Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penyakit yang Dapat Memicu Stroke sebagai Komplikasi
ilustrasi stroke (IDN Times/Novaya Siantita)

Intinya sih...

  • Banyak penyakit kronis dapat meningkatkan risiko stroke karena gangguan pada pembuluh darah, jantung, atau metabolisme tubuh.

  • Stroke dapat timbul sebagai komplikasi dari kondisi seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan gangguan darah tertentu.

  • Mengetahui tanda-tanda awal stroke serta pencegahan yang tepat sangat penting untuk respons cepat dan mengurangi kecacatan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Stroke tetap menjadi salah satu kondisi medis yang paling serius, berkontribusi pada jutaan kematian dan disabilitas setiap tahunnya. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stroke adalah salah satu penyebab kematian tertinggi secara global, di bawah penyakit jantung iskemik.

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik karena penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik), sehingga bagian otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup, yang akhirnya menyebabkan kerusakan sel otak dalam hitungan menit.

Di Indonesia, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian, yakni sebesar 11,2 persen dari total kecacatan dan 18,5 persen dari total kematian. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke juga merupakan salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, mencapai Rp5,2 triliun pada 2023.

Kondisi ini mencerminkan beban kesehatan masyarakat yang tidak bisa dianggap remeh, terutama karena stroke sering merupakan komplikasi dari penyakit lain yang sudah ada sebelumnya.

Di bawah ini dipaparkan beberapa penyakit yang dapat memicu stroke sebagai komplikasi.

1. Hipertensi

Hipertensi adalah salah satu penyebab utama stroke yang paling banyak diidentifikasi. Ketika tekanan darah terlalu tinggi terus-menerus, dinding pembuluh darah menjadi lebih tegang dan rapuh. Akibatnya, risiko stroke hemoragik meningkat drastis.

Selain itu, tekanan darah tinggi juga mempercepat proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding arteri yang akan mempersempit dan mengurangi aliran darah ke otak, sehingga meningkatkan risiko stroke iskemik.

Karena sering tidak menimbulkan gejala jelas sampai komplikasi serius terjadi, hipertensi sering disebut sebagai “pembunuh tanpa gejala.” Itulah sebabnya mengapa pengendalian tekanan darah melalui gaya hidup dan obat sesuai anjuran dokter sangat penting untuk mencegah stroke.

2. Diabetes

ilustrasi orang dengan diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)

Diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, melibatkan peningkatan kadar gula darah secara kronis yang merusak pembuluh darah kecil dan besar. Ini membuat pembuluh darah di otak lebih rentan terhadap sumbatan atau pecah, sehingga meningkatkan risiko stroke.

Selain itu, diabetes sering berkaitan dengan hipertensi dan kolesterol tinggi, yang juga merupakan faktor risiko besar untuk stroke. Kombo kondisi ini mempercepat aterosklerosis dan pembentukan gumpalan darah.

Karena itu, mereka yang hidup dengan diabetes disarankan untuk melakukan pengendalian gula darah yang ketat melalui diet, olahraga, dan obat bila perlu, untuk mengurangi risiko komplikasi termasuk stroke.

3. Penyakit jantung

Berbagai bentuk penyakit jantung, termasuk gagal jantung, fibilasi atrium (irama jantung tidak teratur), penyakit katup jantung, dan penyakit arteri koroner, secara langsung meningkatkan risiko stroke.

Pada fibilasi atrium, misalnya, darah tidak dipompa dengan ritme yang stabil, sehingga lebih mudah terjadi pembentukan gumpalan darah di jantung yang kemudian dapat berpindah lewat aliran darah ke otak dan menyebabkan stroke iskemik.

Begitu pula penyumbatan arteri oleh plak dari aterosklerosis jantung dapat memperlambat atau menghentikan aliran darah ke otak. Itulah sebabnya orang dengan riwayat penyakit jantung perlu evaluasi rutin terhadap risiko stroke mereka.

4. Kolesterol tinggi dan aterosklerosis

ilustrasi aterosklerosis (commons.wikimedia.org/Blausen.com)

Kolesterol tinggi, khususnya kadar LDL alias kolesterol jahat yang meningkat, menjadi faktor risiko besar untuk aterosklerosis, yakni penumpukan plak di dinding arteri.

Seiring waktu, plak yang mengeras dapat menyempitkan pembuluh darah dan menghambat aliran darah, sehingga gumpalan darah dapat terbentuk di dekat daerah tersebut. Jika gumpalan darah itu berpindah ke otak, ini akan menyebabkan stroke iskemik.

Kontrol kolesterol melalui pola makan, olahraga, dan jika perlu obat-obatan seperti statin terbukti membantu memperlambat pembentukan plak dan mengurangi risiko stroke.

5. Anemia sel sebit

Anemia sel sabit adalah kelainan darah genetik ketika sel darah merah berbentuk sabit, membuatnya lebih mudah “tersangkut” dalam pembuluh darah kecil, termasuk yang berada di otak.

