Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lucky Widja Sempat Didiagnosis TBC Ginjal, Kondisi Apa Ini?

Ilustrasi ginjal.
ilustrasi ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya sih...
  • TBC ginjal adalah salah satu bentuk TBC ekstrapulmoner yang muncul akibat penyebaran bakteri dari paru-paru ke ginjal melalui darah.
  • Gejala sering mirip infeksi saluran kemih, sehingga diagnosis sering terlambat. Butuh pemeriksaan khusus seperti kultur urine dan biopsi.
  • Pengobatan TBC ginjal umumnya mengikuti regimen standar TBC (antibiotik kombinasi selama 6-9 bulan).
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kabar duka dari dunia hiburan, Lucky Widja vokalis Element meninggal dunia pada usia 49 pada Minggu malam (25/1). Saat pemakaman pada Senin (26/1) di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Aleima Sharuma, sang istri, mengungkapkan kondisi terakhir sang suami kepada media, yang sudah tidak enak badan selama beberapa hari terakhir hingga akhirnya dilarikan ke ICU pada hari Minggu.

Aleima juga mengatakan bahwa Lucky sempat didiagnosis dengan tuberkulosis (TB/TBC) ginjal dan sudah kurang lebih setahun cuci darah, dilansir Antara.

TBC adalah infeksi bakteri yang paling dikenal menyerang paru-paru, tetapi Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab penyakit ini, juga dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Salah satunya adalah ginjal, menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai TBC ginjal (renal tuberculosis).

Secara global, TBC tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat besar. Laporan Global Tuberculosis Report 2024/2025 menyebutkan angka kasus tahunan TBC di kisaran 10,7 juta dan lebih dari 1,2 juta kematian. Sekitar 5–45 persen dari kasus TBC baru adalah merupakan TBC ekstrapulmoner (TBC yang terjadi di luar paru‑paru). TBC ginjal termasuk bagian dari genitourinary tuberculosis, diperkirakan menyumbang 30–40 persen dari semua kasus TBC ekstrapulmoner.

TBC ginjal sendiri relatif langka, tetapi sering kali terlewat diagnosis karena gejalanya sering mirip infeksi saluran kemih (ISK) kronis. Kekeliruan dalam mendiagnosis dapat memperlambat pengobatan dan membawa konsekuensi serius bagi fungsi ginjal.

Table of Content

1. Penyebab

1. Penyebab

Penyebab utama TBC ginjal adalah penyebaran hematogen (melalui darah) dari infeksi TBC di paru-paru atau bagian tubuh lain ke ginjal. Proses ini sering terjadi bertahun-tahun setelah infeksi paru awal.

Bakteri M. tuberculosis memasuki aliran darah dan menetap di jaringan ginjal. Dalam banyak kasus, bakteri ini tetap dorman (tidak aktif) untuk waktu yang lama sebelum akhirnya berkembang menjadi penyakit aktif, terutama ketika sistem imun melemah oleh faktor seperti HIV, diabetes, atau usia lanjut.

TBC ginjal sering disebut bagian dari TBC genitourinaria, yang mencakup infeksi pada ginjal, ureter, kandung kemih, dan organ reproduksi. Ginjal adalah organ yang paling sering terkena dalam kategori ini.

2. Gejala

Seorang laki-laki mengalami gejala nyeri saat buang air kecil karena TBC ginjal.
ilustrasi gejala TBC ginjal (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Gejala TBC ginjal bisa sangat mirip ISK, sehingga sering terabaikan:

  • Disuria (nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil).
  • Frekuensi atau urgensi urine yang meningkat.
  • Hematuria (darah dalam urine).
  • Nyeri pinggang atau flank (samping bawah rusuk).
  • Kadang tanpa gejala sampai penyakit sudah lanjut.

Selain itu, karena ini adalah bentuk TBC ekstrapulmoner, gejala umum TBC seperti demam ringan, penurunan berat badan, dan keringat malam juga mungkin ada, tetapi tidak selalu muncul pada TBC ginjal.

Karena gejala sangat umum dan bisa mirip ISK atau batu ginjal, diagnosis sering terlambat dalam banyak kasus.

3. Diagnosis

Diagnosis TBC ginjal memerlukan kombinasi evaluasi klinis, laboratorium, dan pencitraan, serta tes khusus untuk bakteri TBC:

  • Urinalisis dan kultur urine: Mendeteksi bakteri TBC di urine; uji kultur dari beberapa spesimen urine pagi sering meningkatkan sensitivitas.
  • Tes darah TBC: Tes kulit tuberkulin atau Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) membantu menunjukkan paparan TBC tetapi tidak definitif untuk keterlibatan ginjal.
  • Pencitraan: Ultrasonografi, CT scan, atau IVP bisa memperlihatkan perubahan struktural, seperti hidronefrosis (pembengkakan ginjal) atau pengerutan ginjal akibat infeksi kronis.
  • Biopsi ginjal: Diperlukan untuk diagnosis definitif jika tes lain tidak jelas.

Diagnosis dini penting karena keterlambatan sering membuat fungsi ginjal makin menurun sebelum terapi dimulai.

4. Pengobatan

Ilustrasi obat-obatan resep dokter.
ilustrasi obat-obatan dari dokter (IDN Times/Novaya Siantita)

Pengobatan TBC ginjal mengikuti pedoman standar untuk TBC aktif, menggunakan kombinasi antibiotik anti-TBC selama periode yang diperpanjang (biasanya 6–9 bulan):

  • Isoniazid, Rifampin, Pyrazinamide, dan Ethambutol sering menjadi rejimen awal terapi.
  • Dalam kasus tertentu, diperlukan modifikasi atau perpanjangan regimen tergantung respons terapi dan temuan resistansi.

