Comscore Tracker

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkulia

Kesulitan dalam berhitung adalah salah satu tandanya

Diskalkulia adalah salah satu gangguan belajar khusus yang membuat seseorang yang mengalaminya akan kesulitan dalam belajar matematika. Diskalkulia juga sering disebut dengan disleksia matematika.

Seseorang dengan diskalkulia mungkin harus mengambil pendekatan yang berbeda untuk mempelajari konsep matematika dan perlu waktu yang lebih lama untuk memahaminya dibandingkan teman seusianya tanpa kondisi tersebut.

Kalau kamu merasa anak kesulitan belajar matematika, sebaiknya baca artikel ini karena mungkin ia mengalami diskalkulia. Supaya lebih memahami gangguan belajar ini, simak penjelasannya berikut ini.

1. Ciri-ciri anak diskalkulia

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkuliapexels.com/Gustavo Fring

Melansir lama Understood, berikut ini beberapa ciri-ciri anak dengan diskalkulia.

Pada usia prasekolah, yaitu 3-6 tahun, tanda-tanda yang perlu diperhatikan adalah:

  • Kesulitan dalam berhitung dan sering melewatkan beberapa angka atau urutan berhitung yang masih salah
  • Tidak paham makna berhitung. Misalnya anak diminta mengambil dua jeruk, dia mengambil lebih dari dua jeruk tanpa menghitung 
  • Kesulitan memahami panjang waktu, sehingga saat antre atau menunggu anak akan mengeluh terlalu lama, padahal kenyataannya baru sebentar

Pada usia sekolah dasar, tanda-tandanya meliputi:

  • Kesulitan dalam mempelajari dan mengingat matematika dasar seperti 5 - 1= 4
  • Sulit mengidentifikasi tanda matematika seperti tanda tambah, kurang, bagi, dan kali
  • Sulit untuk memahami makna "lebih besar", "lebih kecil", "lebih panjang", atau "lebih pendek"
  • Mengalami masalah dalam memahami bahwa "tujuh" sama maknanya dengan "7"

Pada sekolah menengah pertama, tanda-tanda yang muncul bisa berupa:

  • Kesulitan memahami konsep komutasi seperti 5 × 3 = 3 × 5
  • Bermasalah dalam memahami bahasa matematika dan kesulitan memecahkan masalah matematika apalagi soal berbentuk cerita
  • Kesulitan memahami skor dalam suatu pertandingan
  • Menghindari situasi yang harus berhadapan dengan pemahaman angka bahkan untuk permainan yang melibatkan proses matematika

Pada anak yang sudah di duduk di bangku SMA, inilah ciri-ciri diskalkulia:

  • Kesulitan dalam memahami dan membaca grafik matematika
  • Membutuhkan pemahaman yang lebih lama dalam konsep kecepatan, jarak, dan arah
  • Sulit untuk memahami soal matematika yang punya lebih dari satu cara pengerjaan

2. Penyebab anak mengalami diskalkulia

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkuliapexels.com/Magda Ehlers

Penyebab pasti diskalkulia belum terungkap. Namun, ada beberapa faktor yang bisa berkontribusi, yakni:

  • Gen dan keturunan: diskalkulia cenderung diturunkan oleh anggota keluarga dan ternyata genetika berperan penting dalam hal matematika. Misalkan saja, seorang anak tumbuh dengan seorang ibu yang memiliki kesulitan dalam hal matematika, maka kemungkinan besar anak akan punya kendala yang sama.
  • Perkembangan otak: penelitian menunjukkan orang dengan diskalkulia dan tanpa diskalkulia ternyata memiliki perbedaan. Perbedaan ini terletak pada fungsi yang berkaitan dengan keterampilan belajar matematika. 

Baca Juga: 5 Tips Merawat Anak dengan Cerebral Palsy, Memang Bisa Menantang

3. Diagnosis awal

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkuliapexels.com/Gustavo Fring

Perlu adanya kerja sama yang baik antara dokter, psikolog, guru, guru pendidikan khusus, dan orang tua untuk mendiagnosis diskalkulia pada anak.

