Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Usia 6–12 Bulan, Masa Kebutuhan Zat Besi Bayi Meningkat

5 min read
Usia 6–12 Bulan, Masa Kebutuhan Zat Besi Bayi Meningkat
ilustrasi orang tua mengasuh bayi (unsplash.com/Taylor Gray)
  • Usia 6–12 bulan perlu mendapat perhatian khusus. Cadangan zat besi bayi cukup bulan mulai berkurang, sementara pertumbuhan berlangsung cepat.

  • Bayi prematur dan bayi yang mendapat ASI eksklusif bisa memerlukan perhatian lebih awal. Waktu dan dosis suplemen perlu mengikuti rekomendasi dokter.

  • Defisiensi besi dapat terjadi sebelum hemoglobin turun. Karena itu, penilaian status besi tidak selalu cukup hanya dengan melihat kadar hemoglobin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi cukup bulan mengandalkan cadangan zat besi yang terbentuk sebelum lahir. Namun, saat pertumbuhan makin pesat dan bayi mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI), cadangan tersebut berkurang. Periode 6–12 bulan pun menjadi masa penting untuk memastikan asupan zat besinya tercukupi.

“Defisiensi besi itu bukan sekadar anemia. Bahkan sebelum Hb-nya turun, defisiensi besi bisa terjadi,” kata Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), dalam sambutannya pada seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (6/10).

Ya, anak bisa kekurangan zat besi sebelum kadar hemoglobinnya cukup rendah untuk disebut anemia. Karena itu, kecukupan zat besi bayi perlu diperhatikan sejak awal, bukan hanya ketika ia tampak pucat atau lemas.

  1. Usia 6–12 bulan menjadi masa penting

    Pada bayi cukup bulan, cadangan zat besi biasanya mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan pertama. Namun, jumlahnya dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk usia kehamilan saat bayi lahir, status zat besi ibu, dan waktu pemotongan tali pusat. Bayi prematur atau lahir dengan berat badan rendah perlu mendapat perhatian khusus karena cadangan besinya bisa berbeda.

    Kebutuhan zat besi meningkat seiring pertumbuhan.

    “Bayi dan remaja termasuk kelompok yang kebutuhan besinya paling tinggi, karena secara fisiologis terjadi percepatan tumbuh pada kelompok tersebut,” ujar Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI.

    MPASI umumnya mulai diberikan pada usia sekitar 6 bulan, ketika ASI atau susu formula saja tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan gizi. Rentang usia 6–23 bulan juga merupakan masa ketika risiko kekurangan zat gizi meningkat.

    “Pada usia 6 bulan, bayi baru mulai belajar makan dan perlu beradaptasi. Di sisi lain, kebutuhan besinya sudah tinggi,” kata Prof. Murti.

  2. Zat besi juga penting bagi perkembangan otak

    Ilustrasi bayi dalam konteks pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), fase penting perkembangan nutrisi anak.
    ilustrasi bayi MPASI (magnific.com/pressfoto)

    Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin (Hb), protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Zat besi juga berperan dalam fungsi tubuh lain, termasuk perkembangan sistem saraf.

    American Academy of Pediatrics (AAP) mencatat bahwa defisiensi besi pada masa bayi dan anak usia dini, dengan atau tanpa anemia, dikaitkan dengan dampak buruk pada perkembangan saraf yang dapat bertahan hingga usia dewasa. Deteksi dan penanganan dini dapat membantu mengurangi dampaknya.

    Sebuah tinjauan sistematis pada 2025 yang ditulis Jason Theola dan Murti Andriastuti merangkum 17 studi kohort mengenai defisiensi besi pada awal kehidupan. Studi-studi itu menemukan kaitan dengan sejumlah aspek perkembangan, termasuk kognitif, motorik, dan perilaku. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan, meski bukan berarti setiap bayi yang mengalami kekurangan zat besi pasti akan mengalami dampak yang sama.

  3. Dari mana bayi memperoleh zat besi?

    Mulai sekitar 6 enam bulan, bayi membutuhkan sumber zat besi selain ASI. Sumbernya bisa berasal dari MPASI yang mengandung zat besi, sereal bayi yang difortifikasi, atau—apabila disarankan oleh tenaga kesehatan—suplemen.

    Anak usia 6–23 bulan disarankan mengonsumsi pangan hewani, seperti daging, ikan, atau telur, setiap hari sebagai bagian dari pola makan beragam.

