Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi organ jantung dan ginjal.
ilustrasi organ jantung dan ginjal (IDN Times/NRF)

Intinya sih...

  • Penelitian terbaru mengungkap bahwa ginjal yang rusak pada penyakit ginjal kronis (PGK) melepaskan vesikel ekstraseluler berisi miRNA toksik yang dapat langsung merusak jaringan jantung dan berkontribusi pada gagal jantung.

  • Temuan ini menunjukkan mekanisme biologis spesifik yang menjelaskan kenapa lebih dari 50 persen pasien PGK meninggal akibat kondisi jantung meskipun gejala awalnya tidak terlihat.

  • Penelitian ini membuka peluang untuk deteksi dini dan terapi baru, termasuk kemungkinan menggunakan vesikel toksik sebagai biomarker risiko atau menarget mekanisme tersebut untuk mencegah kerusakan jantung.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penyakit ginjal kronis (PGK) memengaruhi jutaan orang di dunia. Namun, epidemi penyakit ini jauh lebih luas. Studi terbaru dalam jurnal Circulation menunjukkan bahwa bahkan sebelum gejala klinis jelas, ginjal yang mengalami kerusakan bisa berdampak pada jantung. Tentu saja ini bukan kabar baik.

Selama puluhan tahun, dokter dan peneliti melihat bahwa pasien PGK memiliki risiko sangat tinggi terhadap penyakit kardiovaskular dan gagal jantung. Sebelumnya, penyebab biologisnya masih kurang dipahami—apakah hubungan ini hanya karena faktor risiko bersama seperti hipertensi dan diabetes, atau ada mekanisme yang lebih spesifik? Studi terbaru kini telah mengidentifikasi sebuah jalur biologis yang konkret yang menghubungkan langsung penyakit ginjal ke kerusakan jantung.

Temuan ini dianggap penting karena lebih dari setengah pasien dengan PGK pada akhirnya tutup usia bukan karena komplikasi ginjal saja, tetapi bisa akibat komplikasi jantung. Memahami hubungan ini berarti para ahli bisa memikirkan strategi diagnosis dan pencegahan yang lebih tajam di masa depan.

Saat ginjal yang rusak mengirim “sinyal racun” ke jantung

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Universitas Virginia dan Mount Sinai menemukan bahwa ginjal yang mengalami kerusakan akibat PGK melepaskan vesikel kecil ke dalam aliran darah. Vesikel ini disebut circulating extracellular vesicles (EVs) dan berisi molekul kecil yang disebut miRNA (microRNA).

Vesikel ekstraseluler pada dasarnya merupakan “pembawa pesan” antarsel yang biasanya membantu komunikasi normal tubuh. Namun, ketika ginjal rusak oleh penyakit kronis, vesikel tersebut membawa miRNA toksik yang secara spesifik berdampak buruk pada jaringan jantung. Penelitian menemukan bahwa vesikel yang beredar dari pasien PGK menyebabkan tekanan pada otot jantung, gangguan fungsi kontraksi, dan bahkan kematian sel jantung.

Dalam uji laboratorium pada tikus yang menjalani model penyakit ginjal kronis, ketika vesikel ini diblokir dari sirkulasi, fungsi jantung membaik dan tanda-tanda gagal jantung berkurang secara signifikan. Ini dianggap sebagai bukti kuat bahwa vesikel ini bukan hanya penanda, tetapi agen toksik yang berkontribusi langsung terhadap patogenesis gagal jantung.

Mengapa temuan ini penting?

ilustrasi penyakit ginjal (IDN Times/NRF)

Hingga kini, penyebab jantung pasien PGK gagal secara spesifik belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Berbagai faktor risiko umum seperti tekanan darah tinggi, obesitas, dan gangguan metabolik sering dianggap yang bertanggung jawab. Namun, penelitian ini mengungkapkan bahwa ada mekanisme implisit yang berasal dari ginjal itu sendiri, bukan cuma kondisi risiko bersama.

Tingkat miRNA tertentu yang ditemukan dalam vesikel ini juga terhubung dengan penanda kerusakan jantung yang sudah diketahui secara klinis, membuka kemungkinan bahwa vesikel ini suatu hari bisa berfungsi sebagai biomarker diagnostik dan prognostik bagi pasien PGK yang berisiko tinggi mengalami gagal jantung.

Dengan memahami bagaimana organ yang tampaknya berbeda—ginjal dan jantung—benar-benar berkomunikasi pada tingkat molekuler, dokter dan peneliti bisa mulai mencari strategi baru untuk mendeteksi risiko lebih dini dan mungkin bahkan mengintervensi proses tersebut sebelum penyakit jantung berkembang.

Harapan untuk deteksi dini dan perawatan baru

Salah satu tantangan klinis terbesar dalam mengelola pasien PGK adalah bahwa kerusakan sering terdeteksi ketika sudah berlangsung lama, baik pada ginjal maupun pada jantung. Dengan penemuan vesikel toksik ini, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan tes darah baru yang mencari vesikel berbahaya ini sebagai penanda awal risiko gagal jantung pada pasien PGK.

Ada pula harapan untuk pengembangan terapi bertarget. Jika para ahli dapat menghentikan atau menetralkan vesikel-vesikel tersebut sebelum mencapai jantung, mungkin "hubungan toksik" ini bisa dihentikan sehingga mengurangi angka kematian terkait jantung pada pasien PGK.

Lebih jauh lagi, pendekatan pengobatan presisi, yaitu terapi yang disesuaikan dengan profil individu, mungkin suatu hari bisa diberikan kepada pasien berdasarkan komposisi vesikel dan miRNA mereka. Ini bisa memperbaiki hasil klinis dan menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan khusus pasien.

Studi terbaru menunjukkan bahwa penyakit ginjal kronis tidak hanya merusak ginjal, tetapi juga bisa memengaruhi jantung melalui vesikel ekstraseluler yang membawa zat beracun. Temuan ini membantu menjelaskan hubungan rumit antara ginjal dan jantung, sekaligus membuka peluang untuk diagnosis dan terapi yang lebih baik.

Dengan deteksi dini dan pengobatan yang menargetkan vesikel beracun tersebut, pengelolaan penyakit ginjal kronis di masa depan bisa lebih personal dan proaktif. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko penyakit jantung pada pasien ginjal kronis.

Referensi

Li Xisheng et al., Circulating Extracellular Vesicles in the Pathogenesis of Heart Failure in Patients With Chronic Kidney Disease, Circulation 153, no.2 (2026): 94–114, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.125.075579.

University of Virginia Health System, “Chronic Kidney Disease Poisons Patients’ Hearts,” UVA Health News. Diakses Februari 2026.

Editorial Team