Terapi yang tepat biasanya cukup efektif dalam menghilangkan bakteri dan mencegah kerusakan lanjut, tetapi bisa memerlukan koordinasi antara nefrolog (spesialis ginjal) dan spesialis infeksi.

5. Komplikasi yang bisa terjadi

Tanpa diagnosis dan pengobatan yang cepat, TBC ginjal bisa menimbulkan komplikasi serius, seperti:

  • Kerusakan struktural ginjal yang menyebabkan fibrosisi dan kehilangan fungsi ginjal permanen.
  • Gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal stadium akhir.
  • Hidronefrosis akibat penyempitan saluran urine.
  • Perlu operasi (mis. nefrektomi) dalam kasus yang parah.

Beberapa kasus bahkan dapat memerlukan pengangkatan ginjal yang rusak jika fungsinya tidak lagi dapat diselamatkan.

6. Pencegahan

Pemeriksaan kesehatan.
ilustrasi pemeriksaan kesehatan (unsplash.com/Mufid Majnun)

Karena TBC ginjal tidak muncul secara tiba-tiba, pencegahannya sangat erat kaitannya dengan pencegahan dan pengendalian TBC secara umum, yang dapat menurunkan risiko penyebaran M. tuberculosis ke organ lain.

  • Deteksi dan pengobatan TBC paru sejak dini

Sebagian besar kasus TBC ginjal terjadi akibat penyebaran bakteri dari TBC paru melalui aliran darah, sering kali bertahun-tahun setelah infeksi awal. Karena itu, diagnosis dan pengobatan TBC paru secara cepat dan tuntas menjadi langkah pencegahan paling penting. Terapi TBC yang adekuat dapat secara signifikan menurunkan risiko TBC ekstrapulmoner, termasuk keterlibatan ginjal.

  • Patuh menjalani pengobatan TBC sampai selesai

Penghentian obat TBC sebelum waktunya meningkatkan risiko TBC persisten dan reaktivasi laten, yang dapat menyebar ke ginjal. Kepatuhan penuh terhadap regimen pengobatan TBC tidak hanya menyembuhkan infeksi aktif, tetapi juga mencegah komplikasi jangka panjang dan resistansi obat.

  • Kendalikan faktor risiko yang melemahkan sistem imun

TBC ginjal lebih sering ditemukan pada individu dengan sistem imun yang terganggu, seperti orang dengan HIV, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau mereka yang menggunakan obat imunosupresan jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa pengendalian penyakit penyerta, terutama HIV dan diabetes, berperan penting dalam menurunkan risiko TBC ekstrapulmoner.

  • Skrining TBC laten pada kelompok berisiko

TBC laten dapat “tidur” selama bertahun-tahun sebelum aktif kembali dan menyebar ke organ lain, termasuk ginjal. WHO merekomendasikan skrining dan terapi TBC laten pada kelompok berisiko tinggi, seperti kontak erat pasien TBC aktif dan individu dengan gangguan imunitas, sebagai langkah pencegahan berbasis populasi.

  • Pencegahan penularan TBC di lingkungan

Ventilasi yang baik, penggunaan masker pada pasien TBC aktif, dan edukasi tentang etika batuk tetap relevan. Intervensi ini terbukti menurunkan transmisi TBC dan secara tidak langsung mengurangi risiko komplikasi jangka panjang, termasuk TBC ginjal.

Secara keseluruhan, mencegah TBC ginjal berarti mencegah TBC itu sendiri, terutama dengan memastikan infeksi terdeteksi lebih awal, diobati secara tuntas, dan tidak diberi kesempatan untuk menyebar ke organ vital lainnya.

TBC ginjal adalah salah satu bentuk TBC ekstrapulmoner yang meskipun jarang, tetap merupakan kondisi serius dan sering terdiagnosis terlambat karena gejala yang tidak spesifik dan mirip ISK. Penyakit ini terjadi karena penyebaran bakteri dari paru-paru atau bagian tubuh lain melalui darah dan merupakan bagian dari TBC genitourinaria yang kompleks.

Diagnosis yang teliti ditambah pengobatan yang konsisten dapat mencegah komplikasi serius seperti kehilangan fungsi ginjal permanen. Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami gejala urine yang tidak biasa, berkonsultasilah dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

Referensi

Kristina Roddy et al., “Genitourinary Tuberculosis,” StatPearls - NCBI Bookshelf, August 16, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557558/.

Muneer, A., Macrae, B., Krishnamoorthy, S. et al. "Urogenital tuberculosis — epidemiology, pathogenesis and clinical features." Nat Rev Urol 16, 573–598 (2019). https://doi.org/10.1038/s41585-019-0228-9.

Zachoval R, Nencka P, Vasakova M, Kopecka E, Borovička V, Wallenfels J, Cermak P. The incidence of subclinical forms of urogenital tuberculosis in patients with pulmonary tuberculosis. J Infect Public Health. 2018 Mar-Apr;11(2):243-245. doi: 10.1016/j.jiph.2017.07.005.

"What to Know About Renal (Kidney) Tuberculosis." Healthline. Diakses Januari 2026.

“Treatment of Tuberculosis  American Thoracic Society, CDC, and Infectious Diseases Society of America,” June 20, 2003, https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5211a1.htm.

"Global tuberculosis report 2025." WHO. Diakses Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

[QUIZ] Dari Subgenre Horor Favoritmu, Kami Bisa Ungkap Kepribadianmu

26 Jan 2026, 18:35 WIBHealth