Melansir WebMD, jika anak kesulitan matematika, maka konsultasikan dengan dokter dengan mengesampingkan masalah belajar lain, seperti adanya gangguan penglihatan dan pendengaran. 

Kemudian, bicarakan pula dengan guru matematika untuk mengetahui dengan jelas persoalan yang dihadapi anak. Bila perlu, bicarakan juga dengan guru mata pelajaran lainnya untuk mengetahui apakah anak juga mengalami kesulitan di bidang lain.

Penting juga untuk konsultasi pada guru pendidikan khusus. Berdasarkan Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003, pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi dan bakat istimewa. 

Terakhir, setelah konsultasi dengan dokter serta guru dan anak ada indikasi diskalkulia, segera buat janji temu dengan psikolog anak untuk tes khusus seperti tes IQ dan tes akademis.

4. Penanganan anak yang mengalami diskalkulia

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkuliapexels.com/Pixabay

Jika diskalkulia tidak ditangani sampai anak beranjak dewasa, itu bisa berdampak besar pada pekerjaan dan pengelolaan keuangan di masa mendatang.

Melansir Healthline dan WebMD, beberapa penanganan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Membiarkan anak menggunakan jari saat menghitung
  • Pastikan anak memiliki alat yang tepat seperti kalkulator yang mudah digunakan
  • Cari tutor matematika yang berpengalaman dan dapat membantu permasalahan anak-anak dengan diskalkulia
  • Jadwalkan waktu untuk anak bermain permainan yang berkaitan dengan matematika
  • Puji kerja kerasnya, bukan hasilnya
  • Pastikan anak di kelas mendapatkan metode pembelajaran matematika yang sesuai dengan kondisinya

5. Hubungan antara diskalkulia dengan ADHD dan disleksia

Anak Kesulitan dalam Belajar Matematika? Hati-hati Diskalkuliapexels.com/Ian Panelo

Diskalkulia juga diketahui berhubungan dengan gangguan lainnya. Mengutip keterangan dari laman Dopasolution, anak-anak dengan attention deficit hyperactivity disorder  (ADHD) 30 persen lebih mungkin memiliki masalah dengan matematika, dan anak-anak dengan ketidakmampuan belajar matematika 25 persen lebih mungkin mengalami ADHD.

Anak-anak dengan ADHD terbiasa dengan rangsangan eksternal dengan sangat cepat. Oleh karena itu, mereka merasa kesulitan untuk tetap fokus melalui tugas-tugas yang berulang, seperti mengulang tabel perkalian.

Bila anak mengalami diskalkulia, penting untuk mengetahui apakah dia juga punya ADHD. Pasalnya, ADHD membuat anak tidak menyukai tugas berulang, sementara anak dengan diskalkulia tanpa ADHD harus sering latihan matematika.

Disleksia juga cenderung muncul bersamaan dengan diskalkulia, dengan persentase perkiraan menunjukkan 70-80 persen dari semua kasus. Banyak penyebab terjadinya diskalkulia juga terjadi pada disleksia. Contohnya saja seperti kinerja memori yang buruk dan lambatnya proses berpikir.

Banyak guru dan orang tua terlalu fokus pada masalah bahasa dan bicara anak. Padahal, matematika juga merupakan keterampilan penting. Terlebih, masyarakat kebanyakan lebih bergantung pada informasi yang sifatnya kuantitatif.

Dengan penjelasan di atas, diharapkan agar orang tua lebih peka terhadap tumbuh kembang anak, termasuk menaruh perhatian besar terhadap setiap proses perkembangan belajarnya.

Baca Juga: Kesulitan Kenal Huruf, Ini Solusi untuk Anak yang Menderita Disleksia

Sharma Khan Photo Verified Writer Sharma Khan

Cukup baca tulisanku tanpa harus tahu siapa aku

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya