Comscore Tracker

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulit

Menyebabkan kesulitan dalam pembelajaran kuliah

Kemampuan setiap orang berbeda-beda. Ada yang cerdas dan dapat melakukan banyak hal dalam waktu singkat, tetapi ada pula yang kesulitan untuk mencerna suatu topik dan menyelesaikan tugas tepat waktu.

Banyak orang dengan mudahnya melabeli kondisi terakhir sebagai pemalas. Namun, perlu diketahui bahwa ada kondisi medis atau disabilitas yang tidak kasatmata (hidden disabilities) yang membuat hal mudah menjadi sulit pada beberapa orang.

Kondisi disabilitas yang tidak terlihat ini menyebabkan orang tersebut mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sekolah ataupun pekerjaan. Berbicara mengenai aktivitas sekolah, artikel ini akan mengulas jenis disabilitas tidak terlihat yang sering ditemukan di bangku kuliah. Apa saja? Simak ulasannya.

1. Attention deficit hyperactivity disorder

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulitilustrasi orientasi sebelum mengikuti mentor program (pexels.com/fauxels)

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah kondisi di mana seseorang kesulitan dalam berkonsentrasi, mengatur waktu, cenderung ceroboh, dan kesulitan dalam mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu (multitasking).

Metode pembelajaran di bangku kuliah lebih kompleks bila dibanding saat masih duduk di bangku sekolah biasa. Keterbatasan inilah yang menyebabkan mahasiswa dengan ADHD mengalami kesulitan di jenjang universitas.

Sebuah laporan berjudul "What Do We Really Know about ADHD in College Students?" dalam jurnal Neurotherapeutics menyebutkan mahasiswa yang mempunyai ADHD akan membaca topik materi berulang kali dibanding dengan temannya yang lain.

Mereka juga kesulitan untuk menyelesaikan soal ujian tepat waktu dan belajar lebih keras dibanding teman lainnya untuk mendapatkan nilai indeks prestasi (IP) yang bagus. 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak universitas dan keluarga, yaitu berupa:

  • Mengikuti konseling individual atau kelompok dengan teknik terapi perilaku kognitif. Program konseling diarahkan pada perencanaan dan organisasi, mengurangi perilaku mudah terganggu (distractibility), dan keterampilan beradaptasi (adaptive thinking).
  • Konseling dengan metode coaching. Di sini mahasiswa yang memiliki ADHD akan dibimbing oleh mentor atau pelatih, kemudian mendiskusikan hal-hal apa saja yang ingin diraih saat kuliah. Kemudian, mentor akan membantu mahasiswa tersebut dalam menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuannya.
  • Dari pihak sekolah dapat menawarkan evaluasi ADHD untuk mahasiswa. Hasil dari evaluasi tersebut dapat digunakan untuk membantu mahasiswa dalam belajar. Contohnya adalah memberikan waktu lebih lama untuk menyelesaikan ujian dan menyediakan tempat yang sepi dan tenang agar bisa fokus.

2. Kesulitan atau gangguan belajar

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulitilustrasi membaca buku berulang kali (pexels.com/Craig Adderley)

Disleksia dan diskalkulia contoh kesulitan atau gangguan belajar (learning disabilities) yang paling sering ditemukan. Disleksia adalah kesulitan dalam membaca dan menulis (spelling), sedangkan diskalkulia adalah kesulitan dalam konsep berhitung.

Gangguan belajar termasuk dalam disabilitas tidak terlihat karena kita sebagai pengamat tidak tahu kesulitan yang mereka alami. Kondisi learning disabilities ini bisa berubah-ubah.

Contohnya, seseorang dengan disleksia menunjukkan peningkatan saat sekolah menengah atas, tetapi kemudian gejala disleksia memburuk saat kuliah. Memiliki gangguan belajar juga dapat berdampak buruk pada satu atau beberapa area kehidupan, misalnya akademik dan sosial.

Mengutip Mt. Hood Community College, gangguan atau kesulitan belajar adalah gangguan perseptual yang menyebabkan seseorang dengan indeks kecerdasan (IQ) normal atau di atas rata-rata mengalami kesulitan dalam memahami informasi, menyimpan informasi, dan mengekspresikan pendapat.

Kesulitan-kesulitan tersebut mencakup kemampuan berhitung, mendengarkan, memecahkan masalah, dan mengemukakan pendapat. Orang-orang dengan gangguan belajar juga kesulitan dalam hubungan sosial dan pengaturan waktu.