    Sumber lain yang dapat diperkenalkan sesuai usia dan tekstur yang aman antara lain sereal bayi yang difortifikasi, tahu, kacang-kacangan, dan lentil. Zat besi dari tumbuhan umumnya lebih sulit diserap tubuh; menyajikannya bersama makanan sumber vitamin C dapat membantu penyerapan.

    Kebutuhan suplemen bergantung pada kondisi bayi dan sumber nutrisinya. Dalam pedoman terbarunya, AAP menyatakan bayi prematur yang sudah mendapat nutrisi penuh melalui saluran cerna perlu mulai menerima fortifikasi atau suplementasi zat besi pada usia 2 minggu, untuk memastikan asupan total 2–3 mg/kg per hari.

    Untuk bayi cukup bulan yang mendapat ASI eksklusif, pedoman itu merekomendasikan suplemen 1 mg/kg per hari mulai usia 4 bulan; sebagian keluarga dapat memilih menunggu hingga 6 bulan, ketika MPASI yang mengandung zat besi mulai diberikan. Bayi yang mengonsumsi susu formula yang sudah difortifikasi memiliki kebutuhan berbeda.

    Angka-angka tersebut adalah pedoman AAP di Amerika Serikat, bukan petunjuk agar orang tua menghitung dan memberikan suplemen sendiri. Dosis perlu disesuaikan dengan usia, riwayat kelahiran, pola minum, makanan, serta penilaian dokter anak.

  4. Apa yang berubah dalam pedoman AAP terbaru?

    Ilustrasi bayi sedang menjalani masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai pelengkap nutrisi harian.
    ilustrasi bayi MPASI (pexels.com/Vanessa Loring)

    Pembaruan AAP terbit pada 2026, hampir 16 tahun setelah laporan sebelumnya pada 2010.

    Pedoman 2010 berfokus pada pencegahan dan diagnosis defisiensi besi pada bayi dan anak sampai usia 3 tahun, termasuk skrining anemia sekitar usia 12 bulan. Laporan baru mencakup anak dari lahir hingga remaja dan memperbarui pedoman pencegahan, skrining, diagnosis, serta pengobatan.

    Untuk skrining bayi dan anak kecil, pedoman AAP 2026 merekomendasikan pemeriksaan darah lengkap dan ferritin—protein yang digunakan untuk menilai cadangan zat besi. Waktunya disesuaikan dengan sumber nutrisi utama bayi pada tahun pertama: usia 9–12 bulan untuk bayi yang sumber nutrisi utamanya ASI, serta 15–18 bulan untuk bayi yang sumber nutrisi utamanya formula yang difortifikasi zat besi. Apabila pemeriksaan darah lengkap dan ferritin tidak tersedia, setidaknya hemoglobin diperiksa.

    Meski demikian, pedoman baru ini perlu dipahami dengan mempertimbangkan kondisi setempat.

    Bagi orang tua, langkah yang bisa dilakukan adalah membicarakan kebutuhan zat besi bayi saat kontrol rutin, terutama jika bayi lahir prematur, berat lahir rendah, mendapat ASI eksklusif, atau mulai MPASI. Dokter dapat menilai apakah asupan makanan sudah mencukupi, apakah pemeriksaan diperlukan, dan apakah bayi perlu suplementasi.

    Referensi

    Jacquelyn M. Powers et al., “Prevention, Screening, Diagnosis, and Treatment of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia in Infants, Children, and Adolescents: Clinical Report,” Pediatrics 158, no. 1 (July 2026): e2026077414, https://doi.org/10.1542/peds.2026-077414.

    National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements, “Iron: Fact Sheet for Consumers,” diakses 6 Oktober 2026.

    World Health Organization, "WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age," diakses 6 Oktober 2026.

    Jason Theola and Murti Andriastuti, “Neurodevelopmental Impairments as Long-term Effects of Iron Deficiency in Early Childhood: A Systematic Review,” Balkan Medical Journal 42, no. 2 (2025): 108–20, https://doi.org/10.4274/balkanmedj.galenos.2025.2024-11-24.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Iron,” Infant and Toddler Nutrition, diakses 6 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Iron,” Breastfeeding Special Circumstances, diakses 6 Oktober 2026.

    Robert D. Baker, Frank R. Greer, and the Committee on Nutrition, “Diagnosis and Prevention of Iron Deficiency and Iron-Deficiency Anemia in Infants and Young Children (0–3 Years of Age),” Pediatrics 126, no. 5 (2010): 1040–50, https://doi.org/10.1542/peds.2010-2576.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More