Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemeriksaan RET-He Bisa Bantu Skrining Kekurangan Zat Besi

4 min read
Pemeriksaan RET-He Bisa Bantu Skrining Kekurangan Zat Besi
ilustrasi dokter memeriksa kesehatan anak (pexel.com/Pavel Danilyuk)
  • RET-He mengukur hemoglobin pada retikulosit dan dapat memberi petunjuk kekurangan zat besi sebelum hemoglobin turun atau anemia muncul.

  • Pemeriksaan RET-He dapat dilaporkan bersama hitung darah lengkap di laboratorium tertentu, membantu menilai ketersediaan besi tanpa selalu memerlukan tabung darah tambahan.

  • Nilai ambang RET-He berbeda menurut usia dan penelitian; hasil rendah juga dapat terjadi pada talasemia, sehingga perlu dinilai bersama Hb, ferritin, riwayat, dan pemeriksaan lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat memeriksa darah, dokter biasanya melihat kadar hemoglobin (Hb), salah satu penanda anemia. Namun, kekurangan zat besi dapat terjadi sebelum Hb turun. Salah satu pemeriksaan yang bisa memberi petunjuk lebih awal adalah reticulocyte hemoglobin equivalent (RET-He).

Pemeriksaan RET-He mengukur jumlah hemoglobin di dalam retikulosit, yaitu sel darah merah yang baru terbentuk. Hasilnya dapat menunjukkan ketersediaan zat besi untuk membuat hemoglobin dalam sel darah merah yang baru.

“RET-He bisa menjadi satu alternatif kalau, misalnya, di daerah Indonesia belum semuanya bisa melakukan pemeriksaan ferritin,” kata Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, dalam seminar media pada Selasa (6/10).

  1. 1. RET-He dapat memberi petunjuk sebelum Hb turun

    Zat besi dibutuhkan sumsum tulang untuk membentuk hemoglobin. Karena retikulosit baru saja diproduksi, kandungan hemoglobinnya mencerminkan pasokan zat besi yang tersedia untuk pembentukan sel darah merah belakangan ini. Jika pasokan besi berkurang, nilai RET-He dapat turun sebelum anak mengalami anemia.

    American Academy of Pediatrics (AAP) dalam laporan klinis 2026 menyebut kandungan hemoglobin retikulosit—yang dapat dilaporkan sebagai CHr atau RET-He—menurun sebelum anemia muncul. Jika tersedia, pemeriksaan ini dapat membantu diagnosis, terutama jika dilakukan bersama pemeriksaan darah lengkap.

    Karena itu, RET-He dapat membantu menemukan tanda kekurangan besi ketika kadar Hb masih normal. Namun, hasilnya tetap perlu dipahami bersama pemeriksaan lain dan kondisi pasien.

  2. 2. Pemeriksaannya bisa dilakukan bersama tes hitung darah lengkap

    Ilustrasi sampel darah dalam tabung untuk pemeriksaan laboratorium medis sebagai bagian dari tes kesehatan.
    ilustrasi sampel darah untuk pemeriksaan darah (magnific.com/magnific)

    Di laboratorium yang memiliki alat pendukung, RET-He dapat dilaporkan bersama pemeriksaan retikulosit dan, jika diambil bersamaan, pemeriksaan darah lengkap. Artinya, pemeriksaan ini mungkin tidak memerlukan tabung darah tambahan, walaupun ketersediaannya tetap bergantung pada alat dan layanan laboratorium.

    RET-He juga berbeda dari hitung retikulosit biasa. Hitung retikulosit menunjukkan jumlah sel darah merah muda, sedangkan RET-He mengukur kandungan hemoglobinnya.

    Prof. Murti menjelaskan bahwa pemeriksaan ini dapat membantu menilai apakah besi yang tersedia cukup untuk pembentukan sel darah merah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa RET-He belum memiliki satu ambang nilai yang berlaku untuk semua kelompok usia.