Gangguan belajar dapat memengaruhi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan akademik di universitas. Sebuah laporan disertasi yang ditulis oleh Beverly A. Ebo untuk Northeastern University tahun 2016 menyebutkan bahwa mereka yang mempunyai gangguan belajar mengaku kesulitan dalam menulis ringkasan dari bacaan yang sudah dibaca.

Tidak hanya itu, mahasiswa tersebut juga kesulitan dalam mengingat, menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat, dan tidak bisa membagi waktu dengan baik.

Dilansir National Center for Learning Disabilities, hal-hal yang dapat diterapkan oleh mahasiswa, universitas, dan keluarga untuk mengatasi isu disabilitas tak terlihat antara lain:

  • Menghilangkan stigma seperti berkebutuhan khusus atau penyakit kejiwaan di lingkungan kampus dan komunitas.
  • Mendorong siswa untuk dapat menyiapkan diri supaya dapat menjadi orang yang dapat menyatakan pendapat dan apa yang dibutuhkan dengan nyaman (self-advocacy). 
  • Meminta orang tua dan dosen untuk memberikan dukungan kepada mahasiswa yang memiliki disabilitas untuk selalu berpikir positif dan berusaha menjadi yang terbaik.
  • Mahasiswa yang bersangkutan juga harus berusaha untuk menjadi yang lebih baik, tidak mudah putus asa. 
  • Pihak universitas menyediakan akomodasi untuk mahasiswa yang membutuhkan. 

Baca Juga: 7 Gejala Sindrom Asperger, Gangguan yang Kerap Dikira Autisme

3. Sindrom Asperger

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulitilustrasi belajar dengan mendengarkan rekaman suara (pexels.com/Pew Nguyen)

Sindrom Asperger merupakan salah satu disabilitas tidak terlihat yang sering ditemukan di jenjang universitas. Karakteristik utama dari sindrom ini adalah kesulitan di area sosial komunikasi dan interaksi. Contohnya, kesulitan dalam berkomunikasi dua arah dan sulit membaca raut muka serta gerakan tubuh lawan bicara.

Orang-orang dengan sindrom Asperger juga kesulitan dalam berpikir abstrak dan bisa mengalami stres atau cemas bila ada perubahan mendadak.

Contoh kesulitan yang dialami oleh mahasiswa yang memiliki kondisi sindrom Asperger antara lain:

  • Kondisi ruangan kelas yang terlalu terang atau mungkin terlalu berisik.
  • Memahami penjelasan dosen atau asisten dosen, khususnya bila banyak kata kiasan, perumpamaan, atau sesuatu yang butuh kemampuan berpikir abstrak. 
  • Perubahan jadwal yang terjadi secara tiba-tiba. 
  • Saat bekerja kelompok. 

Sebuah laporan yang ditulis oleh Wendy Mitchell dan Bryony Beresford dalam British Journal of Special Education mengemukakan bahwa calon mahasiswa yang memiliki sindrom Asperger dapat mengunjungi kampus yang akan menjadi tempat belajar sebelum semester dimulai. Kenapa?

Tujuannya agar mereka dapat membiasakan diri dengan lingkungan baru. Mereka juga dapat menggunakan mesin perekam (voice recorder) yang dinyalakan saat kuliah, sehingga mereka dapat mengulang materi pembelajaran di rumah.  

Merangkum dari lembar informasi yang diterbitkan oleh State University of New York at Fredonia, pengajar dan universitas dapat membantu mahasiswa dengan sindrom Asperger dengan cara berikut ini:

  • Memberitahu kepada siswa dan orang tua tentang fasilitas konseling yang ada di kampus.
  • Menghubungi orangtua siswa untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi sindrom Asperger yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.
  • Menyediakan program mentor untuk mahasiswa.
  • Pengajar (dosen dan asisten dosen) berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan gaya bahasa yang langsung pada inti permasalahan guna membantu mahasiswa dalam memahami materi.
  • Bersikap fleksibel dan terbuka bila mahasiswa meminta klarifikasi mengenai maksud dan tujuan dari tugas.
  • Memberikan informasi jauh-jauh hari tentang perubahan ruangan, jam kuliah, topik materi, dan sebagainya.

4. Depresi

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulitilustrasi mahasiswi yang merasa frustrasi terhadap tugas sekolah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak semua orang dapat dengan mudah menyesuaikan diri di komunitas yang baru. Demikian pula dengan mahasiswa yang baru saja masuk ke universitas tentunya membutuhkan penyesuaian mulai dari sistem pembelajaran hingga lingkup pertemanan.