Ketika sel yang abnormal ini menghambat aliran darah, area tertentu di otak kehilangan pasokan oksigen, yang dapat menyebabkan stroke iskemik. Ini terutama sering terlihat pada anak-anak dengan penyakit ini, terutama kelompok yang lebih rentan secara etnis.

Penanganan dini dan perawatan komprehensif untuk anemia sel sabit adalah kunci untuk mengurangi komplikasi seperti stroke.

6. Sleep apnea

ilustrasi pengobatan sleep apnea dengan terapi PAP (freepik.com/rawpixel.com)

Sleep apnea, gangguan tidur yang ditandai dengan henti napas sesaat berulang selama tidur, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke.

Kondisi ini memicu fluktuasi tekanan darah dan kadar oksigen yang turun secara berkala, yang berkontribusi pada stres pada pembuluh darah. Risiko ini terutama besar jika sleep apnea tidak diobati, karena dapat menyebabkan hipertensi dan gangguan jantung yang selanjutnya meningkatkan stroke.

Penanganan sleep apnea, termasuk penggunaan alat tekanan udara positif (CPAP), dapat membantu menurunkan risiko terkait.

7. Penyakit ginjal kronis dan gangguan hipertensi sekunder

Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan disfungsi dalam pengaturan tekanan darah, sehingga sering disertai hipertensi yang tidak terkontrol.

Karena tekanan darah yang tinggi adalah faktor risiko utama untuk stroke, penyakit ginjal yang memburuk dapat mempercepat timbulnya komplikasi kardiovaskular termasuk stroke.

Selain itu, penyakit ginjal kronis sering disertai gangguan metabolik seperti peningkatan kadar asam urat dan dislipidemia (kondisi ketika kadar kolesterol, LDL, HDL, atau trigliserida dalam darah di luar batas normal) yang juga berkontribusi terhadap risiko sumbatan pembuluh darah.

8. Infeksi sistemik atau peradangan kronis

ilustrasi stroke (commons.wikimedia.org/https://www.scientificanimations.com)

Kondisi peradangan kronis seperti lupus, artritis reumatoid, atau infeksi sistemik juga dapat mengganggu fungsi pembuluh darah serta memicu pembentukan gumpalan darah.

Inflamasi sistemik dapat menyebabkan kerusakan endotel (lapisan dalam pembuluh darah), mempercepat aterosklerosis atau meningkatkan kecenderungan darah membeku. Ini menjadi jalur lain di mana penyakit yang tampaknya tidak langsung berhubungan dengan otak justru berimplikasi pada risiko stroke.

Gejala stroke yang wajib kamu ketahui

ilustrasi gejala stroke (IDN Times/Novaya Siantita)

Bicara gejala stroke, ingat selalu “SeGeRa Ke RS” yang meliputi:

  • Se: Senyum tidak simetris (separo wajah turun).

  • Ge: Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba.

  • Ra: Bicara pelo atau sulit bicara.

  • Ke: Kebas separuh tubuh.

  • R: Rabun atau pandangan kabur.

  • S: Sakit kepala hebat muncul tiba-tiba.

Tanda-tanda ini muncul secara tiba-tiba dan mendadak, dan jika kamu atau orang di sekitarmu mengalaminya, segera bawa ke rumah sakit. Setiap menit berharga dalam mengurangi kerusakan otak akibat stroke.

Selain itu, gejala tambahan seperti kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, pusing hebat, atau kebingungan juga harus dianggap serius.

Cara mencegah stroke

Pencegahan stroke dimulai dari pengelolaan penyakit yang menjadi faktor risiko. Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan antara lain:

  • Kontrol tekanan darah melalui diet rendah garam, olahraga teratur, dan pengobatan dari dokter jika diperlukan.

  • Pengendalian diabetes dengan pola hidup sehat dan medikasi sesuai anjuran dokter.

  • Menurunkan kolesterol lewat diet sehat dan, jika perlu, statin.

  • Hentikan merokok dan kurangi konsumsi alkohol karena keduanya meningkatkan risiko pembentukan plak dan pembekuan darah.

  • Aktivitas fisik teratur dan menjaga berat badan sehat.

Langkah-langkah ini dapat mengurangi lebih dari 90 persen kasus stroke yang dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko.

Stroke sering kali bukan serangan otak tiba-tiba tanpa sebab, tetapi merupakan hasil komplikasi dari berbagai penyakit kronis dan kondisi medis yang telah berkembang lama. Kondisi seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung juga dapat memicu stroke.

Dengan memahami penyakit yang dapat menyebabkan stroke sebagai komplikasi dan mengenali tanda-tanda awal yang harus segera ditindaklanjuti, kamu dapat mengambil langkah preventif yang efektif. Pencegahan melalui gaya hidup sehat dan manajemen penyakit yang baik dapat menyelamatkan nyawa.

Referensi

"Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik." Kementerian Kesehatan RI. Diakses Februari 2026.

"Risk Factors for Stroke." CDC. Diakses Februari 2026.

"SeGeRa Ke RS Untuk Cegah Faktor Risiko Stroke." Kemenkes RI. Diakses Februari 2026.

“Stroke – Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses Februari 2026.

“Stroke Causes and Risk Factors.” National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Diakses Februari 2026.

Editorial Team