  3. 3. Hasil RET-He tidak dapat dipakai sebagai patokan universal

    Sejumlah penelitian menemukan nilai ambang yang berbeda. Studi di Jakarta terhadap 207 anak berusia 6–18 tahun, misalnya, mendapatkan angka 28,9 pikogram untuk skrining defisiensi besi dan 27 pikogram untuk anemia defisiensi besi. Studi lain pada 3.158 pasien anak di rumah sakit tersier menemukan ambang berbeda, yaitu 30 pikogram untuk defisiensi besi dan 27,4 pikogram untuk anemia defisiensi besi.

    Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka ambang RET-He tidak dapat dipakai sebagai patokan universal atau untuk menafsirkan hasil sendiri. Hasil penelitian bisa dipengaruhi karakteristik peserta, definisi kekurangan besi, dan metode pemeriksaan yang digunakan.

  4. 4. RET-He rendah belum tentu berarti kekurangan zat besi

    Seorang tenaga medis berbicara dengan anak perempuan di ruang konsultasi sambil mencatat gejala pada laptop.
    ilustrasi pemeriksaan kesehatan anak (magnific.com/DCStudio)

    RET-He dapat memberi petunjuk, tetapi hasil rendah tidak hanya ditemukan pada defisiensi besi. Nilainya juga dapat rendah pada talasemia trait dan kelainan hemoglobin lainnya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ukuran sel darah merah dan kandungan hemoglobinnya.

    Karena itu, dokter akan mempertimbangkan hasil RET-He bersama riwayat kesehatan dan pola makan, kadar Hb, ukuran sel darah merah, ferritin, serta pemeriksaan lain jika diperlukan. Ferritin memberi gambaran tentang cadangan besi, meski nilainya dapat meningkat saat tubuh mengalami peradangan atau infeksi.

  5. 5. RET-He bukan pengganti pemeriksaan utama

    Perlu dibedakan antara pemeriksaan yang dapat membantu skrining dan pemeriksaan yang menjadi bagian dari rekomendasi skrining.

    Laporan klinis AAP 2026 memang mencantumkan RET-He sebagai pemeriksaan laboratorium tambahan. Namun, rekomendasi skriningnya menekankan pemeriksaan darah lengkap dan ferritin untuk menilai anemia sekaligus kekurangan besi sebelum anemia terjadi.

    “RET-He ini memang masih belum ada cut-off yang universal untuk diagnosis karena berbeda sesuai kelompok usianya,” ujar Prof. Murti.

    Dengan demikian, RET-He berpotensi membantu skrining, terutama jika laboratorium dapat melaporkannya bersama pemeriksaan darah lengkap. Namun, hasilnya bukan diagnosis tunggal. Dokter tetap perlu menilai gambaran darah dan status besi anak secara menyeluruh.

    Referensi

    Jacquelyn M. Powers et al., “Prevention, Screening, Diagnosis, and Treatment of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia in Infants, Children, and Adolescents: Clinical Report,” Pediatrics 158, no. 1 (July 2026): e2026077414, https://doi.org/10.1542/peds.2026-077414.

    Murti Andriastuti, Melita Adiwidjaja, and Hindra Irawan Satari, “Diagnosis of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia with Reticulocyte Hemoglobin Content among Children Aged 6–18 Years,” Iranian Journal of Blood and Cancer 11, no. 4 (2019): 127–32, https://scholar.ui.ac.id/en/publications/diagnosis-of-iron-deficiency-and-iron-deficiency-anemia-with-reti/.

    Izmarie Poventud-Fuentes, Thomas H. Chong, Michael Dowlin, Sridevi Devaraj, and Choladda V. Curry, “Reticulocyte Hemoglobin Equivalent as a Marker to Assess Iron Deficiency: A Large Pediatric Tertiary Care Hospital Study,” International Journal of Laboratory Hematology 46, no. 1 (2024): 148–55, https://doi.org/10.1111/ijlh.14188.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More