Mengutip Medical News Today, kesulitan di dalam menghadapi perubahan yang baru dapat memicu tumbuhnya depresi pada mahasiswa. Gejala yang dapat dialami oleh mahasiswa antara lain:

  • Sulit tidur
  • Tidur terlalu banyak
  • Kesulitan di dalam berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas
  • Nafsu makan berkurang atau bertambah
  • Menghindari acara atau aktivitas yang dulunya disukai

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, dilansir Healthline, ada pula anjuran untuk menghilangkan stigma terhadap penyakit kejiwaan (mental illness) di kampus. Berkurangnya stigma secara tidak langsung mendorong mahasiswa yang mengalami depresi untuk mencari pertolongan.

Langkah lain yang dapat diterapkan adalah dengan menginformasikan kepada siswa dan orangtua akan adanya fasilitas konseling di kampus. Apabila mencurigai mahasiswa mengalami depresi, pihak konseling di universitas dapat memberikan skrining depresi untuk siswa yang kemudian digunakan untuk merancang intervensi.

Depresi yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu keinginan untuk bunuh diri pada siswa, juga dapat mendorong ketergantungan terhadap narkotika.

5. Cedera otak traumatis

Bukan Malas, 5 Disabilitas Tak Terlihat Ini Bikin Kuliah Sulitilustrasi sesi coaching mahasiswa (pexels.com/Christina Morillo)

Cedera otak traumatis terjadi akibat adanya benturan keras dari luar. Kondisi ini umumnya ditemukan pada atlet olahraga, tentara militer, atau pernah mengalami kecelakaan.

Menurut studi dalam jurnal Postsecondary Education and Disability tahun 2016, kondisi cedera otak traumatis ini termasuk disabilitas tidak terlihat karena cedera otak ini menyerang kemampuan untuk belajar, mengingat, dan kemampuan eksekusi (executive functioning). Akibatnya, mahasiswa yang memiliki riwayat cedera otak traumatis mengalami kesulitan di lingkup akademik dan sosial.

Presentasi yang dilakukan oleh University of Georgia mengenai cedera otak traumatis di tahun 2019 mencantumkan hasil survei dari mahasiswa yang mengalami kondisi ini. Beberapa contoh kesulitan yang dialami oleh mahasiswa tersebut antara lain:

  • Lupa tentang apa yang tadi dibicarakan atau dibahas di dalam kelas.
  • Harus mengulang topik lebih sering dibandingkan dulu sebelum mengalami cedera otak.
  • Mempunyai teman lebih sedikit dibandingkan dahulu.
  • Sering datang terlambat dan kesulitan mengatur waktu.
  • Orang lain tidak paham akan kesulitan yang dialami.

Program intervensi yang ideal untuk mahasiswa dengan riwayat cedera otak adalah dengan menggunakan dynamic coaching model. Program coaching berlangsung kurang lebih dua semester. Dalam program ini satu siswa akan dipasangkan dengan satu coach yang sudah terlatih di bidangnya.

Durasi untuk setiap sesi sekitar 44 hingga 88 menit, tergantung kebutuhan siswa. Selama sesi, siswa dengan panduan dari coach akan mengidentifikasi tujuan di tiga target area.

Target area terdiri dari kemampuan untuk menguasai materi secara independen, menjadi individu yang bertanggung jawab dan mampu membela diri sendiri, dan mengatur waktu.

Lewat artikel ini, bisa disimpulkan bahwa penanganan disabilitas tidak terlihat pada mahasiswa butuh kerja sama dari berbagai pihak, yaitu universitas, keluarga, dan siswa itu sendiri.

Program seperti mentor atau coach dapat diberikan untuk membantu mahasiswa dalam merencanakan dan mewujudkan cita-cita secara realistis dan terarah.

Kemudian, persoalan stigma juga menjadi perhatian karena hal ini memicu keraguan untuk mendapatkan bantuan. Menghilangkan stigma serta memberikan akomodasi kepada siswa yang membutuhkan di jenjang universitas dapat membantu mereka di dalam lingkungan akademik dan sosial.

Baca Juga: Media Sosial Bikin Depresi? Ini 8 Fakta dan Solusinya

MW S Photo Verified Writer MW S

"Less is More" Ludwig Mies Van der Rohe.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya