Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mitos atau Fakta: Puasa Bisa Turunkan Kolesterol
ilustrasi kolesterol LDL dan HDL (vecteezy.com/Narupon Promvichai)
  • Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, terbukti dapat menurunkan kolesterol total dan trigliserida serta meningkatkan HDL pada sebagian orang.

  • Efek penurunan kolesterol saat puasa sangat bergantung pada pola makan, total kalori, berat badan, dan kondisi metabolik individu.

  • Konsumsi berlebihan lemak jenuh atau gula saat berbuka bisa menghilangkan manfaat puasa terhadap profil lipid tubuh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh dr. Ni Nyoman Indirawati, Sp.PD

Tak selalu urusan ibadah, banyak orang puasa ingin mendapatkan manfaat bagi kesehatan. Salah satunya adalah untuk menurunkan kolesterol. Ini bisa didapat dari puasa Ramadan, puasa sunnah, atau jenis puasa lainnya seperti intermittent fasting.

Banyak orang menganggap dengan mengurangi waktu makan, asupan lemak otomatis lebih sedikit, sehingga kolesterol pun turun. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap puasa sebagai cara alami untuk membersihkan pembuluh darah dari lemak berlebih.

Namun, apa benar puasa selalu berdampak positif pada profil lipid? Ataukah manfaat tersebut hanya terjadi pada kondisi tertentu?

Sejumlah penelitian tentang puasa Ramadan dan intermittent fasting memang menunjukkan adanya perbaikan kadar kolesterol pada sebagian orang, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten dan sangat dipengaruhi oleh pola makan serta kondisi metabolik masing-masing orang.

Jawabannya bisa fakta

Jadi, puasa bisa menurunkan kolesterol apakah itu mitos atau fakta, jawabannya bisa fakta, tetapi tidak mutlak.

Sejumlah penelitian tentang puasa Ramadan maupun intermittent fasting (IF)menunjukkan adanya perbaikan profil lipid, terutama berupa penurunan kolesterol total dan trigliserida serta peningkatan high-density lipoprotein/HDL (kolesterol baik) pada sebagian partisipan.

Studi melaporkan bahwa pola IF dapat memperbaiki parameter lipid, khususnya pada individu dengan kelebihan berat badan atau sindrom metabolik.

Beberapa tinjauan mengenai puasa Ramadan juga menemukan kecenderungan penurunan kolesterol total dan low-density lipoprotein/LDL setelah satu bulan berpuasa.

Namun, hasil tersebut tidak selalu konsisten pada semua penelitian. Pada sebagian orang, perubahan kadar kolesterol tidak signifikan, terutama jika berat badan tidak berubah atau pola makan saat waktu makan tinggi lemak jenuh dan gula.

Artinya, puasa memang berpotensi membantu menurunkan kolesterol, tetapi efeknya sangat bergantung pada kualitas asupan, total kalori, serta kondisi metabolik masing-masing individu.

Kenapa kolesterol bisa turun saat puasa?

ilustrasi kolesterol dalam tubuh (vecteezy.com/Narupon Promvichai)

Secara fisiologis, saat puasa tubuh beralih dari menggunakan glukosa menjadi lemak sebagai sumber energi. Proses ini dapat:

  • Meningkatkan oksidasi lemak.

  • Menurunkan trigliserida.

  • Memperbaiki sensitivitas insulin.

Jika puasa disertai penurunan berat badan, efek terhadap kolesterol biasanya lebih terlihat. Artinya, yang berperan bukan hanya puasanya, tetapi juga defisit energi dan kualitas asupan.

Namun, mengapa ada orang yang kadar kolesterolnya tidak turun? Alasannya bisa beberapa hal ini:

  • Terbiasa "balas dendam” saat berbuka.

  • Konsumsi gorengan, santan, dan gula berlebihan.

  • Mengalami kenaikan berat badan selama Ramadan.

Pada kondisi ini, profil lipid justru bisa tetap tinggi atau bahkan meningkat.

Hasilnya pada setiap orang bisa berbeda

Puasa bisa membantu menurunkan kolesterol, tetapi bukan jaminan. Efeknya sangat bergantung pada pola makan saat tidak berpuasa, total asupan kalori, berat badan dan kondisi metabolik seseorang.

Jika pola makan tetap seimbang, puasa berpotensi memperbaiki profil lipid. Namun, jika pola makan didominasi konsumsi lemak jenuh dan gula berlebihan, manfaat tersebut bisa hilang.

Puasa bisa membantu menurunkan kolesterol, tetapi bukan jaminan. Efeknya tergantung pada pola makan saat waktu makan, total asupan kalori, berat badan, dan kondisi metabolik dari individu.

Jika dilakukan dengan pola makan seimbang, puasa berpotensi memperbaiki profil lipid. Namun, jika diisi dengan konsumsi lemak jenuh dan gula berlebihan, manfaat tersebut bisa hilang.

Referensi

Ahmed, Naseer, Javeria Farooq, Hasan Salman Siddiqi, Sultan Ayoub Meo, Bibi Kulsoom, Abid H. Laghari, Humaira Jamshed, and Farooq Pasha. “Impact of Intermittent Fasting on Lipid Profile–A Quasi-Randomized Clinical Trial.” Frontiers in Nutrition 7 (February 1, 2021): 596787.

Sharma, Aradhna, Perveen Akhtar, Amir Kazmi, and Tarun Sharma. “Effects of Ramadan Fasting on Serum Lipid Profile.” Journal of Family Medicine and Primary Care 9, no. 5 (January 1, 2020): 2337.

Lu, Ling, Xi Chen, Sho Liou, and Xiuping Weng. “The Effect of Intermittent Fasting on Insulin Resistance, Lipid Profile, and Inflammation on Metabolic Syndrome: A GRADE Assessed Systematic Review and Meta-analysis.” Journal of Health Population and Nutrition 44, no. 1 (August 18, 2025): 293.

Motiwala, Zayna, Pritul Sarker, and Oleksii Hliebov. “Effect of Ramadan Fasting on Blood Lipid Profile Among Populations in the South Asia Region: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Cureus 17, no. 6 (June 18, 2025): e86309.

Putri, I Dewa Ayu Mirah Pramesti. “Pengaruh Puasa Intermiten Terhadap Rasio Triglyceride/High Density Lipoprotein Pada Obesitas,” 2025.

Popiolek-Kalisz, Joanna, and Adrian Kwasny. “The Impact of Intermittent Fasting on Lipid Profile – an Umbrella Review.” Nutrition Metabolism and Cardiovascular Diseases 36, no. 3 (November 21, 2025): 104472.

Editorial Team