematian akibat penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi, akses layanan kesehatan, dan perawatan yang tepat. Namun, hingga kini masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan dan pengobatan yang dibutuhkan untuk mencegah pneumonia maupun mengurangi risiko kematian akibat penyakit ini.

  1. 1. Kenapa bayi dan anak kecil rentan terhadap pneumonia?

    Pneumonia adalah infeksi yang menyerang paru-paru. Penyakit ini bisa menjadi serius jika peradangan mengganggu pasokan oksigen ke tubuh atau jika infeksi menyebar ke organ lain.

    Bayi dan anak kecil lebih rentan mengalami pneumonia karena:

    • Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang sehingga belum sekuat orang dewasa dalam melawan infeksi.
    • Paru-paru masih dalam tahap pertumbuhan, terutama hingga usia sekitar 2 tahun, sehingga infeksi dapat lebih mudah mengganggu fungsi pernapasan.

    Risiko pneumonia juga lebih tinggi pada bayi yang:

    • Lahir dengan berat badan rendah.
    • Lahir prematur.
    • Tidak mendapatkan ASI yang cukup.
    • Mengalami kekurangan gizi.
    • Kekurangan vitamin D.
    • memiliki penyakit kronis tertentu.
    • belum menerima vaksin sesuai jadwal.

    Selain itu, faktor lingkungan juga dapat meningkatkan risiko pneumonia, seperti:

    • Paparan asap rokok.
    • Polusi udara di dalam rumah.
    • Tinggal di lingkungan yang padat penduduk.
    • Kondisi sosial ekonomi yang kurang mendukung.
    • Terbatasnya akses terhadap perawatan selama kehamilan.

  2. 2. Pneumonia paling berbahaya bagi anak yang mengalami kurang gizi

    Kekurangan gizi merupakan salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kematian akibat pneumonia pada anak.

    Anak yang kekurangan gizi cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, sehingga lebih rentan terkena infeksi, termasuk pneumonia.

    Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia di bawah 2 tahun, yang juga merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak pneumonia.

    Karena itu, memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup merupakan langkah penting untuk membantu melindungi mereka dari pneumonia dan komplikasi yang berbahaya.

  3. 3. Gejala pneumonia pada anak

    Seorang ibu merawat anak yang sakit pneumonia di rumah, mendampingi dan memperhatikan kondisi anak dengan penuh perhatian.
    ilustrasi ibu merawat anaknya yang sakit pneumonia (pexels.com/TimaMiroshnichenko)

    Ada beberapa kemungkinan gejala pneumonia yang dapat ditunjukkan oleh anak-anak. Gejalanya juga dapat bervariasi menurut usia.

    Gejala umum pada bayi, meliputi:

    • Pernapasan lebih cepat (takipnea)
    • Peningkatan kerja pernapasan (retraksi)
    • Demam atau suhu tubuh rendah (hipotermia)
    • Menggeram
    • Mudah marah
    • Tidak mau makan atau minum
    • Lesu atau tidak bersemangat
    • Tonus otot rendah (membuat mereka terasa lebih "lemas")
    • Henti napas (apnea)

    Pada balita, gejala umum meliputi salah satu dari gejala di atas dan:

    • Sakit perut 
    • Batuk
    • Sakit saat bernapas
    • Mengi (stridor)
    • Muntah

    Satu hal yang perlu diingat, bahwa bayi dan balita tidak selalu menunjukkan gejala pneumonia yang sudah dikenal, seperti batuk atau mengi.

    Pada anak yang lebih besar dan remaja, pneumonia biasanya terlihat sangat mirip dengan pneumonia pada orang dewasa. Demam, batuk, dan mengi adalah gejala umum.

  4. 4. Berapa lama waktu pemulihan bayi dan anak dengan pneumonia?

    Lama pemulihan pneumonia pada bayi dan anak bisa berbeda-beda, tergantung penyebab infeksi dan tingkat keparahannya.

    Pada kasus yang berat, anak mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan, pemantauan pernapasan, serta dukungan cairan dan nutrisi.

    Bayi berusia di bawah 3 bulan yang mengalami demam juga memerlukan pemeriksaan lebih ketat karena kondisinya dapat memburuk dengan cepat.

    Sementara itu, anak dengan gejala ringan yang masih bisa makan dan minum dengan baik umumnya dapat dirawat di rumah sesuai anjuran dokter.

    Pengobatan biasanya berlangsung sekitar 7 hingga 14 hari. Selama masa pemulihan, anak perlu mendapatkan cukup cairan dan ASI jika masih menyusu.

    Jika anak terus muntah, sulit makan atau minum, atau menunjukkan tanda-tanda memburuk, segera periksakan ke dokter.

    Dengan penanganan yang tepat dan tidak terlambat, sebagian besar anak dapat pulih dari pneumonia dengan baik.

  5. 5. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah pneumonia pada bayi dan anak kecil?

    Pencegahan pneumonia dimungkinkan melalui peningkatan tindakan perlindungan:

    • Memastikan bayi mendapatkan ASI sedini mungkin
    • Vaksinasi
    • Akses ke air bersih
    • Nutrisi yang baik
    • Membatasi paparan polusi udara. 

    Anak-anak menghadapi risiko pneumonia yang lebih besar dibanding orang dewasa. Namun, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk melindungi anak dari penyakit ini. Vaksinasi sangat berperan dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak.

    Segera temui dokter anak jika menduga buah hati terkan pneumonia. Mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin dapat membantu anak pulih lebih cepat.

    Referensi

    Cleveland Clinic. Diakses pada Oktober 2026. "Pneumonia in Children."

    Ozlem Cavkaytar. Diakses pada Oktober 2026. "Pneumonia in Infants and Children."

    UNICEF. Diakses pada Oktober 2026. "Pneumonia in Children: What You Need to Know."

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More